Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Syekh H. Ibrahim Budi Lamno
✓ Terverifikasi Tim Riset

Syekh H. Ibrahim Budi Lamno

wafat 1997 M · 16.377 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Abu Budi Lamno; Ulama dari Negeri Meureuhom Daya*

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara menuntut Ilmu
2.2  Guru-guru

3.    Penerus
2.1  Murid-murid

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mengasuh Pesantren
4.2  Karier

 

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Tgk. H. Ibrahim bin Ishaq atau yang lebih akrab dipanggil dengan Abu BUDI lahir digampong Meukhan Kacamatan Jaya Kabupaten Aceh Barat (sekarang sudah menjadi Aceh Jaya), tepatnya pada bulan muharram 1357 H atau persisnya tahun 1936 M, putra pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Tgk. Ishaq dengan Hj. Halimah.

1.2 Wafat
Tepat pada hari Rabu tanggal 14 Mei 1997 M. bertepatan dengan 7 muharram 1418 H. pukul 23.00 WIB (11 malam) ABU berpulang kerahmatullah dalam usia 61 tahun, yang diduga akibat sesak nafas.

1.3 Riwayat keluarga
Abu BUDI Lamno melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. Sunainiyah. Buah dari pernikahnnya, beliau dikaruniai, empat orang anak yaitu Nabhani, Chairiati, Afifuddin dan Nurhidayati.

2.  Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Mengembara menuntut Ilmu

Sejak kecil, Abu Budi yang sebelumnya bernama Razali, telah menunjukkan keaktifannya. Dengan bimbingan dan asuhan kedua orang tua tercinta serta pertolongan Allah SWT, dan tumbuh menjadi balita yang lincah dan penuh energi. Melihat tingkah laku yang sangat aktif ini, orang tuanya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Ibrahim.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Abu Budi diarahkan oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu agama sejak dini. Pendidikan agama pertama kali diberikan oleh ibu dan ayahnya yang mengajarkan membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu keislaman seperti fiqh, tafsir, dan tauhid. Kemudian, pada usia remaja, pamannya memasukkannya ke sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama hingga usia 15 tahun.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren tersebut, Abu Budi dibawa oleh pamannya ke kampung Jengji untuk memperdalam ilmu agama. Di sini, beliau belajar kepada para kiai setempat dan pamannya sendiri. Tak lama kemudian, beliau dipindahkan ke kampung Karang Kanjung untuk belajar selama tiga tahun. Di sini, beliau mempelajari berbagai ilmu dengan penuh kesungguhan, termasuk hadis yang sangat mempengaruhi semangat belajarnya, seperti hadis "manjada wajada" yang berarti "barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil".

Perjalanan belajarnya tidak selalu mudah. Ketika menghafal kitab Alfiah, Abu Budi remaja pernah terkena gigitan ular tanah. Namun, dengan kesabaran dan ketabahan,  tetap melanjutkan belajar hingga berhasil menghafal kitab tersebut dengan sehat walafiat. Di pesantren Karang Tanjung yang dipimpin oleh Kiai Ahmad Salim bin Kiai Amin, Abu Budi selalu mendapatkan prestasi yang baik dan sangat disayangi oleh kiainya.

Setelah beberapa tahun belajar di Karang Tanjung, Abu Budi melanjutkan pendidikan di pesantren di Turus yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Kiai H. Muhammad Idrus. Meskipun pesantren ini dipimpin oleh pamannya, Abu Budi tetap rajin dan tidak bermanja-manja. Di sana, ia mempelajari ilmu fiqh, hadis, tauhid, tasawuf, dan tarikh. Karena p

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+