Biografi Prof. Dr. (H.C.) KH. Ma'ruf Amin

 
Biografi Prof. Dr. (H.C.) KH. Ma'ruf Amin

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren 

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Karya, dan Karir
4.1       Jasa-jasa Beliau
4.2       Karya-karya Beliau
4.3       Karier Beliau

5          Teladan Beliau

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1        Lahir

Prof. Dr. (H.C.) KH. Ma'ruf Amin dilahirkan di Desa Kresek di wilayah Tangerang, Banten pada tanggal 1 Agustus 1943.  Dari silsilah keluarga KH Ma’ruf Amin merupakan keturunan dari ulama besar asal Banten yang pernah menjadi imam Masjidil Haram bernama Syeikh An Nawawi Al Bantani.

Masa kecil KH. Ma'ruf Amin lebih banyak dihabiskan di desa Kresek, Tangerang. Ayahnya yang bernama KH. Mohammad Amin merupakan seorang ulama besar Banten.

Aktifitas KH. Ma'ruf Amin sewaktu kecil diwaktu pagi beliau habiskan bersekolah di SD. Dan sorenya, beliau habiskan belajar mengaji di Madrasah Ibtidaiyah. Diketahui  KH. Ma'ruf Amin sempat belajar agama selama beberapa bulan di Pesantren Citangkil, Silegon, Banten milik KH. Syam’un Alwiah.

1.2       Riwayat Keluarga

KH. Ma'ruf Amin menikah dengan Siti Huriyah yang juga berasal dari keluarga ulama pada tahun 1963. Pada tahun 2013, istri beliau Siti Huriyah wafat. Setelah itu beliau menikah dengan Wury Estu Handayani pada tahun 2014.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Di usia 12 tahun, KH. Ma'ruf Amin pergi belajar ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur pada tahun 1955. Pesantren ini banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama besar dari kalangan NU. Pendidikan KH. Ma'ruf Amin di pesantren Tebu Ireng dimulai dari dasar. Setelah selesai menimba ilmu di pesantren Tebu Ireng, KH. Ma'ruf Amin melanjutkan pendidikannya di Jakarta tepatnya di SMA Muhammadiyah. Namun pendidikannya itu beliau tidak selesaikan.

KH. Ma'ruf Amin memilih kembali ke Banten dan lebih mendalami agama islam di berbagai pondok pesantren lagi. Mulai dari Pesantren Caringin, Labuan, Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang.

Pendidikan KH. Ma'ruf Amin sewaktu beliau kecil hingga masa muda adalah:

  1. SR Kresek, Tangerang (1955)
  2. Madrasah Ibtidaiyah Kresek, Tangerang (1955)
  3. Madrasah Tsanawiyah Pesantren Tebuireng, Jombang (1958)
  4. Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang (1961)
  5. Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Chaldun, Bogor (1967)
  6. Pesantren Tebu Ireng
  7. Pesantren Caringin, Labuan
  8. Pesantren Petir, Serang
  9. Pesantren Pelamunan, Serang.

2.2       Guru-Guru Beliau

Guru KH. Ma'ruf Amin saat beliau belajar masih muda adalah:

  1.  KH. Syam’un Alwiah 
  2.  KH. Abdul Kholik Hasyim
  3.  KH. Idris Kamali 

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren 

KH. Ma'ruf Amin mendirikan dan mengasuh Pesantren An Nawawi Tanara (PENATA) di Serang, Banten pada tahun 2001,  beliau menginginkan pesantren ini bisa menjadi tempat untuk melahirkan ulama, khususnya para ahli fikih.

