Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Teungku Ali Hasjmy, Pendiri Kopelma Darussalam Aceh
✓ Terverifikasi Tim Riset

Teungku Ali Hasjmy, Pendiri Kopelma Darussalam Aceh

1914 – 1998 M · 17.724 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

 Selain itu,  Hasjmy  juga dicatat sebagai budayawan dan sejarawan, yang kemudian melahirkan gagasan tentang Dunia Melayu Raya, sebuah gagasan yang menjelaskan dimana di semenanjung Nusantara, ada sebuah titik pertemuan identitas yang bernama M

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2,1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Aktif di Organisasi
3.2  Menjadi Gubernur

4.    Karir-Karir
5.    Karya-Karya
6.    Penghargaan
7.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Teungku Muhammad Ali bin Hasyim bin Abbas atau yang akrab dipanggil Ali Hasjmy, lahir pada tanggal 28 Maret 1914 di Desa Lampase, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar. Beliau adalah anak sulung dari pasangan Teungku Hasyim dan Nyak Buleuen. Dalam keluarga besar, Ali memiliki tujuh saudara beda ibu yang bernama: Ainal Mardhiah, Rohana Syahbudin, Asnawi, Fachri, Nurwani, dan Fachmy, hasil pernikahan Teungku Hasyim dengan Syarifah.

1.2 Keluarga
Pada usia 27 tahun, Teungku Ali Hasjmy menikah dengan Zuriah, seorang gadis dari desa yang sama, dengan perbedaan usia 12 tahun. Hubungan keluarga mereka cukup dekat, dengan nenek Zuriah dan ibu Ali Hasjmy adalah saudara sepupu. Dari pernikahan beliau dikaruniai tujuh anak, yakni: A. H. Gunawan, A. H, Mahdie, A. H. Surya, A. H. Dharma, A. H. Mulya, A. H. Dahlia, dan A. H. Kamal.

Teungku Ali Hasjmy sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya yang membuat mereka semua meraih gelar sarjana. Anak-anaknya menggambarkan Ali Hasjmy sebagai sosok ayah yang sabar, bertanggung jawab, dan penuh toleransi.

1.3 Wafat
Teungku Ali Hasjmy wafat pada tanggal 18 Januari 1998, ​di usia 83 tahun, menyebabkan kehilangan besar bagi masyarakat Aceh.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Kepergian sang ibu saat Teungku Ali baru berusia empat tahun menjadikannya seorang yatim. Dengan ayahnya sibuk sebagai pedagang kain dan penjual ternak yang sering bepergian ke Medan, Teungku Ali lebih dekat dengan neneknya, Nyak Putin, untuk mendapatkan asuhan. Neneknya adalah sosok yang terampil dalam membaca huruf Arab dan mempunyai pengetahuan agama yang kuat. Beliaulah yang mengajari Ali membaca dan menulis huruf Arab serta memperkenalkan padanya dasar-dasar agama Islam.

Selain itu, neneknya sering mengisahkan perjuangan heroik kakek Ali dalam melawan Belanda, serta cerita-cerita epik seperti Hikayat Perang Sabi. Cerita-cerita ini tidak hanya memperkaya pengetahuan Ali tentang sejarah dan keberanian leluhurnya, tetapi juga menanamkan semangat patriotisme dan cinta akan tanah air dalam dirinya. Dari asuhan neneknya, Ali tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga menemukan minat yang mendalam dalam membaca karya-karya sastra dan sejarah.

2.1 Pendidikan
Teungku Ali Hasjmy, seorang yang bermula dari masa kecil yang sederhana, telah menorehkan jejak yang mengagumkan dalam dunia pendidikan. Awal pendidikannya dimulai dari sekolah Belanda, namun peluang pendidikan lebih lanjut muncul ketika dayah-dayah dihidupkan kembali oleh ulama Aceh, termasuk Dayah Montasik. Melalui dayah, Teungku Ali Hasjmy mendapat kesempatan untuk belajar ilmu agama yang lebih mendalam.

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+