Ragam Keunikan Maulid Nabi di Sulawesi Selatan

 
Ragam Keunikan Maulid Nabi di Sulawesi Selatan
Sumber Gambar: Foto Ist

Laduni.ID, Jakarta - Perayaan Maulid Nabi Muhammad saw, merupakan salah satu fenomena sosial keagamaan masyarakat di Indonesia. Perayaan maulid menggambarkan eksistensi budaya lokal yang sarat dengan nuansa keagamaan dan diwariskan secara turun-temurun pada suatu masyarakat. Perayaan maulid merupakan manisfestasi rasa kecintaan kepada Nabi dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikannya sebagai wasilah untuk membersihkan diri dan memurnikannya.

Baca juga: Di Sumenep, Gus Mus Sebut Maulid Nabi dan Haul Itu Bid’ah

Menyebarkan ajaran agama kepada orang-orang awam adalah perkara sulit. Karena itu dibutuhkan cara yang paling efektif untuk bisa menyampaikan ajaran itu kepada setiap orang. Maudu Lompoa adalah perayaan yang dilakukan oleh masyarakat Gowa untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Perayaan ini sebagai salah satu wadah untuk menanamkan pengetahuan dan rasa cinta terhadap Nabi Muhammad saw, hingga sekarang ajaran tersebut masih dipertahankan. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan, penduduk asli suku Makassar telah menganut kepercayaan anisme dan dinamisme. Kepercayaan animisme mengarah kepada penyembahan roh-roh nenek moyang yang mereka anggap bersemayam di batu besar, pohon-pohon yang besar, seperti gunung, batu dan benda-benda lainnya yang disakralkan. Setelah menjadi penganut Islam, perlahan-perlahan penduduk meninggalkan kepercayaan lama.

Baca juga: Keistimewaan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Akan tetapi bagi masyarakat yang hidup di desa-desa belum dapat meninggalkan sepenuhnya unsur-unsur kepercayaan lama yang bersumber dari 62 warisan nenek moyang, dalam sehari-hari adat dan tradisi tetap diwarnai oleh unsur kepercayaan lama. Maulid membawa pengaruh tersendiri pada masyarakat Gowa, baik dari segi aqidah dan maupun sosialnya. Dilihat dari segi aqidah, mereka pendekatan diri kepada Allah dan Rasulnya semakin dekat.

Sedangkan dari segi sosialnya, tercermin ukhuwah Islamiyah yang kental, meski masih banyak perbedaan pendapat di kalangan masyarakat muslim tentang maulid yang mengatakan bid’ah karena tidak adanya dalil dan hadis yang meriwayatkan, ini semata-mata dilakukan atas bentuk kecintaan kepada Rasulullah bukanlah hal yang salah menurut masyarakat Gowa. Segala macam bentuk budaya dan tradisi masyarakat setempat sangat dijaga dengan baik dan tetap dilestarikan. Bentuk tradisi merupakan identitas suatu daerah dan sebagai ciri khas daerah tersebut. Sehingga dari tradisi peringatan maulid nabi tersebut, diharapkan bisa mewarisi akhlak Nabi Muhammad saw.

Makna Maulid Tradisi Maudu Lompoa

Di Gowa Hal yang menarik dan unik dari perayaan Maudu Lompoa di Gowa adalah hadirnya kanre maudu yang diyakini sebagai sebagai simbol yang terkandung dalam empat komponen yaitu syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat. Empat komponen tersebut disimbolkan dengan empat macam bahan makanan, yaitu: Padi/beras sebagai simbol tubuh manusia, ayam sebagai simbol ruh manusia, kelapa sebagai simbol hati manusia, dan telur sebagai simbol rahasia manusia. Keempat bahan inilah yang wajib ada dalam pelaksanaan maudu lompoa yang di selenggarakan oleh masyarakat Gowa. Keempat macam bahan tersebut sangat erat kaitannya dengan perayaan maudu lompoa. Konsep tersebut diartikan bahwa perayaan maudu lompoa adalah suatu wujud memperingati Nabi Muhammad saw.

Proses Perayaan Maudu Lompoa di Gowa

Di kalangan Masyarakat Gowa terdapat kegiatan sosial budaya yang menjadi kebiasaan yang di lakukan secara besar-besaran dalam perayaannya, yaitu perayaan ”maudu lompoa”, perayaan ini ditujukan oleh masyarakat Gowa untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Asal mula perayaan maulid dilaksanakan di Gowa awalnya dilaksanakan oleh kerajaan Gowa sebagai proses penyebaran Islam pada masa itu, sebagai bentuk penyebaran Islam maulid dilakukan secara meriah sebagai salah satu metode yang bertujuan menarik perhatian masyarakat untuk datang dan berkumpul.

Baca juga: Maulid Nabi, Momen Memaknai Shalawat dalam Kehidupan

Dalam praktiknya, perayaan maudu di Gowa terbagi atas berbagai jenis dan tingakatanya, yakni pertama, Maudu Ca’di, yaitu perayaan yang dilaksanakan oleh imam, guru, dan masyarakat yang berasal dari kalangan biasa, yang biasanya ditandai dengan bentuk bakul yang kecil-kecil (pelaksanaan maudu ini mulai dari tanggal 12 Rabiul awal sampai dengan 28 Rabiul awal). Kedua, Maudu Langgara yaitu perayaan maulid yang dilaksanakan khusus oleh keluarga raja-raja atau masyarakat yang memiliki status sosial yang tinggi dan bakul yang digunakan juga tergolong banyak dan besar. Ketiga, Maudu lompoa ialah perayaan maulid yang paling ramai sebagai puncak/penutup dari perayaan maudu, yang ada di Kabupaten Gowa.

 

_____________
Oleh: Ahmad Syah Alfarabi