20 Aug 2018 · 3.116 dibaca · Politik & Hukum
LADUNI.ID I Jakarta - Direktur Wahid Institut, Ariffah Chafsoh Rahman Wahid yang lebih dikenal dengan panggilan Yenny Wahid mengatakan bahwa NU seharusnya berjalan dengan Khittah NU 1926 sesuai kesepakatan hasil Muktamar ke-27 NU tahun 1984 di Situbondo Jawa Timur.
“Secara organisasi NU tidak boleh berpolitik praktis meskipun yang maju dalam Pilpres merupakan Rais Aam PBNU,” ujar Yenny, Ahad (19/8/2018) malam, setelah acara Istighasah Kubra di Masjid Jami' Nurul Islam Koja, Jalan Cipeucang II, Koja, Jakarta Utara.
NU tidak boleh berpolitik praktis, lanjut Yenny, itu semua sudah menyadari, dan saya kira ini sudah menjadi pegangan sikap kita semua.
“Secara individu warga NU boleh berpolitik dan boleh memilih siapapun calon pemimpinnya, warga NU juga boleh menjadi tim sukses dari pasangan Jokowi-Kiai Ma'ruf Amin ataupun pasangan Prabowo-Sandiaga Uno,” ucap putri kedua Gus Dur ini.
Menurut dia, NU memang netral dalam berpolitik. Itu sikap organisasi dari dulu sampai sekarang. Kalau kemudian ada or
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+