Biografi Syekh Kholil Bangkalan

 
Biografi Syekh Kholil Bangkalan

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat 

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Mendirikan Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Putera-puteri Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Kisah-Kisah Dengan Para Muridnya
4.1       KH. Ma’shum Lasem
4.2       KH. Hasyim Asy’ari
4.3       KH. Wahab Chasbullah
4.4       KH. As’ad
4.5       KH. Bahar Sidogiri

5          Jasa dan Karya Beliau
5.1       Jasa-jasa Beliau
5.2       Karya-karya Beliau

6          Kisah Teladan
6.1       Santri yang Mandiri
6.2       Menabung untuk Menuntut lmu ke Mekkah

7          Karomah
7.1       Ke Mekkah Naik Kerocok
7.2       Mengobati Anak Pecandu Gula
7.3       Tertawa Keras saat Shalat
7.4       Ditangkap lalu Dibebaskan oleh Belanda
7.5       Membelah Diri

8          Sumber

 

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1          Lahir

Syekh Muhammad Kholil atau yang kerap dipanggil dengan Syekh Kholil Bangkalan atau Mbah Kholil lahir pada 11  Jumadil akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur.

Jalur nasab Syekh Kholil Bangkalan dari jalur ayah sampai kepada Syekh Syarif Hidayatullah (Cirebon). Nasab beliau adalah Syekh Kholil Bangkalan bin KH. Abdul Lathif bin KH. Hamim bin KH. Abdul Karim bin KH. Muharram bin KH. Asrar Karamah bin KH. Abdullah bin Sayid Sulaiman.

Sayid Sulaiman adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Syarif Hidayatullah itu putera Sultan Umdatuddin Umdatullah Abdullah yang memerintah di Cam (Campa). Ayahnya adalah Sayid Ali Nurul Alam bin Sayid Jamaluddin al-Kubra.

1.2         Riwayat Keluarga  

Menurut M Zaini, dalam tesis Genealogi pesantren di Bangkalan: studi genealogi Syaikhona Kholil Bangkalan Madura yang dipublikasi UIN Sunan Ampel, runtutan nasab Syechona dari jalur putra sebagai berikut: Kiai Kholil bin Kiai Abdul Latif bin Kiai Hamim bin Abdul Karim bin Kiai Muharram bin Kiai Asra Al-Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman Mojo Agung yang merupakan cucu dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.
 

Dalam penjabaran M. Zaini, Syechona Kholil Bangkalan memiliki sembilan istri yaitu: Pertama, Raden Ayu Assek binti Lodrapati. Kedua, Nyai Ummu Rahmah. Ketiga, Raden Ayu Arbi’ah. Keempat, Nyai Mesi. Kelima, Nyai Su’lah. Keennam, Nyai Kuttab. Ketujuh, Nyai Sabrah. Kedelapan, Raden Ayu Nurjadi. Kesembilan, seorang janda kaya berasal dari telaga biru, Tanjung Bumi, Bangkalan.
 

“Anak keturunan Kiai Kholil berasal dari empat orang istri, yaitu: Raden Ayu Assek binti Ludrapati, Nyai Ummu Rahmah, Raden Ayu Arbi’ah dan Nyai Mesi,” tulisnya.

Sedangkan lima istri yang lain, yaitu Nyai Su’lah, Nyai Khuttab, Nyai Sabrah, Raden Ayu Nurjati dan seorang janda dari Telaga Biru, sampai Syechona wafat tidak dikaruniai keturunan.

Perkawinan Syechona Kholil dengan Raden Ayu Assek binti Lodrapati


1) Raden Ayu Assek binti Lodrapati sebagai istri pertama Syechona Kholil. Nyai Assek seorang perempuan yang mempunyai darah (keturunan bangsawan). Pernikahan Syechona Kholil dengan Raden Ayu Assek binti Lodrapati konon berawal dari sayembara yang diadakan oleh ayahandanya, Pangeran Lodrapati.
 

Waktu itu, sang putri mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Ayahandanya melakukan sayembara yang isi pengumumumannya adalah “barang siapa yang mampu menyembuhkan anakku, jika laki-laki akan dijadikan menantunya”.

Kabar ini sampai kepada Kiai Kholil, lalu membantu mengobati penyakit yang diderita oleh putri Lodrapati. Dengan izin Allah, Raden Ayu Assek binti Lodrapati sembuh dari penyakit yang dideritanya.
 

Dari kisah inilah, Syechona Kholil dinikahkan dengan Nyai Assek pada bulan Rajab 1278 H. Saat itu, Raden Ayu Assek binti Lodrapati masih berusia 26 tahun. Sedangkan Syechona Kholil ditulis berusia 24 tahun. Hasil dari pernikahan tersebut, Syechona Kholil dikaruniai dua keturunan, yaitu Nyai Khotimah dan Kiai Muhammad Hasan.
 

