06 Sep 2018 · 2.149 dibaca · Kolom
LADUNI.ID, Jakarta - Kedudukan pemimpin berada diatas dan berhak untuk mengatur dan memerintahkan bawahannya. Namun idealnya pemimpin itu mereka yang justru melayani bukan dengan tujuan untuk dilayani, yang memimpin dari qalbu seorang “hamba” dan yang penuh dedikasi pengabdian. Dari sini kewibawaan dan kerendahan hati sangat dibutuhkan bagi sosok pemimpin. Tidak diwarnai egois dan kesewenangan adalah keniscayaan.
Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang memiliki jiwa besar untuk bersedia merendahkan diri, melayani mereka yang ia pimpin dengan penuh pengabdian. Fokusnya ada pada bagaimana mensejahterakan, mengantarkan segala kebaikan bagi mereka yang ia pimpin. Jiwa pelayanan atau pengabdian ini akan mengibarkan seorang pemimpin menjadi pemimpin yang besar dan bermartabat. (Andew king, 2010).
Pernyataan ini juga sebagaimana diamanatkan di dalam isi pidato politik Abu Bakar Ash-Shindiq pertama beliau, bunyinya: “Kejujuran itu merupakan amanah, sedangkan dusta itu merupakan pengkhianatan. Kaum yang lemah menempati posisi
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+