04 Jul 2018 Β· 2.666 dibaca · Artikel
Senin, 02.07.18, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Karangharjo, Silo, Jember, asuhan Kiyai muda, DR. Hodri Ariev, aku diminta bicara dalam Diskusi bertema "Untuk Apa/Siapa Kita Beragama". Aku didampingi pembicara lain, seorang pengamat Timur Tengah : Kiyai Hasibullah Satrawi. Aku bicara sebisanya. Antara lain ini :
Agama, di mana Tuhan selalu disebut di dalamnya, hari-hari ini tampaknya semakin menjadi amat penting dalam hidup manusia. Dia memberi mereka kekuatan, kepastian, sekaligus menerangi jalan dan menyediakan harapan-harapan keindahan, kelembutan dan kasih.
Hampir di setiap ruang nama Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa diulang-ulang beratus dan beribu kali. Di tempat-tempat istirah para kekasih Allah, selalu ada gemuruh alunan kitab suci, zikir dan doa, siang dan malam, tanpa jeda.
Pada momen-momen sejarah, ada untaian indah salawat atas Nabi, kekasih Allah, sang pembawa kasih Tuhan, kadang diiringi tabuhan-tabuhan khas.
Tetapi, betapa ironi, dan sarat paradoks, karena dalam waktu yang sama, di sudut lain, nama Tuhan dijadi
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+