Anak pertama Syechona Kholil (Nyai Khotimah) dinikahkan dengan Kiai Muhammad Thoha bin Kahfal atau lazimnya dipanggil Kiai Munthaha, pada tahun 1290 H.

Hasil perkawinannya dikaruniai empat orang anak. Yaitu, Kiai Ahmad, Kiai Abdul Latif, Kiai Mujtabah dan Nyai Rohmah.
 

Sedangkan Anak Kedua Kiai Kholil yaitu Kiai Muhammad Hasan menikah dengan Nyai Karimah pada tahun 1316 H, tetapi pernikahan ini tidak dikarunia anak.


2) Ibu Nyai Rohmah, yang berasal dari Kemayoran, Labang Buta dekat dengan Pasar  Seninan Bangkalan. Dari istri keduanya Kiai Kholil dikaruniai seorang putri bernama Nyai Rohmah. Putri Kiai Kholil yang semata wayang tersebut akhirnya dinikahkan dengan Kiai Muhammad Bakri, sehingga dari pasangan ini Kiai Kholil memiliki seorang cucu laki-laki   bernama  Muhammad Umar yang kemudian dinikahkan dengan putri Hj. Zahrah bernama  Romlah yang tinggal di utara alun-alun Kota Bangkalan. Hasil pernikahan mereka dikaruniai  dua orang anak bernama Busri dan Nyai Saudah. Nyai Rohmah binti Kiai Kholil kemudian  menikah lagi dengan H. Muhammad Hosen, yang manaia berasal dari Sumur Kuning  Kwanyar Bangkalan. Hasil pernikahan keduanya ini Nyai Rohmah dikaruniai seorang putri cantik bernama Minnah yang akhirnya diperistri oleh H. Muhammad Nafi’. Mereka dikaruniai tiga orang putri yaitu Nyai Nahlah, Nyai Jamilah dan Nyai Aminah.


3) Raden Ayu Arbi’ah, yang masih keturunan Bangsawan yang berasal dari Longapan, Kemayoran, Bangkalan. Hasil pernikahannya ini Kiai Kholil dikaruniai dua orang anak yaitu Ahmad Baidhowi dan Muhammad Imron. Akan tetapi, Ahmad Baidhowi meninggal dunia pada usia lima bulan. Sedangkan Muhammad Imron setelah menginjak kedewasaannya, memperistri seorang gadis yang berasal dari desa Sabreh. Gadis itu bernama Nyai   Mutmainnah.
Kedua pasangan ini akhirnya dikaruniai anak lima orang anak yaitu: Nyai Romlah, Nyai Aminah, Nyai Nadhifah, Kiai Makmun dan Kiai Amin. Selain istri pertamanya  Nyai Mutmainnah, Kiai  Imron juga memiliki istri yang lain, ia bernama Nyai Maimunah.  Perkawinan dengan istri keduanya ini Kiai Imron dikaruniai anak empat yaitu: Kiai  Munawir,  Nyai Naimah, Nyai Arfiyah dan Nyai Jamaliyah.

4) Nyai Mesi adalah istri Kiai Kholil yang berasal dari daerah Sumur Kepek Labang  Bangkalan. Pernikahan dengan Nyai Mesi, Kiai Kholil dikaruniai seorang putri yang bernama lahir Nyai Asma. Setelah anak gadisnya menginjak dewasa Nyai Asma dinikahkan  dengan Kiai Muhammad Yasin. Hasil perkawinannya ini akhirnya dikaruniai delapan orang  anak yaitu: Nyai Malihah, Kiai Kholil Yasin, Kiai Nasir Yasin, Nyai Badriyah, Nyai Naylah,  Nyai Asiyah, Nyai Karimah, Nyai Maimunah dan yang terakhir adalah Nyai Rabi’atul Adawiyah.

1.3         Wafat

Syekh Kholil Bangkalan wafat dalam usia 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah, bertepatan dengan tanggal 14 Mei 1923 Masehi, jasadnya dikebumikan di desa Mertajesa, Kecamatan Bangkalan.

 

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1          Mengembara Menuntut Ilmu

Syekh Kholil Bangkalan memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada ayahnya. Beliau belajar ilmu Fiqh dan nahwu. Berkat dari didikan ayahnya, sejak usia muda ia sudah hafal dengan baik 1002 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik.

Setelah dididik, orang tua Syekh Kholil Bangkalan kecil kemudian mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu. Mengawali pengembaraannya, Syekh Kholil Bangkalan muda belajar kepada KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Dari Langitan ia pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian ke Pondok Pesantren Keboncandi. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada KH. Nur Hasan yang menetap di Pondok Pesantren Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Di setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, Beliau tak pernah lupa membaca Surat Yasin.

