Neraka dan Surga di Genggaman Tangan Kita

 
Neraka dan Surga di Genggaman Tangan Kita
Sumber Gambar: Koleksi Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - HootSuite sebagai layanan situs manajemen konten yang memberikan gambaran dan trend pada internet dan media sosial. Diketahui bahwa di Tahun 2019 Indonesia peringkat ke-4 dunia dalam penggunaan Facebook. Pada Tahun 2021 pengguna media sosial di Indonesia mengalami pergeseran seiring muncul aplikasi dan Platform baru yang dipandang lebih menarik seperti Youtube, Whatsapp dan Instagram. Pengguna media sosial di Indonesia mengakses terbanyak YouTube kemudian WhatsApp diikuti Instagram pada posisi ketiga dan Facebook pada peringkat ke empat.

Baca juga: Khutbah Jumat: Menapaki Jalan yang Benar Menuju Surga

Pengguna Internet di Indonesia ada sekitar 174 juta sedangkan media sosial 160 juta, jadi sekitar 60% dari penduduk Indonesia yang aktif menggunakan media sosial. Dalam hitungan seluruh dunia maka pengguna internet sekitar 4,5 miliar. 3,5 milyarnya merupakan pengakses media sosial. Rata-rata dalam sehari seseorang menghabiskan waktunya 7 jam dalam mengakses internet sedangkan media sosial diakses sekitar 3 jam per hari.

Disinilah peluang dakwah untuk digelorakan melalui ruang media sosial. Menjadi nilai positif sekaligus potensi besar dari media sosial salah satunya yaitu banyak konten-konten inovatif dakwah seperti tulisan, vlog, infografis, meme dakwah juga materi pembahasan yang biasanya hanya bisa kita temui di pesantren hanya bisa kita temui di majelis taklim sekarang bisa kita akses dimanapun melalui media sosial. Ini menambah warna dakwah dengan tanpa menghilangkan pembelajaran konvensional yang dilakukan di pesantren, surau, ataupun majelis-majelis.

Dalam teori yang dipopulerkan Habermas ada pergeseran pola komunikasi dan interaksi manusia dari face to face ke cyberspace. Ini korelatif dengan pandangan Marc Prensky ada dua generasi di era digital yaitu  Digital Natives dan Digital Immigrant. Hal ini membawa dampak yang bermacam macam dan menjadi tantangan dakwah tersendiri. Sebagian remaja terbawa virus Fast Food Culture and Fun behavior of hedon .

Baca juga: Dua Amalan Surga yang Banyak Ditinggalkan

Tantangan dakwah dan dinamika sosial juga terjadi di media sosial. Sering kita lihat dan membuat gejolak utamanya komentar dan vonis sebagian para netizen yang merasa paling benar. Ini tidak bisa disalahkan karena  isu-isu yang ada, muncul dan keluar yang harusnya di konsumsi dan dibahas di kalangan elit, sekarang menjadi pembicaraan umum bahkan langsung muncul sepersekian detik di genggaman tangan kita masing-masing.

 Semua bisa mengakses permasalahan permasalahan terhangat seputar dunia dan Indonesia seperti vaksin, kasus korupsi, terorisme dll. Pembicaraan itu tidak hanya di ruang media sosial tetapi juga sering kita temui di warung, kafe yang bisa berdampak positif maupun negatif secara sosial kemasyarakatan.

Baca juga: Sayyidul Istighfar: Amalan Doa Agar Masuk Surga

Maka perlu etika dan akhlak dalam bermedia sosial. Suatu saat bukan tidak mungkin jempol kita akan bersaksi terhadap apa yang kita like, komentar yang ditulis, membuat status, apa yang kita share di media sosial.  Jadi kadang kecepatan kita dalam tabayun terhadap sebuah informasi itu kalah cepat dengan jempol kita untuk men-share berita. Dalam Ilmu pesantren itu ada mustholah hadits ilmu yang bisa memverifikasi apakah hadits ini shohih, Hasan, dhaif. Memang perlu ilmu dan alat untuk memverifikasi berita mana yang tergolong benar ataupun salah. Elemen Berita, Cek Gambar dengan aplikasi juga sumber berita bisa jadi alternatif untuk melihat kebenaran sebuah berita.


Berkembangnya dakwah kuncinya adalah informasi yang tepat dan benar tanpa tipu daya atau kepentingan tertentu. Tidak hanya pesannya yang benar tetapi juga cara menyampaikannya yang tepat. Seperti kisah Nabi Adam yang dilarang Alloh mendekati pohon Quldi wala taqroba hadihis sajaroh, tetapi setan membuat informasi yang berbeda (tipu daya) dengan mengatakan kepada Nabi adam, memakan buah Quldi membuat tidak akan rusak dan mencapai keabadian mulkin la yabla.

“ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Maka tabayun pada sebuah informasi itu sangat penting. Upload karya tulis, foto, dan audio visual yang memberi nilai manfaat bagi kita dan juga banyak orang lain. Ini perlu menjadi perhatian dan kebiasaan agar apa yang kita bagikan bernilai dakwah dan manfaat.

Media sosial sangat penting sebab jika kita mampu menguasai media sosial berarti sama saja dengan kita menguasai dunia. Karena dari situlah informasi ditelan, direspon, mempengaruhi tingkah laku manusia dan memberi dampak bagi dunia.

Orang yang mudah emosi sangat berbahaya dalam bermedia sosial, karena jika diibaratkan sama seperti ikan yang berenang di  air yang dangkal, melompat lompat, yang akhirnya bisa terluka bahkan  mati. Teriak kesana kemari, share setiap informasi yang masuk tanpa filter, ini sangat membahayakan. Maka dari sini pentingnya sabar dan tabayun dalam menerima sebuah informasi agar tidak mencelakakan kita sendiri dan orang lain.

Wal tandhur nafsun ma qoddamat lighot berpikir kedepan yang lebih baik buat diri kita dan orang lain. Jika ada ular disamping kita dan ada teman yang memberi tahu kita ada ular di samping kita. Maka siapa yang akan kita pukul?? Teman kita atau ularnya??. Pasti jawabannya ular yang akan kita pukul. Sama halnya saat ada kritik buat diri kita di media sosial atau di dunia nyata maka yang kita lakukan memperbaiki diri, bukan melakukan pembenaran pembenaran, menyangkal atau balas menghina. Dari sini kita belajar untuk fokus memperbaiki diri dan bermanfaat untuk banyak orang.

Di era digital ini memang ada ungkapan menarik yaitu “Terlahir dari manusia diasuh oleh sosial media” ini jadikan catatan penting juga, bahwa statement itu bukan menjadi sebuah konklusi tetapi ini adalah nilai kritik. Saya ulangi terlahir dari manusia diasuh sosial media ambil statement ini itu bukan sebuah simpulan bukan sebuah konklusi tetapi sebagai nilai kritik bahwa kita harus dan tidak tergantung oleh sosial media. Maka dakwah di sosial media itu sebagai alternatif yang baik bahkan sangat baik tetapi jangan melupakan dakwah dengan pertemuan secara tatap muka.

 Nadzrul Alim Ibadatun melihat orang alim itu juga ibadah. Melihat dengan mengharapkan ridho Alloh dan perasaan yang menyenangkan. Salah satu poin penting agar kita dan anak-anak kita utamanya, tidak tergantung pada sosial media sehingga terbangun mentalitas kepekaan sosial dan juga psikologisnya untuk menjadi kader-kader dakwah yang luar biasa dan membangun kejayaan islam kedepannya.

Bukan dunia di genggaman kita tetapi pilihan bahwa surga dan neraka itu ada di genggaman kita. Sama seperti kita melompat ke sungai sudah basah dengan air, kita masih mencari air, itu hal yang sangat lucu. Lawong wes neng Donyo kok golek Donyo maka urgensinya di dunia ini kita menyiapkan bekal untuk akhirat. Sisihkan waktu sekian menit sekian jam untuk berdakwah di media sosial karena yang kita temukan di akhirat nanti itu jejak-jejak digital jejak jejak kehidupan yang menjadi saksi, yang membawa nilai kebaikan kepada umat manusia dan yang memberatkan timbangan amal kebaikan kita di akhirat nanti.

Muhammad Hasan Asy-Syaibani  salah seorang guru dari Imam Syafii mengingatkan pentingnya harta kekayaan sebagai alat untuk berdakwah. Jangan sampai umat Islam dalam kemiskinan sehingga kesulitan untuk berdakwah sedangkan orang yang keras hatinya, fasiq ataupun kafir berlomba untuk kaya dan menebar kemaksiatan dengan kekayaannya. Media Sosial punya peran yang sama, umat Islam harus ahli dan menguasai jagat media sosial dengan diisi konten konten dakwah sehingga memberi kabar kedamaian, menyejukkan dan meningkatkan Ilmu, Iman dan Akhlaq umat Islam.

Penulis telah melakukan banyak hal kecil dalam dakwah seperti mendampingi TPQLB Yayasan Spirit Dakwah Indonesia yang berkembang di Tulungagung, Yogyakarta, Sleman dan Banyuwangi. Kerjasama Dakwah Virtual dengan BBS TV dan MoveTV Indonesia di Ramadhan tahun 2021 ini.

Materi yang disajikan dalam acara International Webinar Center For The Study Of Digital Intelligence, Faculty Of Dakwah And Communication, Islamic State University Of Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam tema Rahmatan Lil Alamin's Islamic Da'wah through Social Media: Challenge and Opportunities. Pada hari Selasa, 20 April tahun 2021.