Fanatikku Hanya Untuk NU

 
Fanatikku Hanya Untuk NU
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta – Dalam riwayat pendalaman Islam, sempat juga saya terpukau dan terkagum-kagum pada aliran Islam Modernis. Suatu aliran Islam yang bersandarkan sangat kuat pada progresivisme dan liberalisme dalam tradisi Intelektual Barat.

Dulu secara intelektual saya sangat terpukau karena di situ kemajuan berfikir dan kebebasan berfikir benar-benar dijunjung dengan cukup tinggi, tetapi uniknya tanpa meninggalkan ruh keislaman sama sekali. Bahkan atmosfer yang egaliter, non sektarian, anti feodal, dan anti keramatisme nasab menjadi jargon yang amat seksi untuk dibenturkan dengan kultur Islam Tradisional.

Tetapi bagaimanapun jalan penyelaman keislaman masing-masing setiap pribadi itu memang unik, beragam, dan tidak harus sama. Seperti halnya pula dengan saya. Kini pemikiran keislaman saya pun juga akhirnya berubah dengan cukup total. Dan itu dimulai ketika saya membaca dengan cukup banyak sejarah pergolakan bangsa Indonesia ini, terutama ketika saya membaca profil-profil para penghianat bangsa.

Orang-orang yang dulunya memang tokoh pergerakan nasional yang berjuang dan memikirkan nasib kemerdekaan bangsa ini, tetapi karena ambisi kuasa dan sakit hati karena kefanatikan ideologi ilusifnya yang tidak membumi dan tidak diterima masyarakat secara luas. Akhirnya mereka memilih makar dan merongrong kekuasaan negara yang sah dengan segala kelicikan dan segala cara.

Seperti Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo yang mengkonsep NII (Negara Ilusi Idiot) yang bertopengkan agama Islam, hingga akhirnya berhasil mencuci otak sebagian dari laskar Hizbullah dan Sabilillah yang ada di Jawa Barat untuk menjadi pasukan pendukungnya.

NII yang pernah membunuh rakyat, kaum muslim awam, ulama, dan tokoh NU, serta juga membakari masjid dan pesantren NU di Jawa Barat yang tidak mau mendukungnya ini memang murni suatu gerakan kriminal yang menggunakan topeng agama.

Kartosuwiryo yang punya latar belakang seorang jurnalis dan politikus ini memang piawai dalam permaianan cuci otak dan propaganda hoaks. Bahkan gerakan NII yang dideklarasikannya pada tahun 1949 itu juga merupakan cikal bakal terorisme bertopeng agama yang pertama ada di Indonesia. Dan NII pun masih eksis hingga saat ini dengan gerakan-gerakan di bawah tanah, seperti mendirikan yayasan-yayasan yang mengatasnamakan anak yatim piatu untuk kedok penipuan mendapatkan sokongan proposal dana dari berbagai pihak, baik eksternal maupun internal.

Jadi, saudara-saudara sebangsa saya yang membaca tulisan ini, mohon berhati-hatilah jika saudara mau berzakat, berinfaq, maupun bersedekah jangan sampai terjebak masuk dalam kantong aliran teroris yang mengancam keamanan negeri kita tercinta ini.

Jika mau aman pilihlah bersedekah pada kotak amal/kotak infaq yang jelas-jelas ada tulisan dan logo resmi LazizNU (milik Nahdlatul Ulama) atau LazizMU (milik Muhammadiyah), insyaAllah, kedua lembaga ini benar-benar amanah dalam menyalurkan Zakat, Infaq, dan Sedekah panjenengan-panjenengan semua. Dan yang terpenting tidak jatuh dalam penyaluran dana gerakan terorisme, karena kalau uang panjenengan sampai jatuh untuk pendanaan teroris kelompok Abu Bakar Ba'syir apa panjenengan semua ikhlas dan ridho?

Seperti diketahui, gembong teroris Abu Bakar Ba'syir itu pun juga salah satu hasil didikan NII yang sampai dikuliahkan ke Afghanistan untuk belajar ilmu terapan terorisme, seperti siasat tempur, strategi kontra intelijen, merakit bom, dan semacamnya.

Nah, dengan membaca sejarah bangsa ini, sejarah dari negara yang saya cintai ini yang di mana di awal-awal berdirinya, di kala negara ini masih berusia balita yang semestinya setiap elemen bangsa saling mendukung dan bersatu menguatkan untuk membawa kemajuan dan perkembangan di negara yang masih sangat mungil, ternyata malah sebagian elemen bangsa ada yang bisa-bisanya berhianat dan menjadi benalu nasional seperti beberapa kalangan komunis atau yang bertopeng agama seperti Kartosuwiryo itu.

Melihat riwayat NKRI yang selalu gencar diwarnai pemberontakan-pemberontakan separatis dan siasat-siasat politik yang licik dari kelompok delusif radikal yang mendompleng nama Islam. Di situ bandul pendulum keterpesonaan dan kekaguman saya secara agama akhirnya berbalik lagi kepada NU, kepada Islam Tradisionalis.