Sewaktu menjadi santri, Syekh Kholil Bangkalan telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik. Disamping itu ia juga merupakan seorang Hafidz al-Qur'an dan mampu membaca al-Qur’an dalam Qira'at Sab'ah.

Saat usianya mencapai 24 tahun setelah menikah, Syekh Kholil Bangkalan memutuskan untuk pergi ke Makkah. Untuk ongkos pelayaran bisa beliau tutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon Syekh Kholil Bangkalan berpuasa. Hal tersebut dilakukannya bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah agar perjalanannya selamat.

2.2            Guru-Guru Beliau

       Guru-Guru Syekh Kholil Bangkalan di antaranya:

  1. KH. Abdul Lathif (Ayahnya)
  2. Tuan  Guru  Dawuh  (Buju’  Dawuh)
  3. Tuan  Guru  Agung  (Buju’Agung)
  4. Kiai Sholeh ( Pesantren Bungah Gresik)
  5. KH. Asyik.
  6. KH. Arief ( Pesantren Darussalam Pasuruan)
  7. KH. Nur Hasan di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
  8. KH. Abu Dzarrin
  9. KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban
  10. KH. Abdul Bashar ( Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Banyuwangi)
  11. Syaikh  Ahmad  Khatib  Sambas,
  12. Syaikh Abdul Adzem Al Maduri
  13. Syaikh Ali Rahbini
  14. Syekh Nawawi al-Bantani di Mekkah
  15. Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
  16. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan di Mekkah
  17. Syekh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki di Mekkah
  18. Syekh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani di Mekkah

2.3      Mendirikan Pesantren

Pesantren Syaichona Cholil didirikan langsung oleh Syaikhona di Bangkalan.  Syaikhona Kholil mendirikan ini setelah mendirikan pesantren yang pertama di desa   Jengkebuan. Akan tetapi Setelah putrinya, Siti Khatimah, dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha (Muhammad  Thaha) pesantren di desa  Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya tersebut. Akhirnya Kiai  Khalil pada tahun 1861 M, mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak pesantren yang baru itu, hanya selang 1 kilometer dari pesantren lama dan desa kelahirannya. Pesantren yang terakhir ini kemudian dikenal sebagai Pesantren Syaikhona Kholil 1.

 

3      Penerus Beliau

3.2     Putera-puteri Beliau

  1. Nyai Hj. Khotimah Kiai Muhammad Thoha bin Kahfal atau lazimnya dipanggil Kiai Munthaha, pada tahun 1290 H.
    Hasil perkawinannya dikaruniai empat orang anak. Yaitu:
    1. Kiai Ahmad
    2. Kiai Abdul Latif
    3. Kiai Mujtabah
    4. Nyai Rohmah.
     
  2. KH. Muhammad Hasan menikah dengan Nyai Karimah pada tahun 1316 H, tetapi pernikahan ini tidak dikarunia anak.
     
  3. Nyai Hj. Rohmah dinikahkan dengan Kiai Muhammad Bakri, sehingga dari pasangan ini Kiai Kholil memiliki seorang cucu laki-laki bernama
    1. KH. Muhammad Umar
     
  4. KH. Muhammad Imron menikah dengan seorang gadis yang berasal dari desa Sabreh. Gadis itu bernama Nyai   Mutmainnah. Kedua pasangan ini akhirnya dikaruniai anak lima orang anak yaitu:
    1. Nyai Romlah
    2. Nyai Aminah
    3. Nyai Nadhifah
    4. Kiai Makmun
    5. Kiai Amin

    Selain istri pertamanya Nyai Mutmainnah, Kiai Imron juga memiliki istri yang kedua, ia bernama Nyai Maimunah. Perkawinan dengan istri keduanya ini Kiai Imron dikaruniai anak empat yaitu:
    1. Kiai Munawir
    2. Nyai Naimah
    3. Nyai Arfiyah
    4. Nyai Jamaliyah
     
  5. Nyai Hj. Asma Menikah dengan Kiai Muhammad Yasin. Hasil perkawinannya ini akhirnya dikaruniai sembilan orang  anak yaitu:
    1. Nyai Malihah
    2. Kiai Kholil Yasin
    3. Kiai Nasir Yasin
    4. Nyai Badriyah
    5. Nyai Naylah
    6. Nyai Asiyah
    7. Nyai Karimah
    8. Nyai Maimunah
    9. Nyai Rabi’atul Adawiyah.


