07 Aug 2023 · 719 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta - Sejak dulu tradisi kaum Nahdliyin di lingkunganku sangat kental. Aku terlahir dengan tradisi kaum NU. Dalam dekapan cinta Ibu dan Ayahku, mantra-mantra do’a yang selalu diucapkan selalu mengikuti panduan para Kiyai yang secara kultural adalah kaum Nahdliyin, meskipun mungkin tidak masuk dalam jajaran struktural kepengurusan NU.
Di desaku, setiap hari sakral menurut penanggalan Hijriyah, selalu dimeriahkan dengan acara yang mengandung unsur silaturrahim dan saling berbagi. Misalnya dalam bulan Rabiul Awal, acara pembacaan Maulid Nabi selalu meriah. Setelah pembacaan selesai, jamuan yang dibawa oleh para jamaah dibagi dan saling ditukarkan. Tampak keceriaan berbagi dan cinta yang mekar di wajah mereka. Mencintai Nabi berarti juga meneladani perangainya. Murah senyum, berbagi, dan saling menghormati.
Acara maulid ini tidak hanya dilakukan pada bulan Rabiul Awal saja. Bahkan menjelang dan setelahnya, selalu saja ada yang merayakannya. Lebih dari itu, hampir di setiap musholla acara “maulidan” menjadi rutinita
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+