Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muslich Banyumas
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muslich Banyumas

1910 – 1998 M · 4.926 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

KH. Muslich beliau adalah ulama NU dan pejuang tangguh yang berasal dari Rawalo, Banyumas.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Organisasi, Karier, dan Karya
3.1       Riwayat Organisasi
3.2       Karier Beliau

4          Pejuang yang Tangguh

5         Penghargaan

6          Chart Geneology
6.1       Chart Geneology Guru Beliau
6.2       Chart Geneology Murid Beliau

7         Referensi

1 Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Muslich dilahirkan pada tahun 1910, di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Ayah beliau bernama Hasan Basari dan ibunya bernama Sri Inten. Lingkungan pedesaan yang religius mendorongnya untuk giat belajar Islam.

1.2  Wafat
KH. Muslich wafat pada tanggal 24 Desember 1998, beliau dimakamkan di di pemakaman umum Purwokerto.

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1   Mengembara Menuntut Ilmu
 Selesai Sekolah Rakyat, Muslich melanjutkan belajar ke Madrasah Mambaul Ulum Solo hingga kelas sembilan. Siang harinya belajar di Pesantren Sunniyah Keprabon Tengah dan malam harinya belajar mengaji Al-Qur'an di Pesantren KH. Cholil Kauman. Dia juga belajar kitab fiqih di Pesantren Keprabon dan  pesantren Jamsaren

Selama berada di Solo, Muslich banyak mengikuti kursus-kursus agama Islam dan pengetahuan umum dari berbagai kalangan. Secara temporer dia juga belajar mengaji dan mondok di pesantren Bogangin Sampyuh, Leler Kebasen, pesantren Tebuireng- -Jombang, pesantren Tremas Pacitan, dan Pesantren Krapyak Yogyakarta. Pengetahuan umum ia tempuh secara otodidak dengan banyak membaca dan diskusi dengan para tokoh yang ditemui.

Pada zaman pergerakan kemerdekaan, Muslich muda sempat menjadi anggota kepanduan SIAP (Syariat Islam Afdeling Pandu). Waktu itu usianya baru 16 tahun. Kiai Muslich kemudian juga bergabung ke dalam Pengurus Cabang NU Cilacap, kemudian dipromosikan sebagai Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, dan akhirnya dipromosikan lagi menjadi Pengurus Besar NU di Jakarta.

2.2  Guru-guru Beliau
Guru-guru beliau saat menuntut ilmu, di antaranya:

  1.   Hasan Basari
  2. KH. Cholil Kauman

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+