3.2      Murid-murid Beliau

Berkat kedalaman ilmu yang dimiliki oleh Syekh Kholil Bangkalan, beliau telah berhasil mencetak murid-muridnya menjadi tokoh, ulama, kiai, dan para pendiri pondok pesantren. Murid-murid beliau diantaranya:

  1. KH. Muhammad Hasan Sepuh - pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo
  2. KH. Hasyim Asy’ari - pendiri Nahdlatul 'Ulama, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang
  3. KH. Abdul Wahab Chasbullah - pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang
  4. KH. Bisri Syansuri - pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang
  5. KH. Manaf Abdul Karim - pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri
  6. KH. Ma'shum - pendiri pondok pesantren Al Hidayat Lasem, Rembang
  7. KH. Munawir - pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
  8. KH. Bisri Mustofa - pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang
  9. KH. Nawawi - pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
  10. KH. Ahmad Shiddiq - pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Jember
  11. KH. As'ad Syamsul Arifin - pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Asembagus, Situbondo
  12. KH. Abdul Majjid - pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan
  13. KH. Toha - pendiri Pondok Pesantren Batabata, Pamekasan
  14. KH. Abi Sujak - pendiri Pondok Pesantren Astatinggi, Kebunagung, Sumenep
  15. KH. Usymuni - pendiri Pondok Pesantren Pandian, Sumenep
  16. KH. Zaini Mun'im - Paiton, Probolinggo
  17. KH. Khozin - Buduran, Sidoarjo
  18. KH. Abdullah Mubarok - pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya
  19. KH. Mustofa - pendiri Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
  20. KH. Asy'ari - pendiri Pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari, Bondowoso
  21. KH. Sayyid Ali Bafaqih - pendiri Pondok Pesantren Loloan Barat, Bali
  22. KH. Ali Wafa - Tempurejo, Jember
  23. KH. Munajad - Kertosono, Nganjuk
  24. KH. Abdul Fatah - pendiri Pondok Pesantren Al-Fattah, Tulungagung
  25. KH. Zainul Abidin - Kraksaan, Probolinggo
  26. KH. Zainuddin - Nganjuk
  27. KH. Abdul Hadi - Lamongan
  28. KH. Zainur Rasyid - Kironggo, Bondowoso
  29. KH. Karimullah - pendiri Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso
  30. KH. Muhammad Thohir Jamaluddin - pendiri Pondok Pesantren Sumber Gayam, Madura
  31. KH. Hasan Mustofa - Garut
  32. KH. Raden Fakih Maskumambang – Gresik
  33. Ir. Soekarno - Presiden Republik Indonesia pertama, menurut penuturan KH. As'ad Samsul Arifin, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Syekh Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Syekh Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya.

 

4    Kisah-Kisah Dengan Para Muridnya

Adapun cerita Syekh Kholil dengan murid-muridnya adalah sebagai berikut:

4.1  KH. Ma’shum Lasem

Kiai Ma'shum - Lasem, Rembang: Dikurung, Disuruh Ngajar dan Didoakan

Dalam buku Manaqib Mbah Ma’shum Lasem diceritakan bahwa suatu hari Syekh Kholil Bangkalan meminta santrinya untuk membuat kurungan ayam jago sebab akan datang jagoan dari tanah Jawa ke Bangkalan. Keesokan harinya datang seorang pemuda bernama Muhammadun (nama Mbah Ma’shum waktu muda) yang berusia 20 tahun dari tanah Jawa. Oleh Syekh Kholil, pemuda itu diminta masuk ke dalam kurungan ayam jago yang telah dibuat santrinya.

Dengan penuh takzim pemuda itu pun masuk dan duduk berjongkok ke dalam kurungan ayam jago. Syekh Kholil kemudian berkata kepada santri-santrinya, Inilah yang kumaksudkan sebagai ayam jago dari tanah Jawa yang kelak akan menjadi jagoan tanah Jawa.

Pada awal nyantri, Mbah Lasem malah disuruh mengajarkan Alfiyah kepada santri-santri Syekh Kholil di dalam kamar yang tidak ada penerangnya. Mbah Ma’shum hanya nyantri selama 3 bulan. Ketika hendak pulang, Mbah Kholil memanggilnya seraya mendoakannya dengan doa Sapu Jagad. Saat Mbah Ma’shum melangkah pergi beberapa meter, ia dipanggil kembali oleh Syekh Kholil lalu didoakan dengan doa yang sama. Hal ini terjadi berulang hingga 17 kali.

4.2   KH. Hasyim Asy’ari

Kiai Hasyim Asy’ari - Tebuireng, Jombang: Disuruh Manjat, Angon dan Masuk Septictank

Ketika awal nyantri, Hasyim Asy’ari muda disuruh naik ke atas pohon bambu, sementara Syekh Kholil terus mengawasi dari bawah sembari memberi isyarat agar terus naik dan tidak boleh turun sampai ke pucuk pohon bambu tersebut.

