Seorang petinggi Quraisy, Abdul Muthalib termenung. Ia terkenang kisah leluhurnya, Ibrahim AS. yang diperintah Tuhan menyembelih Ismail, sang putra tercinta.
Hatinya berkecamuk. Pilu. Ia merasakan, getar Nabi Ibrahim kini telah berpindah ke dadanya. Bedanya, Ibrahim di masa silam ditantang iman. Sementara dirinya, disandera nazar.
Abdul Muthalib menangis. Betapa tak tega hati jika ia mesti menyembelih Abdullah, anak yang paling disayanginya. Namun apa daya, janji sudah kepalang. Ia pernah berucap jika anaknya genap sepuluh orang, maka si bungsu akan dikurbankan.
Muasal
Berpuluh tahun sebelumnya, penguasa Mekah bernama Madhad ibn Amru al Jurhumi tengah kewalahan menghadapi gempuran musuh-musuhnya. Dengan mengandalkan sisa tenaga yang dimiliki, ia berniat menghilangkan jejak serta mengamankan sebagian hartanya.
Beberapa patung emas, pedang, dan beragam benda berharga lainnya ia ceburkan ke dalam sumur, setelah itu diuruk dengan panasnya pasir jazirah Arab.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+