14 Sep 2018 · 6.551 dibaca · Sejarah
Laduni. ID, Jakarta – Bagi masyarakat Aceh, mengenang perang selama beberapa puluh tahun dengan Belanda, selalu diiringi dengan kisah “Snouck”. Demikian orang Aceh memanggil, penasehat politik Hindia Belanda tersebut. Bahkan karena begitu membenci Snouck, orang tua sering menasihati anak-anak mereka, supaya tidak seperti si Snouck. Rasa perlawanan orang Aceh terhadap Belanda memang bukan hanya karena persoalan membenci penjajah, tetapi juga orang Belanda dianggap sebagai kafir, yang darahnya dihalalkan.
Menurut Azumardi Azra dalam bukunya, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara pada 1871 perjanjian Belanda dan Inggris direvisi. Hasilnya tersebut membebaskan Belanda dari janji mereka untuk tidak memperluas kekuasaan terhadap Aceh. Namun pada saat itu Aceh sedang dipimpin oleh Tuanku Ibrahim (1838-1870) yang bergelar Sultan ‘Ali’ Ala Al-Din Manshur Syah. Di tangan Sultan Ibrahim, Kesultanan Aceh kembali menjadi kekuatan nyata yang berupaya menegakan otoritasnnya atas seluruh kawasan utara Sumatra. Perang Aceh merupakan perang Kolonia
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+