Sayyid Al-Habib Abdurrahman bin Zein bin Ali bin Ahmad Al-Jufri dilahirkan pada tahun 1938 di Semarang. Ayahanda beliau adalah seorang ulama yang terkenal dengan ketinggian akhlak, keluasan ilmu, dan kesederhanaan hidupnya, yaitu Sayyid Al-Habib Zein bin Ali bin Ahmad Al-Jufri.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
1.2 Wafat
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4. Referensi
1. Riwayat Hidup
1.1 Lahir
Habib Abdurrahman bin Zein bin Ali bin Ahmad Al-Jufri lahir pada tahun 1938 di Semarang. Ayahanda beliau adalah seorang ulama yang terkenal dengan ketinggian akhlak, keluasan ilmu, dan kesederhanaan hidupnya, yaitu Sayyid Al-Habib Zein bin Ali bin Ahmad Al-Jufri. Sedangkan ibundanya adalah sosok perempuan sholehah, yakni Sayyidah Hababah Sidah binti Muhdlor As-Segaf.
1.2 Wafat
Sayyid Al-Habib Abdurrahman bin Zein bin Ali bin Ahmad Al-Jufri berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 26 Juli 1997/21 Rabiul Awal 1417 H, tepat satu minggu setelah beliau memandikan Sayyid Al-Habib Syaikh bin Abu Bakar As-Segaf di Solo. Menjelang berpulang ke Rahmatullah, Habib Abdurrahman bin Zein masih mengisi acara dan memberi nasihat kepada murid-muridnya. Beliau menyampaikan agar senantiasa memperhatikan shalat lima waktu.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Ketika berusia 8 tahun, beliau diantar oleh ayahandanya ke Kota Tarim di Hadramaut (Yaman) untuk belajar pada Sayyid Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri. Selain belajar kepada Sayyid Habib Abdullah bin Umar As-Syatiri, Habib Abdurrahman bin Zein juga belajar kepada banyak ulama lain, di antaranya adalah Sayyid Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Shihab, Sayyid Al-Habib Ali bin Hafidz bin Syaikh Abu Bakar, Sayyid Al-Habib Ali bin Toha Al-Haddad, dll.
Habib Abdurrahman bin Zein mendapat ijazah pembacaan Maulid Al-Ahzab secara langsung dari Syaikh Muhammad Al-Ahzab, ketika masih belajar di Hadramaut. Setelah rampung belajar di sana, beliau kembali ke Indonesia dan kembali belajar kepada para ulama Indonesia, di antaranya adalah Sayyid Al-Habib Ahmad bin Umar As-Segaf (Semarang), Sayyid Al-Habib Toha bin Umar As-Segaf (Semarang), Sayyid Al-Habib Ali bin Ahmad (Pekalongan), Sayyid Al-Habib Ali bin Ahmad Al-'Atthos (Pekalongan), Sayyid Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Sayyid Al-Habib Ali bin Abdurrahman As-Syatiri (Jakarta), dan lain-lain.
Dalam satu kesempatan, Habib Abdurrahman bin Zein pernah mengatakan bahwa kalau sedang di Jakarta, beliau tidak lupa mengunjungi salah satu dua Habib Ali, yaitu Sayyid Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi dan Sayyid Al-Habib Ali bin Husein Al-'Atthos.
3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Habib Abdurrahman bin Zein selalu berpesan kepada murid-muridnya untuk selalu menuntut ilmu, salah satunya dengan menghadiri majelis taklim. Beliau tidak hanya menyampaikan secara lisan, tetap juga secara langsung memberi contoh. Di antara beberapa majelis yang rutin beliau adalah majelis pembacaan Maulid Nabi, peringatan haul dan majelis pembacaan Shahih Bukhari.
Dalam satu kesempatan, ketika berada di "Majelis Rauhah" di kediaman Sayyid Al-Habib Abu Bakar As-Segaf (Gresik), beliau berkata; "seandainya keberkahan majelis ini ditebus dengan uang 1 Miliar sekalipun, maka tetap tidak akan menggantikan keberkahan majelis tersebut."
Sementara itu, Habib Abdurrahman bin Zein mengasuh beberapa majelis taklim di Semarang, di antaranya adalah pengajian Ahad pagi di kediaman ayahandanya, yakni di Jl. Pethek 55 Semarang, dan pembaca
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

