Mbah Kiyai Zainuddin adalah ulama besar Nusantara yang "paling tidak terekspose" bila dibanding dengan ulama-ulama seangkatannya.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil Kyai Zainuddin, Mojosari, Nganjuk
- Kelahiran
- Wafat
- Ulama Besar
- Mengasuh Pesantren
- Rihlah
- Syahdan
- Karomah
- Chart Silsilah Sanad
- Referensi
1. Kelahiran
KH. Zainuddin (1850-1954) berasal dari Bojonegoro. Beliau lahir di Desa Kuncen Kecamatan Padangan, Bojonegoro dan tumbuh di Desa Padangan. Beliau adalah putra dari Kiai Mu’min, yang merupakan bagian dari lingkar besar Bani Kuncen. Mbah Zainuddin hidup sezaman dengan KH Hasyim Jalakan Padangan.
2. Wafat
Menurut keterangan salah satu santrinya wafat beliau tahun 1954. Saat ini akam KH Zainuddin Mojosari berada di komplek makam Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur.
3. Ulama Besar
Mbah Kiyai Zainuddin adalah ulama besar Nusantara yang "paling tidak terekspose" bila dibanding dengan ulama-ulama seangkatannya semisal Syekh Nawawi al-Bantaniy, Syekh Sholeh Darat (guru beliau), Syekh Kholil Bangkalan, KH. Dimyathi Tremas Pacitan, Syekh Asnawi Kudus.
4. Mengasuh Pesantren
Pondok Mojosari Nganjuk adalah pondok pesantren yg usianya hampir 3 Abad (Termasuk Pondok NU Tertua). Pondok pesantren ini berdiri sekitar thn 1723 M yang didirikan oleh Kyai Imron. Sebelum mendirikan Pondok Mojosari, Kyai Imron bertirakat Puasa 3 thn di dalam Batu (Wallahu'alam). Dan waktu membabat Alas Mojosari beliau puasa Jagung (Sehari cuma makan 1 biji jagung) sampai pondok berdiri. Hal ini dikarenakan keangkeran Alas Mojosari yg waktu itu terkenal seram dan banyak dihuni oleh Genderuwo dan makhluk gaib lainnya.
KH. Zainuddin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur generasi ke 5. Pondok Pesantren Mojosari didirikan pada tahun 1720 M oleh Kyai Ali Imron, Bendungan.
Ketika menjadi santri di Pesantren Langitan, Tuban, Kiai Zainuddin yang asal Padangan, Bojonegoro diambil menantu oleh pengasuh pondok tersebut, dan diminta untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Mojosari mencapai kejayaannya.
5. Rihlah
Setelah tinggal dan belajar di Padangan, Kiai Zainuddin melanjutkan rihlah ilmiah ke sejumlah ulama. Di antara gurunya adalah KH Sholeh Darat Semarang. Beliau juga tercatat pernah belajar di Ponpes Langitan era KH Ahmad Sholeh.
Dari segi usia memang beliau paling muda dengan teman seangkatannya namun beliau yang paling akhir meninggal dunia. Beliau menempati sebuah pondok tua yaitu di Mojosari, Loceret, Nganjuk. Mungkin karena secara geografis berada di kaki gunung Wilis, maka beliau "tidak banyak diekspose" dibanding sahabat-sahabatnya, karena memang dalam sejarahnya beliau cenderung bergerak dalam keilmuan tasawwuf.
6. Syahdan
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

