Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Teungku Dr. Muhibbudin Waly (Syekh Muda Waly)
✓ Terverifikasi Tim Riset

Teungku Dr. Muhibbudin Waly (Syekh Muda Waly)

lahir 1936 M · 11.277 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Buya Muhibbudin Waly ulama Aceh

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup
1.1  Lahir

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Menjadi Mursyid Tarekat

4.   Teladan
5.    Karomah
6.    Referensi

1. Riwayat Hidup
1.1. Lahir

Prof. Dr. Tengku H. Muhibuddin Waly lahir pada tanggal 17 Desember 1936 di Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan. Ayahnya bernama Muhammad Waly Al-Khalidy, ibunya Hajjah Rasimah. Ayah beliau adalah sahabat Syekh Yasin Al-Fadani Makkah. Mereka berdua sama-sama berguru pada Sayyid Ali Al-Maliky, kakek dari Sayyid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky Al-Maliki Al-Hasani.

Karena hubungan itu pula, ulama besar tersebut pernah mengijazahkan seluruh tarekat yang dimilikinya kepada Buya beberapa tahun lalu. Pertemuan berikutnya dengan Syekh Yasin Al-Fadani juga tidak berbeda. Sambil terus memegang tangannya, Syekh Yasin kemudian memberikan ijazah atas semua hadis Rasulullah yang dikuasainya.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan

Syekh Muhibbudin Waly mengambil gelar doktornya di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo dengan disertasi tentang Pengantar Hukum Islam. Waktu kuliahnya terbilang singkat yang diselesaikannya tahun 1971. Kini, setelah kesibukannya sebagai Anggota DPR RI berakhir tahun 2004 lalu, Buya Muhibbudin Waly lebih banyak mengisi waktunya dengan mengajar tarekat, dan menulis. Saat ini ada beberapa buku tentang Tasawuf dan pengantar hukum Islam yang sedang ditulisnya, sambil menyempurnakan buku ensiklopedi Tarekat yang diberi judul Kapita Selecta Tarekat Shufiyyah.

Waktu senggangnya juga dimanfaatkan untuk “meramu” tiga buah kitab yang diharapkan akan jadi pegangan para murid dan umat Islam pada umumnya. Tiga kitab tersebut adalah Tafsir Waly (Tafsir Al-Qur'an), Fathul Waly (Syarah dari kitab Jauharatut Tauhid) dan Nahjatuh An-Nadiyah ila Martabat As-Shufiyyah (Sebuah kitab di bidang ilmu Tasawuf).

Sebagai pewaris darah pujangga-pujangga Minangkabau, kemahirannya dalam menulis syair pun tak perlu diragukan lagi. Belum lama ini beliau mengijazahkan syair tawasul tarekat, yang digubahnya sendiri dalam dua bahasa Arab dan Melayu, kepada murid-murid tarekatnya. Syair yang cukup panjang ini menceritakan tentang proses perjalanan suluknya, yang diselingi dengan doa tawasul kepada para pendiri tarekat-tarekat besar dan guru-guru yang dimuliakannya.

Kini, di usianya yang terbilang senja, Buya mengaku tidak lagi sekuat dulu dalam berkhidmah pada agama, nusa dan bangsa. Namun demikian beliau tetap berusaha melayani umat. Karena itu ia membagi jadwal kegiatan bulannannya menjadi tiga. Bulan pertama Buya tinggal di Jakarta, bulan kedua ia habiskan di Aceh dan bulan ketiga Tengku Muhibbudin melayani undangan ke daerah-daerah lain.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1 Menjadi Mursyid Tarekat

Teungku Dr. Muhibbudin Waly belajar tarekat pertama kali dari ayahnya, yang membimbingnya meniti Tarekat Naqsyabandiyah. Namun karena takzim, setelah dianggap cukup, ay

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+