Ziarah Wali Songo: Maqbarah Sunan Gunung Jati Cirebon

 
Ziarah Wali Songo: Maqbarah Sunan Gunung Jati Cirebon
Sumber Gambar: dok. pribadi/FB Hamdan Suhaemi

Laduni.ID, Jakarta – Senin sore (22/11/2021), dengan niat tabarrukan kami berempat berangkat dari Serang, Banten menuju Cirebon, awal tempat yang kami kunjungi. Pukul 01: 30 tiba di area Pasarean Kanjeng Sunan Gunung Jati yang terletak di Astana Gapura, Cirebon Jawa Barat.

Abdi Keraton Kanoman Cirebon hangat menerima kami dari Serang, Banten, berasa kami menemui orang tua yang lama terpisah. Tahun 2007 saya ke Cirebon, menziarahi Kanjeng Sunan, sekaligus bisa silaturahmi di kediaman Mbah Qosim, orang yang dituakan oleh keluarga kasepuhan dan Kanoman Cirebon.

Namun kali ini sedih sekali, karena sang Mbah ini telah lama wafat sekitar tahun 2010 yang lalu, padahal kenangan itu masih terlintas saat Mbah Qosim mendoakan dan meniup ubun-ubun saya. Sungguh itu masih sangat melekat sebagai jejak hidup yang berharga.

Pukul 02:15, shalat malam di Tajug, warisan Kanjeng Sunan, samping maqbaroh. Tajug atau masjid ini sarat dengan makna sejarah, tarikan spiritualitasnya begitu kuat sekali. Selesai itu kami memasuki wilayah khususiat makam keramat sang Sunan. Meski tidak diperkenankan pintu makam yang rapat terkunci itu dibuka, namun kekhususannya terletak pada dimensi keramat dan keberkahan yang merayap. Ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan sangat kuat dirasakan.

Jasad wangi yang terkubur sejak 5 abad yang silam ini adalah Kanjeng Syaikh Syarif Hidayatullah bin Syarif Abdullah Adzmat Khan atau masyhur sebagai Sunan Gunung Jati. Sang sunan ini adalah salah seorang ulama Wali Songo, majelis pendakwah agama Islam dalam sejarah Indonesia pada abad ke-15 Masehi. Ulama ini juga merupakan Sultan Cirebon (1479-1568) dengan gelar Susuhunan Jati (Wawan Hernawan dan Ading Kusdiana: 2020).

Sunan Gunung Jati adalah putra Sultan Syarif Abdullah bin Ali Nurul Alim, Penguasa Mesir yang menikah dengan Nyai Rarasantang, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.

Nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah. Sejak kecil, sudah tampak kecerdasan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu. Karena kesungguhannya menekuni ilmu agama, atas izin sang ibunda, Syarif Hidayatullah berangkat ke Mekah.

Di tanah suci, Syarif Hidayatullah berguru kepada Syaikh Tajudin Al-Qurthubi. Beberapa waktu kemudian, ia ke Mesir untuk belajar kepada Syaikh Muhammad Athaillah Al-Syadzili, seorang ulama bermadzhab Syafi'i sekaligus mempelajari tasawuf tarekat Syadziliyah.

Atas arahan dari Syaikh Athaillah, Syarif Hidayatullah kemudian pulang ke Nusantara untuk berguru pada Syaikh Maulana Ishak di Pasai, Aceh. Selanjutnya, ia mengembara ke Karawang, Kudus, hingga di Pesantren Ampeldenta Surabaya untuk belajar kepada Sunan Ampel.

Oleh Sunan Ampel, Syarif Hidayatullah diminta untuk berdakwah dan menyebarkan Islam di daerah Cirebon. Di sana, ia menjadi guru agama menggantikan Syaikh Datuk Kahfi di Gunung Sembung.

Dalam buku Atlas Wali Songo (2016) yang ditulis Agus Sunyoto diungkapkan, atas bantuan mertuanya, Syarif Hidayatullah mendirikan sebuah pondok pesantren dan mengajarkan Islam kepada penduduk sekitar. Oleh para santrinya, Syarif Hidayatullah dipanggil dengan julukan Maulana Jati atau Syaikh Jati. Selain itu, karena ia berdakwah di daerah pegunungan, ia digelari sebagai Sunan Gunung Jati.

Setelah Pangeran Cakrabuana bin Prabu Siliwangi meninggal dunia, tampuk Kasultanan Pakungwati Cirebon dilanjutkan oleh menantu sekaligus keponakannya, yakni Sunan Gunung Jati, sebagai Sayyidin Panatagama ing Bumi Caruban Nagari.

Kanjeng Sunan, adalah satu diantara Wali Sembilan yang berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam di tatar Sunda, bumi Jawa bagian kulwan dan wafat pada 1568 M. Ketika meninggal, usianya diperkirakan mencapai 120 tahun. Makamnya terletak di Gunung Sembung, Desa Astana, Cirebon.

Garis leluhurnya Kanjeng Sunan Gunung Jati tersambung hingga Rasulullah SAW, keturunan mulia nan agung. Silsilah Syarief Hidayatullah dalam Tritiya Sarga, sebagai berikut:

Syarif Hidayatullah/Sayyid Al-Kamil/Susuhunan Jati/Susuhunan Cirebon, bin Syarif Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Al-Husein bin Al-Amir Akhmad Syaikh Jalaludin bin Amir Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Alawi Amul faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khala Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidh bin Ja'far Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Sayyid Husein al-Syahid bin Sayyidah Fatimah Az-zahra binti Nabi Muhammad  Rasulullah SAW.

Kalimat akhir, betapa indah rerasa ini ketika mendekati cahaya sang Sunan. Keramatnya tak lekang ditelan zaman, haibahnya dirasakan umat hingga kini, keberkahan dari Gusti Allah yang tertabur. Ini saya hamba doif adalah titik kecil yang berharap berkahnya.

Gunung Sembung, 23 November 2021

Oleh: Hamdan Suhaemi, Wakil Ketua PW GP Ansor Banten dan Ketua PW Rijalul Ansor Banten


Editor: Daniel Simatupang