Kiai Hasyim dengan takzim terus naik sesuai perintah gurunya. Begitu sampai di pucuk, Syekh Kholil mengisyaratkan agar Kiai Hasyim langsung loncat ke bawah. Tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung meloncat dan selamat. Ternyata hal tersebut hanya ujian Kepatuhan seorang santri kepada Kiainya.

Sebagai murid, Kiai Hasyim tidak pernah mengeluh ketika disuruh apa pun oleh gurunya, termasuk ketika disuruh menggembalakan kambing dan sapi, mencari rumput dan membersihkan kandang. Ia menerima titah gurunya itu sebagai khidmat (dedikasi) kepada Sang Guru.

Selain itu, saat Syekh Kholil kehilangan cincin pemberian istrinya yang jatuh di kamar mandi, Kiai Hasyim memohon izin untuk mencarinya. Setelah diizinkan, sejurus kemudian beliau masuk ke septictank dan mengeluarkan isinya.

Setelah dikuras seluruhnya, dan badan Kiai Hasyim penuh dengan kotoran, akhirnya cincin milik gurunya berhasil ditemukan. Betapa senang sang guru melihat muridnya telah berhasil mencarikan cincinnya hingga terucap doa: "Aku rida padamu wahai Hasyim, Kudoakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu."

4.3    KH. Wahab Chasbullah

Kiai Wahab Chasbullah - Tambak Beras, Jombang: Dianggap Macan

Pada suatu hari di bulan Syawal, Syekh Kholil memanggil semua santri dan memerintahkan agar penjagaan pondok diperketat karena tidak lama lagi akan ada macan masuk ke pondok.

Sejak itu, setiap hari semua santri melakukan penjagaan yang ketat di pondok pesantren. Hal ini dilakukan karena di dekat pondok pesantren ada hutan rimba, sehingga khawatir jika ada macan muncul dari hutan tersebut.

Setelah beberapa hari ternyata macan yang ditunggu-tunggu tidak juga muncul. Pada minggu ketiga, Syekh Kholil memerintahkan para santri untuk berjaga ketika ada pemuda kurus, tidak terlalu tinggi dan membawa tas koper seng masuk ke komplek pondok pesantren.

Begitu sampai di depan rumah Syekh Kholil, pemuda itu mengucapkan salam. Mendengar salam pemuda tersebut, Syekh Kholil justru malah berteriak memanggil para santrinya “Hai santri-santri, macan! macan! Ayo kepung, jangan sampai masuk ke pondok.” Mendengar teriakan Syekh Kholil, serentak para santri berhamburan membawa apa saja yang bisa dibawa untuk mengusir pemuda tersebut. Para santri yang sudah membawa pedang, celurit, tongkat mengerubuti “macan” yang tidak lain adalah pemuda itu. Muka pemuda itu menjadi pucat pasi ketakutan. Karena tidak ada jalan lain, akhirnya pemuda tersebut lari meninggalakn komplek pondok.

Karena tingginya semangat untuk nyantri ke pondok yang diasuh oleh Syekh Kholil, keesokan harinya pemuda itu mencoba memasuki pesantren lagi. Meskipun begitu, dirinya tetap memperoleh perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Karena rasa takut dan kelelahan akhirnya pemuda tersebut tidur di bawah kentongan yang ada di musala pesantren.

Ketika tengah malam, dirinya dibangunkan dan dimarah-marahi oleh Syekh Kholil. Meski demikian, setelah itu dirinya diajak oleh Syekh Kholil ke rumahnya dan dinyatakan sebagai salah satu santri dari pondok yang beliau pimpin.

Sejak itu, pemuda tersebut resmi sebagai santri pondok. Pemuda yang dimaksud itu adalah Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi salah satu pendiri NU. Ternyata apa yang diprediksi oleh Syekh Kholil menjadi kenyataan, Abdul Wahab Hasbullah benar-benar menjadi “Macan” NU.

4.4   KH. As’ad

Kiai As’ad - Asembagus, Situbondo: Uang Barakah

Ketika Kiai As’ad masih menjadi santri Syekh Kholil, ia pernah disuruh mengantarkan tongkat ke Kiai Hasyim Asy’ari di Jombang. Di lain hari ia disuruh mengantarkan tasbih kepada Kiai Hasyim juga. Syekh Kholil hanya memberikan bekal beberapa uang logam. Ketika Kiai As’ad naik bus atau kereta, bolak-balik kondektur tidak menagih tiket kepadanya, demikian pula ketika akan menyeberangi Selat Madura, seseorang tiba-tiba mengajaknya naik ke kapal bersamanya secara cuma-cuma. Setelah turun dari kapal, beliau kembali ditawari naik kendaraan ke Jombang, beliau menerima tawaran ini dengan rasa syukur. Kiai As’ad yakin hal ini karena doa dan barakah dari sang guru melalui uang logam yang diberikan Syekh Kholil.