3          Penerus Beliau

3.1       Anak-anak Beliau

Anak-anak beliau yang menjadi penerus beliau adalah:

  1. Siti Mamduhah
  2. Siti Najihah
  3. Siti Nur Azizah
  4. Ahmad Syauqi
  5. Ahmad Muayyad
  6. Siti Hannah
  7. Siti Haniatunnisa

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren  An Nawawi Tanara

4          Jasa, Karya, dan Karir

4.1       Jasa-jasa Beliau

Keahliannya dalam ilmu agama, mengantarkan KH. Ma'ruf Amin hingga menyandang dua jabatan yang sangat penting, yakni Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Rais 'Aam Nahdlatul 'Ulama. Saat di MUI, KH. Ma'ruf Amin mengeluarkan 25 fatwa tentang ekonomi syariah sejak 2015. Di antaranya, terkait Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah, Pedoman Penyelenggaraan Jaminan Sosial Kesehatan Syariah, hingga soal Uang elektronik Syariah.

4.2       Karya-karya Beliau

Buku karya KH. Ma'ruf Amin adalah:

  1. Prospek Cerah Perbankan Syariah (2004)
  2. Meluruskan Makna Jihad, mencegah terorisme (2006)
  3.  Melawan Terorisme dengan Iman (2007)
  4. Fatwa dalam Sistem Hukum Islam (2008)
  5. Produk Halal: Melindungi dan Menentramkan (2010)
  6. Harmoni dalam Keberagaman: Dinamika Relasi Agama-Negara (2011)
  7.  Era Baru Ekonomi Islam Indonesia: Dari Fikih ke Praktek Ekonomi Islam (2011)
  8.  Fatwa Empat Bingkai Kerukunan Nasional (2013)
  9.  Pembaharuan Hukum Ekonomi Syariah (2013)

4.3       Karier Beliau

Perjalanan karier beliau saat beliau masih muda hingga sekarang adalah:

  1. Ketua GP Ansor, Jakarta (1964–1966)
  2. Ketua Front Pemuda (1964–1967)
  3. Ketua NU, Jakarta (1966–1970)
  4. Wakil Ketua Wilayah NU, Jakarta (1968–1976)
  5. Anggota Koordinator Da'wah (Kodi), Jakarta (1970–1972)
  6. Anggota Bazis (Badan amil zakat, infaq, dan shadaqah), Jakarta (1971–1977)
  7. Ketua Dewan Fraksi PPP (1973–1977)
  8. Anggota Pengurus Lembaga Da'wah PBNU, Jakarta (1977–1989)
  9. Ketua Umum Yayasan Syekh Nawawi Al Bantani (1987)
  10. Katib Aam Syuriah PBNU (1989–1994)
  11. Anggota MUI Pusat (1990)
  12. Rois Syuriah PBNU (1994–1998)
  13. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (1996)
  14. Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) (1996)
  15. Ketua Dewan Syuro PKB (1998)
  16. Mustasyar PBNU (1998)
  17. Anggota Komite Ahli Pengembangan Bank Syariah Bank Indonesia (1999)
  18. Ketua Komisi Fatwa MUI (2001–2007)
  19. Mustasyar PKB (2002–2007)
  20. Ketua Harian Dewan Syariah Nasional MUI (2004–2010)
  21. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (2007–2014)
  22. Ketua Umum MUI (2015–2020)
  23. Wakil Presiden Republik Indonesia (2019–Sekarang)
  24. Ketua Harian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (2020–sekarang)
  25. Ketua Dewan Pertimbangan MUI (2020-sekarang)
  26. Guru Besar Ilmu Ekonomi Syariah Universitas Islam Nusantara, Bandung
  27. Wapres 2019-2024

5          Teladan Beliau

KH. Ma’ruf Amin tidak hanya diakui secara kultural berkat dakwahnya yang menyapa seluruh lapisan masyarakat, lintas ormas dan partai, namun juga secara struktural, beliau ketua MUI pusat yang diakui ketegasan dan kebijakannya dalam menghadapi berbagai persoalan keagamaan, keumatan, dan kebangsaan.

Tentu kebanggaan kita terhadap beliau dapat diaktualisasikan dalam bentuk penghormatan terhadap institusi yang beliau nahkodai, melaksanakan semua pesan dan fatwanya, serta siap membela setiap sikap dan langkah beliau. Umat yang demikian beragam membutuhkan sosok pemersatu ‘muwahhid’ yang mampu membaca harapan umat dengan baik

 

    

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya