Biografi KH. Cholil Nawawi

 
Biografi KH. Cholil Nawawi

Daftar Isi Profil KH. Cholil Nawawi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Sosok yang Mencintai Ilmu
  5. Karomah
  6. Teladan

Kelahiran

KH. Cholil Nawawi adalah putra dari pasangan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. Nawawie Noerhasan dengan Nyai Nadzifah. Beliau lahir sekitar tahun 1925 M/1343H. Konon nama Cholil sendiri merupakan pemberian langsung dari Mbah Kholil Bangkalan.

Wafat

KH. Cholil Nawawi wafat pada Senin, 21 Ramadhan 1397 H atau 05 September 1977.

Sebelum meninggal dunia, beliau yang pada saat itu sedang mengerjakan salat tarawih bersama KH. Abdul Halim, bertanya kepada beliau, apakah saya boleh duduk salatnya ?, iya silahkan Mbah. Tidak lama kemudian, KH. Cholil Nawawi ingin pergi ke kamar kecil. Ketika itu, beliau terjatuh. Pada saat itu juga KH. Cholil Nawawi menghebuskan nafas terakhirnya.

Ribuan orang hadir untuk memberikan penghormatan, dan mendoakan kepada Beliau. Termasuk Rais ‘Am NU KH. Ahmad Shiddiq Jember. Beliau mengatakan “KH. Cholil itu wali karena istiqamahnya.”

Pendidikan

KH. Cholil Nawawi semasa kecil, beliau dididik langsung oleh KH. Abdul Djalil, kemudian beliau menlanjutkan belajarnya di Pesantren Sarang, Jawa Tengah, saat pesantren itu diasuh oleh KH. Zubair, ayahanda KH. Maimun Zubair.

Saat mondok di sana, disamping mengaji, secara sembunyi-sembunyi beliau juga ndalem yang mengisi bak mandi KH. Zubair. Selang beberapa lama, hal tersebut diketahui, KH. Zubair berkata kepada Kiai Cholil, “Mas, sampeyan wangsul mawon, saaken liane (Mas, kamu pulang saja, kasihan yang lain).” Maksud kata “kasihan” itu karena hampir di setiap sisi beliau unggul, sementara santri lainnya tertinggal jauh. Di Pondok Sarang, Kiai Cholil mondok hanya sekitar tiga bulan.

Selepas dari Sarang, Kiai Cholil melanjutkan mengaji kepada KH. Mahfudz, Termas, dan KH. Masduki, Lasem, Jawa Tengah. Tidak diketahui secara pasti berapa lama Kiai Cholil mengaji kepada dua ulama kenamaan tersebut.

Selang beberapa lama, Kiai Cholil berangkat nyantri ke Makkah. Di Tanah Suci, Kiai Cholil mengaji kepada ulama-ulama besar, di antaranya Syaikh Amin Kutbi dan Syaikh Hasan Al-Yamani. Beliau menghabiskan waktu belajar di Makkah selama tiga tahun.

Sosok yang Mencintai Ilmu

KH. Cholil Nawawi adalah sosok yang kesehariannya penuh dengan keteladanan. Di antara teladan istimewanya adalah keistiqamahannya yang sangat menonjol dalam hal belajar dan mengajar. Sedari kecil, kecintaannya pada ilmu sudah sangat kuat. Itu ditandai diantaranya dengan kepergiannya yang selalu tak pernah lepas dari kitab. Sementara dalam hal mengajar, para santrinya sangat merasakannya.

Bagi mereka, hampir tidak pernah ada libur dalam majelis-majelis rutin bersama Kiai Cholil di sepanjang hidupnya. Cerita salah seorang muridnya, Ustadz Abdurrahman Syakur, dirinya sering diajak Kiai Cholil untuk menghadiri undangan. Biasanya naik dokar. Di sela-sela perjalanan, Kiai Cholil sering kali menyempatkan diri mengajari pelajaran ilmu faraidh.