4.5   KH. Bahar Sidogiri

Kiai Bahar - Sidogiri, Pasuruan: Mimpi Basah

Pada suatu pagi, seorang santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah karena tidak bisa salat subuh berjamaah. Bahar absen salat jamaah bukan karena malas, tetapi disebabkan halangan junub. Pasalnya, semalam Bahar bermimpi tidur dengan seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar, sebab wanita itu adalah istri Syekh Kholil, gurunya.

Menjelang subuh, terdengar Syekh Kholil marah besar sambil membawa sebilah pedang seraya berucap, "Santri kurang ajar! santri kurang ajar!" Para santri yang sudah ke masjid untuk salat berjamaah merasa heran dan bertanya-tanya siapa yang dimaksud santri kurang ajar itu.

Subuh itu Bahar memang tidak ikut salat berjamaah, tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid. Seusai salat subuh berjamaah, Syekh Kholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri seraya bertanya, “Siapa santri yang tidak ikut berjamaah?”. Semua santri merasa terkejut, tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para santri menoleh ke kanan-kiri mencari tahu siapa yang tidak hadir. Ternyata yang tidak hadir waktu itu hanyalah Bahar.

Kemudian Syekh Kholil memerintahkan mencari Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan, Bahar dibawa ke masjid. Syekh Kholil menatap tajam-tajam kepada Bahar seraya berkata, "Bahar, karena kamu tidak hadir salat subuh berjamaah maka harus dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok ini". Petok adalah sejenis pisau kecil, dipakai menyabit rumput. Setelah menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan dengan tulus walau kesulitan.

Setelah itu Syekh Kholil memerintahkan Bahar untuk memakan nasi yang ada di nampan sampai habis. Sekali lagi Bahar dengan patuh menerima hukuman dari Syekh Kholil. Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua, ia lalu disuruh makan buah-buahan yang telah tersedia di nampan lain sampai habis.

Setelah itu Bahar diusir oleh Syekh Kholil seraya berucap dan menunjuk Bahar, "Hei santri, semua ilmuku sudah dicuri oleh orang ini". Dengan perasaan senang dan mantap, Bahar pun pulang meninggalkan pesantren Syekh Kholil menuju kampung halamannya, hingga akhirnya ia menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri keenam.
 

 

5        Jasa dan Karya Beliau

5.1       Jasa-jasa Beliau

  1. Beliau sering disebut sebagai maha guru. Hampir banyak kyai atau ulama Nusantara pernah menimba ilmu kepada beliau. Seperti halnya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari; pendiri dan pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Abdul Karim (Mbah Manab); pendiri dan pengasuh pondok pesantren Lirboyo, KH Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Bisri Syansuri (Jombang), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Nawawi (Sidogiri), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), dan masih banyak lagi murid-murid KH. M. Kholil Bangkalan. Bahkan konon katanya Ir. Soekarno Presiden RI pertama, menurut penuturan Kiai Asa’ad Samsul Arifin, Bung Karno meski tidak resmi sebagai murid Kiai Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya (hal.51-53 dalam buku yang berjudul “KH. M. Kholil Bangkalan Biografi Singkat 1820-1923).
  2. Syaikhona Muhammad Kholil yang berasal dari Bangkalan, Madura, dinilai menjadi salah satu ulama besar yang penting dalam perlawanan melawan kolonialisme dan konstruksi Islam Nusantara. Eksistensi serta kontribusi Syaikhona Muhammad Kholil dalam bidang agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan, hingga politik dianggap sangat berpengaruh dan positif keberlanjutannya.
  3. Melalui pendidikan, Kiai Kholil menggembleng para santri untuk menjadi ulama cendekiawan yang pejuang. Beliau juga menjadi salah satu penentu berdirinya salah satu organisasi Islam keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), terangnya.

5.2      Karya-karya Beliau

  1. Al-Matnu as-Syarif (Panduan fikih ibadah), selesai pada hari Rabu 17 Raja 1299 H. cetakan Maktabah Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir, tahun 1934 M. / 1353 H. No. 550, ditashih dan di terjemah dg makna jawa pegon oleh KH. Ahmad Qusyairi bin Shidiq Pasuruan. Dan juga dicetak oleh Maktabah Kholid bin Ahmad bin Nabhan Surabaya, di terjemah dg makna pegon berbahasa madura oleh KHR Abdul Majid Tamim, di tulis oleh Habib Idrus bin Hasan al-Khirid pada tahun 1409 H.
  2. As-Silah fi Bayan al-Nikah (panduan nikah), disalin oleh KH. Ahmad Qusyairi bin Shidiq Pasuruan. (Manuskrip), dan di cetak di surabaya.
  3. Rotib Syaikhona Kholil, disebarkan dalam bentuk selebaran oleh KH. Kholil bin KH. Moh Yasin Kepang pada tahun 28/9/1404 H. dan di cetak ulang oleh Lajnah Turots Ilmy Syaikhona Muhammad Kholil pada tahun 2019 dan 2020.
  4. Isti’dad al-Maut (panduan fikih jenazah), bertahun 3 Dz. Qa’dah 1309 H. Disalin dan dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2019 M.
  5. Taqrirat Nuzhah Thullab (Kaedah I’rob, gramatika arab), bertahun 1315 H. Disalin dan dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2019 M.
  6. Al-Bina’ Dhimna Tadrib wa Mumārasah (ilmu sharaf), bertahun 3/10/1309 H. Disalin dan dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2020 M.
  7. Taqrirat Matn al-Izzi (ilmu sharaf), bertahun 1309 H. Disalin dan dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2020.
  8. Tafsir al-Khalil (Terjemah lengkap Al-Qur’an dg makna Jawa pegon dan catatan pinggir), bertahun 1320 H.
  9. Muktasahar Fiqh Ibadah, lengkap dengan makna Jawa pegon, bertahun 13 Ramadhan 1308 H.
  10. Buku Khutbah (memuat satu khutbah Jum’at, dan dua khutbah untuk dua hari raya), bertahun Jum’at 19 Ramadhan 1323 H.
  11. Buku Dzikir dan Wiridan, bertahun Ramadhan 1323 H.
  12. Al-‘Awāmil, makna pego Jawa dan taqrir (Nahwu tingkat dasar), bertahun 1309 H.
  13. Taqrirat Matn al-Ajurrumiyah dan makna pego Jawa (Nahwu tingkat dasar), bertahun 1309 H.
  14. Taqrirat Alfiyah dan makna pego Jawa (nahwu tingkat lanjutan), bertahun Malam Senin Dz. Qa’dah 1311 H. (Ditemukan di Dzurriyah KH. Rawi Mancengan Bangkalan).
  15. Taqrirat Alfiyah dan makna pego Jawa, bertahun 3 Ramadhan 1314 H. (Ditemukan di Dzurriyah KH. Nawawi Mlonggo Jepara).
  16. Jauharah al-Tauhid dan makna pego Jawa (ilmu tauhid).
  17. Bad-u al-Amāli dan makna pego Jawa.
  18. Kitab Wasiat bi Taqwa Allah, dan makna pego Jawa, bertahun 1308 H.
  19. Maulid al-Barzanji dan makna.
  20. Qashidah Hubbi li Sayyidana Muhammad dan makna, bertahun 1309 H.
  21. Taqrirat Nazham al-Jazariyyah (ilmu tajwid), bertahun 1314 H.

 

6       Kisah Teladan

6.1      Santri yang Mandiri

Sebenarnya, bisa saja Mbah Cholil muda tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kyai Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal di Keboncandi, meskipun Mbah Cholil muda sebenarnya berasal dari keluarga yang dari segi perekonomiannya cukup berada. Ini bisa ditelisik dari hasil yang diperoleh ayahnya dalam bertani.

Akan tetapi, Mbah Cholil muda tetap saja menjadi orang yang mandiri dan tidak mau merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Mbah Cholil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik itulah dia memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sewaktu menjadi Santri Mbah Cholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Di samping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).

Kemandirian Mbah Cholil muda juga nampak ketika beliau berkeinginan untuk menimba ilmu ke Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Mbah Cholil muda tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orangtuanya.

6.2     Menabung untuk Menuntut lmu ke Mekkah

Kyai Cholil muda adalah sosok pemuda yang mandiri. Pada saat itu, dirinya ingin melanjutkan menuntut ilmu ke Mekah, Arab Saudi. Tetapi tidak ingin meminta biayanya kepada orang tua. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kiai Cholil sebelum berangkat ke Mekah terlebih dahulu ngaji di pondok pesantren Banyuwangi. Di pondok tersebut, beliau juga bekerja di kebun pengasuh pondok. Dengan bekerja di kebun sebagai pemetik buah kelapa, beliau di bayar 2,5 sen setiap pohon kelapa. Dengan penghasilan tersebut, uang yang didapatkannya di tabung untuk biaya menuntut ilmu ke Mekah. Selain itu, untuk makan sehari-hari, beliau menjadi khodim di dalem pondok pesantren dengan mengisi bak mandi, mencuci pakaian dan melakukan pekerjaan yang lain. selain itu, Kiai Cholil juga menjadi juru masak bagi teman-temannya, dengan seperti itu dirinya bisa mendapatkan makan dengan gratis. 

