Dr. KH. Marsudi Syuhud Ulama Nahdlatul Ulama Jakarta
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Riwayat Keluarga
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Masa Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru Beliau
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
3 Penerus Beliau
3.1 Murid-murid Beliau
4 Organisasi, dan Karier
4.1 Riwayat Organisasi
4.2 Karier Beliau
1 Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH Marsudi Syuhud merupakan tokoh sekaligus pengurus PBNU yang cukup aktif dalam tampil merespons berbagai isu nasional hingga internasional. KH Marsudi Syuhud lahir di Kebumen, 7 Februari 1964. Dirinya merupakan putra dari pasangan H Suhudi dan Hj Sairah ini lahir di Desa Jogosimo Ke-camatan Klirong Kabupaten Kebumen.
1.2 Riwayat Keluarga
KH. Marsudi Syuhud menikah dengan Nyai Hj. Mufizah binti KH Abdurrohim, Pengasuh Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar Patoman, Ciamis, yang juga masih keponakan dekat Kiai Mustholih.
2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Masa Menuntut Ilmu
KH Marsudi Syuhud besar dengan kultur NU yang kental. Sejak kecil KH. Marsudi Syuhud sudah belajar kitab-kitab klasik seperti Jurumiyah dan Imriti sejak sekolah diniyah di kampungnya. Setelah itu dirinya meneruskan pendidikan ke Pesantren Raudlatul Mubtadiin di Jatisari, Jenggawah, Jember berguru pada KH. Abu Hamid.
Lalu belajar di Pondok Pesantren Al-Ihya’ Ulumiddin Kasugihan asuhan KH. Mustholih Badawi sekaligus menamatkan pendidikan MTS dan MA. Kemudian lanjut ke perguruan tinggi S1 Jurusan Sarjana Sastra Inggris STKIP PGRI Institut, S2 Manajemen Pemasaran di Universitas Tarumanegara, S3 di bidang Ekonomi dan Keuangan Islam, Universitas Trisakti.
Ketika dilaksanakan Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama NU di Kesugihan, Cilacap tahun 1986, beliau terlibat sebagai panitia. Setelah selesai dilaksanakan Munas, beliau diajak oleh Kiai Mustholih (salah satu Rais Syuriah PBNU) untuk ikut ke Jakarta dan dititipkan kepada KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada saat itu pula beliau memperoleh beasiswa dari LPBA, maka beliau bermukim di Jakarta dan tinggal di Komplek Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Kebon Jeruk asuhan KH. Nur Muhammad Iskandar hingga pada suatu saat beliau menjadi asisten pengasuh.
Namun, beasiswa tersebut tidak diteruskan oleh beliau, beliau memilih untuk menjadi guru sambil kuliah di STKIP PGRI Jakarta Jurusan Sastra Inggris.
2.2 Guru-Guru Beliau
- KH. Abu Hamid
- KH. Mustholih Badawi
- KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
- KH. Nur Muhammad Iskandar
2.3 Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

