18 Sep 2018 Β· 2.746 dibaca · Islam Nusantara
Laduni.ID, Jakarta - Peringatan 10 Muharram atau Hari Asyura di Indonesia tidak hanya dipahami sebagai momentum spiritual dalam tradisi Islam, tetapi juga berkembang menjadi ekspresi budaya yang beragam di berbagai daerah. Di Nusantara, hari Asyura hidup dalam bentuk tradisi yang berbeda-beda, mencerminkan bagaimana nilai-nilai keagamaan berinteraksi dengan budaya lokal dan melahirkan praktik sosial yang khas. Dalam konteks ini, Asyura tidak hanya berkaitan dengan peristiwa sejarah dalam Islam, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara spiritualitas, solidaritas sosial, dan identitas budaya masyarakat.
Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat, dan Tabot di Bengkulu. Tradisi ini berakar pada kisah gugurnya Imam Husain bin Ali di Karbala, yang kemudian diolah menjadi ritual budaya yang melibatkan arak-arakan, pertunjukan seni, hingga simbol keranda yang kemudian dilarungkan ke laut atau sungai. Meskipun berangkat dari peristiwa duka dalam sejarah Islam, dalam perkembangannya Tabuik menjadi perayaan budaya masyarakat pesisir yang sar
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+