 

7        Karomah

Berikut adalah karamah yang dengan kehendak Allah SWT, yang dimiliki oleh Syekh Kholil al-Bangkalani:

7.1     Ke Mekkah Naik Kerocok

Suatu sore di pinggir pantai daerah Bangkalan, Syekh Kholil ditemani oleh KH. Syamsul Arifin ayahanda dari Kiai As’ad Situbondo. Bersama sahabatnya itu, mereka berbincang-bincang tentang pengembangan pesantren dan persoalan umat Islam di daerah Pulau Jawa dan Madura.

Persoalan demi persoalan dibicarakan, tak terasa saking asyik berdiskusi matahari hampir terbenam. Padahal mereka belum melaksanakan shalat Asar, sementara waktunya hampir habis sehingga tidak mungkin melaksanakan shalat asar dengan sempurna dan khusyuk.

Akhirnya Syekh Kholil memerintah Kiai Syamsul Arifin untuk mengambil kerocok (sejenis daun aren yang dapat mengapung di atas air) untuk dipakai perjalanan menuju Makkah. Setelah mendapatkan kerocok, lantas Syekh Kholil menatap ke arah Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya berjalan dengan cepat menuju Makkah. Sesampainya di Makkah, azan asar baru saja dikumandangkan. Setelah mengambil wudlu, Syekh Kholil dan Kiai Syamsul Arifin segera menuju shaf pertama untuk melaksanakan shalat asar berjamaah di Masjidil Haram.

7.2     Mengobati Anak Pecandu Gula

Dikisahkan oleh KH. Abdullah Syamsul Arifin, ketua PCNU Jember, terdapat seorang warga yang mempunyai anak dengan kelainan hobi mengonsumsi gula berlebih, bahkan setiap hari anak tersebut bisa menghabiskan sekian kilo gula pasir. Akhirnya ayah anak itu nyabis (sowan) ke Syekh Kholil Bangkalan.

Di hadapan Syekh Kholil ia mengeluh soal kebiasaan anaknya menyantap gula. Ia berharap agar sang Syekh berkenan menyembuhkan penyakit yang mendera anaknya. Namun Syekh Kholil malah menjawab permohonan si ayah dengan menyuruhnya datang kembali satu minggu kemudian.

Tamu tersebut pamit, namun sejak saat itu kebiasaan si anak semakin menjadi-jadi dan semakin banyak gula yang dihabiskan setiap hari, dimakan begitu saja. Sang ayah tetap memenuhi perintah Syekh Kholil untuk datang kembali ke rumahnya seminggu kemudian. Setelah pertemuan yang kedua, anak tersebut berhenti total mengonsumsi gula.

Konon, selama seminggu Syekh Kholil bertirakat. Tidak makan makanan atau minuman yang berbahan gula pasir. Pesannya sederhana, jika ingin menyuruh sesuatu maka harus mengerjakannya dulu. Kalau ingin melarang sesuatu terhadap orang lain maka yang bersangkutan dahulu yang wajib memberi contoh jika ingin larangannya dipatuhi.

7.3       Tertawa Keras saat Shalat

Pada suatu hari, saat salat jamaah yang dipimpin oleh seorang kiai di sebuah pesantren tempat Syekh Kholil muda mencari ilmu, ia tertawa cukup keras. Setelah selesai salat sang kiai menegur Syekh Kholil muda atas sikapnya tersebut yang memang dilarang dalam Islam.

Ternyata Syekh Kholil muda masih terus tertawa meskipun kiai sangat marah terhadapnya. Akhirnya ia menjawab hal yang menyebabkannya tertawa keras, bahwa ketika salat berjamaah berlangsung dia melihat sebuah "berkat" (makanan yang dibawa pulang sehabis kenduri) di atas kepala sang Kiai.

Mendengar jawaban tersebut sang kiai sadar dan malu atas salat yang dipimpinnya. Karena sang kiai ingat bahwa selama salat berlangsung dia merasa tergesa-gesa untuk menghadiri kenduri yang mengakibatkan salatnya tidak khusyuk.

7.4       Ditangkap lalu Dibebaskan oleh Belanda

Syekh Kholil pernah ditahan oleh penjajah Belanda karena dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat perlawanan terhadap kolonial di pondok pesantrennya. Ketika Belanda mengetahuinya, Syekh Kholil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri.

Tetapi ditangkapnya Syekh Kholil, malah membuat pihak Belanda pusing dan kewalahan karena terjadi hal-hal yang tidak bisa mereka mengerti. Seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.

Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Syekh Kholil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Syekh Kholil untuk dibebaskan.

7.5       Membelah Diri

Kesaktian lain dari Mbah Cholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Cholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyup,” Cerita KH Ghozi.

Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngeloyor masuk rumah, ganti baju. Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan ke Mbah Cholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Cholil.

”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Cholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” Papar KH Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

 

8       Sumber

  1. https://turots.id/
  2. https://www.ayosemarang.com/
  3. :www.pastiaswaja.org

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya