Ciptakan Obat Diabetes, Tiga Mahasiswa UNISNU Jepara Raih Medali Emas di Ajang Internasional

 
Ciptakan Obat Diabetes, Tiga Mahasiswa UNISNU Jepara Raih Medali Emas di Ajang Internasional
Sumber Gambar: dok. pribadi/Diah - Radioidola.com

Laduni.ID, Jakarta – Tiga Mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, Jawa Tengah berhasil mengubah tanaman yang dianggap gulma menjadi obat diabetes. Tanaman liar yang kerap dijumpai diperkebunan itu ternyata mengandung flavonoid yang dapat mengatasi bakteri dalam tubuh, meningkatkan zat besi, dan menurunkan gula darah.

Mereka adalah Umi Latifah, Diah Ismi Chofifah, dan M Khusni Rohim yang merupakan mahasiswa semester 3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISNU, Jepara.

Capaian mereka dalam bidang kesehatan ini membuahkan medali emas di ajang internasional World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2021 di Malaysia. Mereka mengusulkan minuman herbal tersebut dengan judul “SULTAN-R” atau Rambusa New Innovation Blood Sugar Neutralizing Herbal Powder.

Khusni dan kawan-kawan membutuhkan waktu satu bulan untuk melakukan riset organoleptik dan uji laboratorium di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

“Kami sebagai pelajar kemudian menggali penelitian tersebut dari orang desa. Tanaman ini dipercaya sebagai obat diabetes atau bisa menurunkan gula darah,” kata Khusni sebagaimana dikutip dari Detik.com, (1/11/2021).

Dalam kompetisi yang digelar secara virtual itu, Khusni dan kawan-kawan berhasil mengalahkan 300 tim dari 30 negara.

Cara penyajian obat ini cukup mudah, seperti membuat teh pada umumnya. Untuk takaran air 200-250 ml cukup masukkan satu sendok bubuk (romusa yang telah dikeringkan dan ditumbuk halus) kemudian ditambahkan dengan gula batu sesuai selera.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Nur Arifin berencana akan mematenkan karya ilmiah tiga mahasiswanya itu dan akan dijual secara bebas dipasaran.

“Alhamdulillah ini kreasi anak-anak yang membanggakan bagi kita. Rencana ini penemuan ada unsur kebaruan dan belum pernah ada nanti rencana kita patenkan. Semoga ini menjadi penemuan yang bisa dikembangkan dan tidak diakui oleh orang lain. Maka dipatenkan,” ujarnya.


Editor: Daniel Simatupang