Masa KH. Muhammadiyah adalah masa pertumbuhan sekaligus memasuki masa kemajuan yang sangat pesat pengajian dan Pengkajian kitab kuning (mangngaji kitta' dalam bahasa daerah).
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil KH. Muhammadiyah Campalagian
Kelahiran
KH. Muhammadiyah lahir sekitar 1901 di Bonde Kampung Masigi Campalagian. Beliau merupakan putra dari pasangan Rundang dengan Mira.
Wafat
KH. Muhammadiyah wafat tahun 1962 di Desa Komba Larompong wilayah Palopo Luwu Sulawesi Selatan.
Keluarga
KH. Muhammadiyah melepas masa lajangan dengan menikahi Tammauna. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 6 orang anak, putra-putri beliau diantaranya:
- KH. Bukhari Muhammadiyah, seorang Imam Masjid Jami' Polewali
- Ust. Baharuddin Muhammadiyah, sebagai Khatib Masjid Raya Campalagian
- KH. Muhammad Zein yang menjabat Qadhi ke XVII tahun 1954-1983
- Ust. Drs. H. Urwah Muhammadiyah alumni IAIN Alauddin Makassar berkiprah sebagai tokoh agama dan ulama di Bontang Kalimantan Timur
- Hafsah yang tinggal di Bonde Kampung Masigi Campalagian
- Kasim
Pendidikan
Pada masa Campalagian khususnya di Kampung Masigi Bonde telah datang seorang ulama murid Syekh Abdul Karim Pontianak berasal dari Belokka Sidrap, namanya KH. Maddappungen. Pada tahun 1910 Beliau menikah dengan puteri KH. Abd Hamid Dahlan, Syekh Said Alwi bin Sahl bin Jamalullail dari Yaman wafat dan dimakamkan di Campalagian pada tahun 1934, Syekh Said al-Yamany beserta keluarganya Syekh Hasan al-Yamany, keduanya adalah mufti Syafi'i di Mekkah al-Mukarramah dan Syekh Umar al-Yamany dari Arab Saudi sekitar tahun 1923-1937.
KH. Muhammadiyah belajar langsung kepada para ulama yang disebutkan di atas, selain kepada KH. Abd Hamid Dahlan. Dalam catatan riwayat hudupnya disebutkan bahwa Beliau pernah juga belajar di Pulau Salemo Pangkep, pernah juga di Bone dan tempat lainnya, hanya tidak disebutkan nama-nama gurunya di sana. Pendidikannya lebih fokus pada pendidikan agama khususnya pengajian dengan belajar kepada para ulama. Beliau tidak melalui proses pendidikan formal dengan sistem dan materi umum sebagaimana pada umumnya di zaman Belanda.
Mendirikan Madrasah
Pada masa awal KH. Muhammadiyah ini, pengajian kitab kuning berlangsung di masjid dan di rumahnya dengan sistem sorogan atau mangngolo baca dan halaqah. Oleh karena jumlah santri semakin banyak dan ramai, baik dari daerah lokal maupun dari luar, maka KH. Abd Hamid Dahlan pada saat itu sebagai Qadhi Masjid Raya Campalagian, berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan secara formal yaitu didirikanlah Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) pada tahun 1930. Walaupun sudah berdiri Madrasah, tetapi prosesi pembelajaran dan pengajiannya tetap berlangsung di rumah.
Pada tahun 1936 mulailah ada bangunan fisik secara resmi khusus Madrasah Arabiyah Islamiyah didirikan di atas tanah yang diwakafkan oleh KH. Abd Hamid Dahlan yang terletak di Jl. Ammana Ma'jju Desa Bonde Campalagian. Di atas tanah Wakaf inilah saat ini berdiri bangunan bagus berantai dua, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah di bawah naungan Yayasan Perguruan Islam.
Pendiriannya oleh KH. Abd Hamid, namun dalam hal pengelolaan dan pembinaannya banyak dinakhodai dan dipimpin oleh KH. Muhammadiyah.
Dalam proses pembelajaran dan pengajian di Madrasah ini, selain KH. Muhammadiyah juga bersama-sama para ulama setempat lainnya yang juga murid dari KH. Abd Hamid, KH. Maddappungen, Syekh Hasan al-Yamani, dan alumni Madrasah ini, antara lain KH. Abd Rahim (1967) ulama sangat t
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