Karena berdasarkan pembacaan dan pengamatan saya, corak Islam yang mendaku Modernis itu ternyata tidak cukup responsif dan bahkan cenderung lemah dalam perang wacana menghadapi penggila negara delusif yang mengatasnamakan Khilafah Islam itu.

Padahal secara wacana dan literatur keislaman (Al Qur'an dan Hadits), gerakan mereka yang sangat tidak berdasar itu mudah sekali untuk disangkal dan dipatahkan. Sebab tidak lain hanyalah angan-angan kosong atau gerakan khilafah palsu yang menafsirkan ajaran Islam tanpa kedalaman ilmu dan seenak keinginan nafsu mereka saja.

Lalu kenapa saya kembali kepada NU, kepada Islam Tradisionalis dan menemukan beberapa percikan kesadaran yang baru? Sebab di Islam Tradisionalis, seperti NU, komitmen kebangsaan mereka di sini sangat jelas dan lugas. Jadi jangankan hanya dengan perang wacana pemikiran, bahkan perang berhadapan langsung head to head mereka pun sangat siap dan sigap.

Dibuktikan dengan adanya pasukan Banser yang berjiwa "nasionalis relligius humanis" yang gagah berani dalam menghalau mereka yang anti NKRI dan yang intoleran terhadap adanya keragaman pluralis.

Juga dibuktikan dengan adanya lagu cinta tanah air dan mars kebanggan Nahdliyin "Syubhanul Wathan" ciptaan KH Wahab Chasbullah yang sangat menggetarkan dinding batin siapapun yang berjiwa nasionalis.

Meski dengan siasat politik kebangsaan yang demikian, NU seringkali dituduh dan disalahpahami sebagai sektarian dan menjaga jarak dengan pergerakan umat Islam yang lain. Bahkan NU dituduh sebagai pragamatikus politik yang kerapkali sudi diperalat penguasa negara.

Jujur saja, saya pun adalah kader NU yang sempat terguncang Ke-NU-an saya dan dulu sempat menilai NU dengan pikiran yang sedemikian lugu dan naif seperti itu.

Tetapi ketika saya benar-benar menyadari potensi musuh yang mengepung NKRI dan juga massifnya propaganda wahabi khawarij dalam menghancurkan aqidah Islam Aswaja yang Rahmatan lil alamin, maka memang sudah semestinya dan adalah tepat sekali jika kaum Islam Tradisionalis NU, yang dipelopori oleh Mbah Wahab Chasbullah juga bersiasat mengambil jalan politik praktis.

Sebab bagaimana melawan siasat licik dari kaum radikalis delusif yang menghalalkan segala cara, jika kita kaum Islam Moderat tidak mahir juga bermain siasat cerdik lewat jalur politik?

Dan dari situ pula saya akhirnya memahami, kenapa ndoro Habib Luthfi Pekalongan, juga Singa NU Jawa Barat (Sayyid Seif Alwi), atau bahkan seluruh habaib, para kyai, dan alim ulama NU sangat menekankan kefanatikan terhadap NU dan NKRI.

Juga kefanatikan dalam hal ini tidak masuk dalam kategori kritik KH Ahmad Dahlan, "bahwa fanatik adalah ciri orang bodoh."

Melainkan malah sebaliknya, "Orang NU yang tidak fanatik terhadap NU dan NKRI adalah ciri orang bodoh."

Sebab bagaimana bisa dikatakan orang yang cerdas, jika kita apatis dan sama sekali tidak tanggap (secara fanatik) terhadap ancaman "keagamaan" dan "kenegaraan" dari gerakan-gerakan kelompok radikal delusif yang jelas-jelas sudah terpampang di depan mata?

Saya kini mendeklarasikan diri sebagai orang yang fanatik 100% terhadap NU, fanatik 100% terhadap NKRI beserta muatan luhur ideologi Pancasilanya.

Mengutip Gus Dur, "Pancasila bukan agama, tidak bertentangan dengan agama dan tidak digunakan untuk menggantikan kedudukan agama."

Jadi sebagai kesimpulan; cuma orang bajingan saja yang membenturkan NKRI atau Pancasila dengan Agama!

Jika dahulu Imam Al Ghazali dikenal sebagai Hujjatul Islam (Pembela Islam).

Maka saya, Alvian Fachrurrozi, sebagai Gusdurian dan prajurit Banser juga ingin membaktikan diri sebagai Hujjatul Nahdliyin (Pembela Nahdlatul Ulama).

Untuk kalian yang bertuhankan intoleranisme terhadap keragaman, yang beragamakan takfiri yang mensesat-sesatkan dan mengkafir-kafirkan di luar kelompok kalian, yang delusif menggilai negara khilafah sesuai tafsir ngawur kalian, "Saya sampai kapanpun memang tidak ditakdirkan untuk menjadi teman atau sekutu dari kalian!".

Ngawi, 2 Juni 2021

 

Oleh: Alvian Fachrurrozi