Biografi KH. Syair Batang

 
Biografi KH. Syair Batang

Daftar Isi Profil KH. Syair Batang

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Berdakwah dengan Manakib

Kelahiran

KH. Syair dilahirkan di Desa Plumbon, salah satu desa di kecamatan yang terkenal dengan empingnya, Limpung Batang. Beliau merupakan putra pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Salamah dan Habibah. Ayah beliau adalah Lurah Desa Plumbon.

Wafat

Setiap sore ba’da Shalat Asar tanggal sembilan bulan Ruwah (Sya'ban), orang-orang berkumpul di tempat pemakaman Desa Plumbon. Mereka duduk seraya membaca Manakib Syech Abdul Qodir al-Jaelani, dilanjutkan dengan membaca surat Yasin dan Tahlil.

Begitu kira-kira gambaran suasana haul Kiai Syair. Sebenarnya Kiai Syair wafat di hari Sabtu Legi tanggal 1 di bulan Sya'ban bertepatan dengan bulan Mei 1988 M. Hanya saja haulnya dibarengkan dengan haflah akhirussanah pesantren yang dia dirikan, biasanya tanggal sembilan sampai sepuluh bulan Sya'ban.

Menurut beberapa sumber, Kiai Syair wafat setelah mengajar santri di pagi hari. Di sela-sela mengajar, Kiai Syair merasa dadanya sesak. Awalnya beliau berusaha melanjutkan, namun akhirnya beliau menyudahinya, setelah salah satu santrinya meminta beliau beristirahat. Setelah dituntun oleh santrinya dan diantar ke kamar, tak selang lama, Kiai Syair dipanggil Sang Pencipta.

Alasan dibacakan Manakib saat haul, di samping Surat Yasin dan Tahlil, karena sewaktu hidup, Kiai Syair gemar membaca dan menggunakan Manakib sebagai materi dakwahnya, sebagaimana penuturan Kiai Manab putra pertama Kiai Syair di sela-sela haul.

Keluarga

Kiai Syair melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Amanah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai lima anak, yakni Kiai Abdul Manab, Nyai Siti Nasehah (Allahu yarhamha), Nyai Faridatul Bahiyah, Kiai Agus Musyafa' dan Kiai Sulton.

Kelima anak beliau adalah orang yang akan menuruskan perjuangan mengajar dan mendidik santri, kelima anak Kiai Syair dan Nyai Amanah ini juga aktif di Nahdlatul Ulama Kabupaten Batang.

Setelah Kiai Syair wafat, putra-putri beliau, dengan dukungan alumni dan masyarakat, menderikan Yayasan al-Syairiyyah. Sekarang yayasan ini menaungi beberapa lembaga pendidikan, antara lain Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) Takhassus. Pesantren pun berkembang, dari TPI al-Hidayah kemudian lahir Pesantren al-Ishlah, al-Banin, dan al-Amanah. 

Pendidikan

Kiai Syair memulai pendidikannya dengan belajar di Pondok yang terletak di daerah Geringsing Batang di bawah bimbingan Kiai Munasib. Kemudian beliau meneruskan menyantri di Tegalsari Kendal di pesantren milik Kiai Masyud. Saat menyantri dengan Kiai Masyud, Kiai Syair turut menjadi tentara Hizbullah, di bawah komando Kiai Masyud. 

Setelah dari Tegalsari, Kiai Syair nyantri di Gubugsari Kendal kepada Kiai Jamhuri Abdul Wahab. Dalam majalah Santri (terbit 2016) diceritakan, saat proses belajar, bekal beliau di bawah standar. Ada kisah yang relevan dalam konteks ini. 

Suatu ketika, karena sarung yang dimiliki hanya satu, saat mencuci sarungnya, Kiai Syair bersembunyi dalam air sambil mencari ikan seraya menunggu sarungnya kering. Pernah sarung Kiai Syair ini tertiup angin dan terbawa arus sungai, akhirnya Kiai Syair berendam sampai temannya datang membawakan pinjaman sarung.

Mendirikan Pesantren

Sekitar tahun 1950, Kiai Syair pulang ke rumah. Awalnya Kiai Syair mengaji bersama masyarakat di langgar (mushala) milik Kiai Ahmad Nahrawi. Sedikit demi sedikit jamaah Kiai Syair bertambah banyak. Akhirnya, pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1951, Kiai Syair mendirikan pondok pesantren bernama TPI al-Hidayah.

Kata Kiai Manab, nama pesantren Plumbon adalah pemberian Kiai Bisri Mustofa Rembang yang merupakan kakek Gus Yaqut dan Kiai Maksum Lasem. "TPI itu dari Kiai Bisri, sedangkan al-Hidayah dari Kiai Maksum" jelas Kiai Manab.

Kiai Manab juga bercerita, Kiai Bisri sering datang ke rumah Kiai Syair. Selain mengisi pengajian, Kiai Bisri juga menyerahkan karya-karyanya kepada Kiai Syair, supaya di sebarkan (dijual) ke masyarakat.

Bersama istri Nyai Amanah binti Ahmad Nahrowi, Kiai Sya'ir mengembangkan pesantren. Yang awalnya hanya berupa langgar dan rumah panggung, kemudian beliau berdua mendirikan bangunan yang sampai sekarang menjadi aula jamaah. Pada tahun 1965 juga dibangun tempat untuk santri putri. 

Berdakwah dengan Manakib

Banyak kesaksian perihal Kiai Syair dan Manakib ini. Penulis sendiri pernah berjumpa seorang kakek di sebuah  mushala. Ia bercerita tentang kenangan dakwah Kiai Syair dengan Manakib. Kegemaran Kiai Syair membaca Manakib ini masih dilestarikan oleh putra-putri Kiai Syair, para santri dan masyarakat. 

Misalnya, jamaah putri malam Ahad di rumah salah satu putri Kiai Syair yang rutin membaca Manakib. Lalu, biasanya ketika mau menempati sebuah bangunan baru, baik itu rumah atau toko tempat berdagang, juga dibacakan Manakib.

Saat Kiai Syair ngaji keliling dengan Manakib, wilayah Batang belum seperti sekarang. Dulu banyak daerah yang belum terjamah oleh listrik. Salah satu santri Kiai Syair era 60-an bercerita, kalau tiba di Limpung setelah matahari tenggelam, perlu nyali yang besar jika ingin meneruskan perjalanan ke pesantren milik Kiai Syair yang terletak di Desa Plumbon itu.

"Ada pembegal jalan yang ditakuti di area sungai petung, antara Limpung dan Plumbon," kenang Kiai Rofi'i santri asal Pemalang ini.

Santri sepuh ini juga cerita, dulu pernah menemani Kiai Syair memenuhi undangan pengajian. Kiai Sya'ir bersama beberapa santrinya berjalan dengan penerangan oncor (baca: obor). 

Sebagaimana keterangan dalam majalah Santri (terbit tahun 2016), biasanya undangan pengajian ba’da Isya'. Malahan kadang satu malam ada beberapa daerah yang mengundang pengajian, akhirnya Kiai Syair berjalan dari satu pengajian ke pengajian lain, melewati hutan dan sungai bersama beberapa santri.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya