Perilaku Keagamaan Warga Nahdlatul Ulama

Perilaku Keagamaan Warga Nahdlatul Ulama

Agama Islam bersumber dari wahyu Allah, Alqur’an, yang disampaikan kepada Rasulullah Muhammad kepada umat manusia, demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Sebelum Rasulullah wafat, Islam telah dinyatakan oleh Allah Sebagai agama yang sempurna sebagaimana firman­Nya:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ (٣)

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah [4]: 3).

 

Islam yang sudah sempurna sebagaimana dimaksudkan di atas, sesunggunnya sama juga dengan yang dinyatakan oleh rumusan Nabi ketika menerangkan Ahlussunnah wal Jamaah.

ما أنا عليه وأصحابي

Artinya: “Apa yang ada padaku bersama dengan para saahabatku.”

 

Islam yang sempurna identik dengan Alqur’an dan hadis sebagaimana sabda Rasulullah:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Artinya: “Saya tinggalkan (wariskan bagimu dua hal yang kalau kamu selalu berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kalamullah (Alqur’an) dan Sunnah Rasul.”

Kesempurnaan Islam tidak berarti bahwa segala hal diterangkan secara terperinci dan ketat (kaku), tetapi justru kesempurnaan Islam itu tercermin dari dua cara pemberian pedoman, ada yang secara terperinci dan ada yang hanya dijelaskan prinsip-prinsipnya saja dan harus dikembangkan oleh umat Islam sendiri. Dengan demikian, maka Islam akan selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Dengan demikian, Islam yang telah disempurnakan pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya adalah Islam yang benar-benar sempuna, standar dan baku yang harus dipegang sepanjang masa. Islam yang standar, baku, harus dikembangkan secara terkendali, supaya kemurnian dan kelurusannya dapat menjawab permasalahan baru yang selalu muncul sepanjang zaman.

Demikian juga, Islam adalah agama pembawa rahmat bagi seluruh semesta alam. Islam tidak hanya sebagai rahmat bagi pengikutnya, akan tetapi bagi seluruh manusia bahkan kepada semua binatang, tetumbuhan, dan seluruh isi alam semesta. Dari sinilah, maka Islam yang dikembangkan oleh Aswaja adalah Islam yang damai, Islam yang toleran, Islam yang ramah kepada apa saja dan siapa saja. Jika ada umat Islam yang mengaku mengikuti paham Aswaja, akan tetapi senang melakukan kebencian, permusuhan, kekerasan, dan apapun yang bertentangan dengan Islam sebagai agama pembawa rahmat, maka dengan sendirinya telah keluar dari paham Aswaja.

Dari sinilah, dalam bidang keagamaan Aswaja mengembangkan sikap sebagai berikut:

  1. Sikap Tawasuth dan I’tidal
    Sikap tengah yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah- tengah kehidupan bersama. Nahdlatul Ulama dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan selalu bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharuf (ekstrim).

  2. Sikap Tasamuh
    Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah, serta dalam masalah kemasya- rakatan dan kebudayaan.

  3. Sikap Tawazun
    Sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyerasikan khidmah kepada Allah, khidmah kepada sesama manusia, serta kepada lingkungan hidupnya. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.  

  4. Amar Ma'ruf Nahi Munkar
    Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan beragama; serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Inilah sikap-sikap keagamaan yang dianut oleh NU yang dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan dasar-dasar inilah, maka perilaku keagamaan warga NU sangat mementingkan kedamaian, keserasian, dan keharmonisan di dalam masyarakat. Namun, sebelum mendamaikan masyarakat, maka ia harus mampu mendamaikan dirinya terlebih dahulu. Mendamaikan hatinya dari segala kebencian, kedengkian, permusuhan, dan sikap-sikap yang tidak seharusnya dilakukan. Setelah mendamaikan dalam dirinya, warga NU harus berdamai dengan Allah dengan menghamba kepada- Nya, dengan sesama manusia dengan hal-hal yang bermanfaat bagi semuanya, dan dengan lingkungannya. Warga NU selalu damai di hati dan damai di bumi. Dengan berdamai dan mendamaikan seluruh isi bumi, maka seluruh isi langitpun akan berdamai dan mendamaikan seluruh isi bumi.

Oleh sebab itu warga NU di mana saja dan kapan saja harus bisa memberikan rahmat kepada apa saja dan siapa saja. Dengan kata lain, warga NU harus bisa memayu hayuning bawana atau rahmatan lil ‘alamin, sebagai perilaku keagamaannya.

 

Sumber: Buku Aswaja dan Ke-NU-an, Ma'arif NU DIY, 2004