Ketum PBNU: Sekarang Sedang Perang Besar, Kita Akan Didikte

 
Ketum PBNU: Sekarang Sedang Perang Besar, Kita Akan Didikte
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta – Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil Siradj menjelaskan bahwa di dunia saat ini sedang terjadi lima perang besar yang melibatkan seluruh negara termasuk Indonesia. Beliau mengatakan bahwa setidaknya, Indonesia harus mampu memenangi lima perang besar yang terjadi. Salah satu perang besar yang harus dimenangi Indonesia adalah perang biologi dan vaksi, yang terjadi semenjak pandemi Covid-19 berlangsung.

Pernyataan beliau tersebut disampaikan pada acara Haul Emas KH. Wahab Chasbullah yang ditayangkan secara virtual, melalui 250 channel youtube yang tergabung dalam Asosisasi Youtuber Santri Indonesia (ASYI) pada, Selasa (22/6/2021). Dilansir dari Detiknews, beliau mengatakan bahwa perang saat ini bukan lah perang fisik, melainkan perang non-fisik.

“Ini bukan perang fisik, tapi perang ini dapat merebut, menguasai, mengubah cara berpikir masyarakat sehingga pada akhirnya suatu bangsa akan tunduk dan tergantung pada bangsa lain, bukan perang fisik, tapi perang pengaruh, perang peradaban,” kata Kiai Said.

Beliau melanjutkan, bahwa perang besar pertama adalah perang kebudayaan, di mana seluruh aktivitas sosial media masyarakat Indonesia selalu disajikan konten-konten budaya luar. Itu terjadi dari bangun tidur sampai tidur lagi.

“Jadi cucu saya yang kecil sudah itu pegangannya dilarang sudah tidak bisa lagi, sulit untuk dilarang, paling-paling diarahkan sedikit bisa,” ujar Kiai Said.

Selanjutnya ialah perang difital, di mana seluruh dunia berlomba-lomba menguasai digital agar tidak tunduk pada negara lain. Perang ini terjadi seiring dengan mulainya era industri 4.0. Di mana pada era ini terjadi perubahan teknologi-teknologi industry bersifat internet atau biasa dikenal dengan digitalisasi.

“Semua negara memproduksi platform digital untuk menciptakan ketergantungan dan memotret perilaku dan algoritma bangsa lain agar selalu dalam kendali,” kata beliau.

Pada era pandemic Covid-19 ini, lahir perang besar di mana negara-negara besar berlomba-lomba menciptakan vaksin covid. Perang pada era ini adalah perang biologi dan vaksin, mereka yang hanya menjadi importir akan kalah dalam peperangan ini.

“Kemudian dengan adanya COVID-19 ini ada perang baru, perang biologi, apa? Perang vaksin. Negara yang mampu memproduksi vaksin akan jadi pemenang dalam perang ini. Negara yang tidak mampu, hanya mengimpor saja, itulah negara yang kalah," ujar Kiai Said.

Beliau juga mengungkapkan dampak terhadap kebijakan dari perang biologi ini. Negara yang kalah akan didikte oleh negara yang menang dalam medan tempur.

“Sekarang sedang ada perang biologi, di mana penguasa industri kesehatan, vaksin misalkan, menjadi panglima yang dapat menguasai dan mempengaruhi kebijakan suatu negara. Kita akan didikte oleh negara yang memproduksi vaksin," lanjut beliau.

Berdasarkan perkembangan Virus Corona, saat ini sudah banyak muncul varian baru dari virus corona. Bangsa Indonesia bahkan belum menciptakan vaksin sendiri.

“Itu membutuhkan vaksin yang lebih canggih lagi, lebih canggih lagi. Kita belum mampu membuat vaksin yang tahap pertama, penyakitnya atau pandeminya sudah meningkat ke level ketiga,” kata Kiai Said.

“Ini akan terjadi perang vaksin, Amerika, Jerman, RRC Tiongkok. Ini terjadi perang vaksin, kita ini hanya jadi penonton, bisanya cuma importir, itu pun apakah uangnya dapat dari utang atau dari mana, nggak tahu saya atau dapat dari potong-potong anggaran barangkali," lanjut Kiai Said.

Namun, Kiai Said berharap agar dampak yang terjadi, tidak seburuk yang dibayangkan. Beliau juga mengajak masyarakat, khususnya warga, nahdliyin untuk terus berdoa demi kebaikan bangsa Indonesia.

“Mudah-mudahan semuanya kita hanya mampu berdoa, mudah-mudahan tidak separah, tidak sebahaya yang kita bayangkan. Tapi jelas kita akan didikte oleh negara yang punya vaksin, jelas. Sejauh mana pengaruhnya? itu kita lihat nanti,” harap belau.

Perang terakhir adalah perang makanan, air, dan energi. Negara yang mampu menguasai tiga hal tersebut mampu menjadi penguasa global.

“Itulah gambaran globalisasi memasuki era 5.0, bukan lagi 4.0, nah ini bagaimana kita caranya tidak ketinggalan dalam hal ini,” tutup beliau.


Editor: Daniel Simatupang