Sampai sekarang pelajaran yang diberikan Kiai Cholil terus teringat dan banyak manfaatnya bagi si ustadz. Dalam pengembangan kualitas keilmuan santri, khususnya para santri senior, beliau sangat menaruh perhatian. Secara bergilir santri senior dipanggil untuk membaca kitab di hadapannya. Karena Kiai Cholil yang memanggil, mau tidak mau, mereka tertuntut untuk selalu siap menguasai materi pelajaran, khawatir bila mereka dipanggil secara mendadak.

Ketekunannya dalam menyimak memang luar biasa. Adiknya, Kiai Hasani, sangat mengagumi sifat kakaknya itu. Kiai Hasani pun sampat mengutarakan langsung kekagumannya kepada sang kakak. Namun dengan tawadhu’ Kiai Cholil menganggap ketekunan itu satu hal yang sangat wajar dan tidak perlu dikagumi. “Tidak tahu, Ni (Kiai Hasani), saya senang muthala’ah, anak-anak senang mendengarkan),” katanya kepada Kiai Hasani.

Salah seorang kiai, Kiai Aqib Yasin, pernah menuturkan, dalam hal ibadah dzahir, Kiai Cholil bisa dibilang “biasa”. Tapi dalam hal ta’lim wa ta’allum, beliau luar biasa. “Tirakat Kiai Cholil itu ta’lim wa ta’allum.” Mengenai ketekunannya tersebut, Kiai Cholil pernah menukil dhawuh dari ayahnya, Kiai Nawawie Noerhasan, “Tekunlah belajar dan shalat berjama’ah, niscaya kau peroleh ilmu yang bermanfaat”.

Rupanya, dhawuh itu sangat membekas dan menjadi prinsip hidup Kiai Cholil. Tidak ada kamus berleha-leha, melepaskan waktu tersia-sia tanpa belajar. Teringat akan dhawuh itu pula, selain dalam hal ilmu, dalam hal shalat berjama’ah selama hidupnya bisa dikatakan ia tidak pernah meninggalkan salat berjama’ah. Ketika hampir wafat pun, beliau memaksakan diri salat berjama’ah dengan bermakmum kepada seorang kiai lainnya, KH. Abdul Halim.

Kiai Cholil termasuk seorang hafizhul Qur’an, orang yang hafal al-Qur'an. Bila ia mengimami shalat berjama’ah, suaranya menyejukkan qalbu dan sangat menyentuh hati, hingga tak jarang membuat air mata orang yang bermakmum kepadanya menetes tanpa mereka sadari. Kiai Cholil adalah sebuah kitab yang telah termanifestasi dalam tingkah laku.

Demikian buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri menyebutkannya. Dengan kata lain, beliau adalah kitab berjalan yang berhias perilaku yang penuh dengan keteladanan dalam gerak-geriknya sehari-hari. Akhlaq dan syari’atnya tepat berpadu dengan ilmunya.

Sepulang menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Kiai Cholil berkata pada Kiai Hasani, “Tidak pas, Ni. Mengerjakan sunnah, meninggalkan yang wajib.” Kalimat itu adalah ungkapan protes darinya pada sistem dan juga praktik pelaksanaan ibadah haji yang sering mengabaikan salat dalam perjalanan.

Pada suatu acara walimah, uang Kiai Cholil diambil oleh Gus ‘Ud, seorang yang terkenal sebagai wali majdzub. Kiai Cholil mengingatkan, “Haram, Gus… haram, Gus!” Kiai Cholil mengingatkan, siapapun orangnya, jika tidak sesuai syari’at, harus ditegur. Selain tegas dalam hal syari’at, profilnya dikenal sangat sederhana dan tidak suka ditonjol-tonjolkan. Dalam forum-forum apapun beliau lebih senang diam.

Diamnya bukan berarti diam tidak paham atau acuh tak acuh. Diamnya itu adalah untuk memberikan kesempatan bicara yang lebih luas kepada yang lainnya. Terbukti, biasanya setelah semua anggota dalam suatu forum kehabisan argumen atau ada yang musykil, barulah Kiai Cholil angkat bicara, dan mereka semua langsung bisa menerima. Sehingga, bisik-bisik di kalangan mereka menyebutkan, ”Kiai Cholil banyak hafal kitab”.

