Sebuah Catatan Pinggir: Kesabaran I Sara Mengarungi Samudera Kehidupan

 
Sebuah Catatan Pinggir: Kesabaran I Sara Mengarungi Samudera Kehidupan
Sumber Gambar: dok. pribadi/FB Dr. Wahidin Ar-Raffany

Laduni.ID, Jakarta – I Sara, seorang ibu rumah tangga berusia 61 tahun yang ditinggal mati suaminya selama puluhan tahun, hidup dengan penuh kekurangan. Ia saat ini hidup bersama seorang cucunya, Nur Aisya yang baru duduk di bangku sekolah dasar Kelas 2. Nur Aisya ditinggal mati ayahnya, Pardi yang merupakan anak tunggal I Sara 3 tahun lalu. Ibu Nur Aisya sudah menikah dan kini tinggal bersama suami keduanya.

I Sara tinggal di Dusun Jompai, Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap (sekitar 1 KM sebelum memasuki kawasan Taman Wisata Puncak Bila, Kabupaten Sidrap).

Rumah panggung yang ditempati I Sara saat ini atapnya sudah berlubang-lubang, sementara kayu penahannya sudah lapuk dimakan usia.

“Jika hujan turun sementara kami tertidur Pak, saya bangun cepat karena khawatir mengganggu tidur cucuku,” ujar I Sara dengan mata memandang sayu.

Tidak hanya sampai di situ, I Sara pun sering was-was jika angin bertiup cukup kencang, mengingat rumahnya yang sudah berusia puluhan tahun karena masih peninggalan kedua orang tuanya.

Berdasarkan informasi dari beberapa masyarakat, khususnya Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat (Baznas) Kecamatan Pitu Riase, Sidrap, maka para Pimpinan Baznas Sidrap bersama UPZ dan Pemerintah Desa Bila Riase melakukan survey dengan mendatangi rumah I Sara pada hari Rabu, (27/1/2022).

Hasil survey ini pun menyimpulkan bahwa I Sara berhak mendapatkan bantuan dari Baznas Sidrap dalam bentuk Pembangunan Rumah Mustahik yang akan segera dilaksanakan. Inilah sebuah karunia Ilahi yang dianugrahkan pada hamba-hambanya yang sabar dalam menjalani kesulitan hidup.

Oleh: Dr. Wahidin Ar-Raffany, S.Ag., MA., Katib Syuriyah PCNU Sidrap
Dikutip dari laman FB Dr. Wahidin Ar-Raffany pada 28 Januari 2022
Sumber foto: Dok. Pribadi Dr. Wahidin Ar-Raffany


Editor: Daniel Simatupang