Biografi KH. Sya’roni Ahmadi Kudus

 
Biografi KH. Sya’roni Ahmadi Kudus

Daftar isi profil KH. Sya’roni Ahmadi Kudus

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Peranan di Nahdlatul Ulama
  4. Peranan di Politik

Kelahiran

KH. Sya’roni Ahmadi dilahirkan di Kudus. Untuk tanggal lahir belum ada catatan yang menjadi rujukan kapan beliau lahir.

Pendidikan

KH. Sya’roni Ahmadi menghabiskan pendidikannya dengan belajar langsung kepada KH. Arwani Amin. Beliau diajarkan dengan berbagai disiplin ilmu keagamaan, baik dalam bidang spiritual dan intelektual. Selain itu, beliau juga dianggap selalu tepat dalam bersikap, maka produk fatwa-fatwanya bisa tampil moderat.

KH. M. Shofy Al Mubarok Baedlowie, pengasuh pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan, Jawa Tengah pernah mengungkapkan bahwa Mbah Kiai Sya’roni itu saat baca sab’ah bagai qori’ yang tak ada duanya, saat menjelaskan tafsir, seperti mufassir yang ilmunya seluas lautan, begitu pula saat beliau bicara fiqih, falak dan lain sebagainya, namun yang juga patut diperhatikan bahwa beliau tidak pernah berperilaku kontroversial, maka ia diterima siapa saja.

Peranan di Nahdlatul Ulama

Peranan KH. Sya’roni Ahmadi di Nahdlatul Ulama, beliau merupakan salah satu mustasyar PBNU. Beliau juga merupakan salah satu kiai sepuh yang multitalent. Nasihat-nasihatnya selalu diterima berbagai lapisan masyarakat baik dari kalangan NU maupun di luar NU.

Dalam hal bernegara, ulama kharismatik ini termasuk orang yang bersuara lantang menyuarakan pentingnya nasionalisme bagi warga NU. Hal ini bisa dilihat dalam berbagai orasi ceramahnya di berbagai tempat.

"NU harus membela NKRI selamanya. Jika tidak, NU bisa dikatakan sebagai pengkhianat terhadap resolusi jihad," contoh kata tegas Kiai Sya’roni saat menyampaikan mauidzoh hasanah dalam acara grand launching Kartu Tanda Anggota (Kartanu) di Kudus beberapa waktu lalu.

Peranan di Politik

Dalam bidang politik, KH. Sya’roni Ahmadi merupakan sosok yang tidak terjun secara struktural dalam kancah politik praktis. Ini merupakan elemen penting yang patut dipertimbangkan secara matang bagi public figur sekelas Kiai Sya’roni untuk masuk sebagai Ahlul Halli wal Aqdi.

“Mbah Sya’roni itu piantun (orang) yang lepas dari agenda kepentingan politik praktis. Politik yang dipakai beliau adalah politik kemasyarakatan dan kerakyatan, jadi Beliau bisa mengayomi serta diterima semua pihak,” imbuh KH. M. Shofy Al Mubarok Baedlowie.