Saat makan, bila sudah terasa nikmat, beliau berhenti seketika. Soal kebiasaannya ini, Kiai Cholil tidak pernah bercerita, hingga sampai suatu ketika salah seorang yang biasa mendampinginya bertanya kepadanya tentang hal itu. “Saya khawatir nikmat saya habis di dunia,” jawab Kiai Cholil. Sikap hidup sederhana Kiai Cholil bisa dibaca dari doa yang tertampang di dalemnya, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin. Dan ambil nyawaku dalam keadaan yang sama. Serta kumpulkankanlah aku bersama orang-orang miskin.”

Juga sebuah ayat al-Quran yang maknanya, “Kami memberikan makan pada kalian hanya untuk (mencari) ridha Allah. Kami tidak mengharap dari kalian balasan dan juga kata terima kasih.” Kedua kalimat itu terpampang di ruang tamu dalem Kiai Cholil dan sering dibaca olehnya. Tulisan itu bukan sebuah hiasan belaka atau slogan kosong, tapi betul-betul terwujud nyata dalam kehidupan Kiai Cholil sehari-hari. 

Karomah

Karomah KH. Cholil Nawawi memang sudah tampak sejak kecil, hingga sebagian orang pun meyakininya sudah menjadi wali sejak kecilnya itu. Kewalian tersebut ditunjukan ketika sehari sebelum Mbah Cholil Bangkalan wafat, Kiai Cholil berteriak-teriak, “Medura kiamat, Medura kiamat (Madura kiamat, Madura kiamat)”. Ucapan itu diteriakkan Kiai Cholil berkali-kali, sehingga didengar oleh abahnya, KH. Nawawie, yang waktu itu sedang mengajar di surau. “Ana apa, Lil (ada apa Lil)?” Kiai Nawawie bertanya.

“Medura kiamat, Ba (Madura kiamat, Abah),” kata Mas Cholil, mengulang.

KH. Nawawie baru mengerti perkataan Kiai Cholil pada keesokan harinya, ketika sampai berita kepadanya bahwa Mbah Cholil Bangkalan wafat. Ulama adalah pilar dunia yang dapat menahan murka Allah untuk menurunkan adzab pada manusia. Karena itu, wafatnya seorang ulama besar sekelas Mbah Cholil bisa disebut sebagai kiamat.

Teladan

Di ndalem KH. Cholil Nawawi ada dua lumbung padi, satu untuk keperluan ndalem, yang satunya untuk persediaan seandainya masyarakat kampung membutuhkan. Kondisi seperti itu sudah lama ia perhitungkan. Sebab, ketika waktu paceklik datang, biasanya masyarakat akan datang meminta bantuan kepadanya. Suatu saat panen gagal, sehingga masyarakat berduyun-duyun meminta bantuan.

Saking banyaknya yang datang, lumbung persediaan yang biasanya untuk keperluan dalem juga dikeluarkan, tapi tetap saja tidak mencukupi. Kondisi itu membuatnya menangis sedih. Ia merasa tidak dapat membantu masyarakat dengan maksimal. Bila hari raya sudah dekat, seperti biasanya banyak orang berkeliling menjajakan dagangan dari rumah ke rumah.

Setiap orang yang datang kepadanya untuk menawarkan barang, hampir pasti barang dagangannya dibelinya, dan untuk sementara waktu disimpannya di ndalem. Ketika hari raya tiba, semua barang itu dibagikan kepada tetangga sekitar. Kiai Cholil juga dikenal sebagai seorang yang sangat menghormati tamu dan tidak membeda-bedakan siapa pun tamu yang datang kepadanya. Semua tamu ia sambut dengan penuh hormat dengan sambutan yang hangat.

Wujud kepeduliannya juga dapat dilihat dari komitmennya yang bukan saja mengajar santri-santri didiknya, tetapi juga mendidik masyarakat. Secara rutin ia memberikan pengajian kepada masyarakat kampung setiap hari Selasa. Sementara pada hari Ahad ia memberi pengajian kitab Bidayatul Hidayah kepada kepala desa dan aparatnya se-Kecamatan Kraton.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya