Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Teungku Fakinah: Ulama Perempuan Pendiri Dayah (Pesantren) dan Panglima Perang Aceh
✓ Terverifikasi Tim Riset

Teungku Fakinah: Ulama Perempuan Pendiri Dayah (Pesantren) dan Panglima Perang Aceh

1856 – 1940 M · 4.338 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Teungku Fakinah meninggal pada tanggal 8 Ramadhan 1359 H atau tahun 1938 M di Kampung Beuha Mukim Lam Krak pada usia 75 tahun.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi Teungku Fakinah

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat
2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Guru-guru
3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Perjalanan Dakwah Beliau
3.2  Perjuangan dan Jasa Beliau
4.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir

Teungku Fakinah lahir tahun 1856 M di Desa Lam Diran, Kampung Lam Beunot (Lam Krak). Beliau adalah keturunan bangsawan dari jalur sang ayah, yaitu Teungku Asahan (Datu Mahmud). Sedangkan ibu beliau, Teungku Fathimah (Cut Mah), adalah salah satu putri seorang ulama besar bernama Teungku Muhammad Saad atau Teungku Chik Pucok.

1.2 Riwayat Keluarga
Teungku Fakinah menikah dengan seorang perwira dan juga ulama ternama Teungku Ahmad. Pada tahun 1872 M. Setelah beliau menikah dengan Teungku Ahmad, beliau berdua memimpin pusat pendidikan dayah di Lam Pucok yang didirikan oleh orang tua Teungku Fakinah tidak hanya untuk laki-laki, tetapi juga perempuan.

1.3 Wafat
Teungku Fakinah meninggal pada tanggal 8 Ramadhan 1359 H atau 9 Oktober 1940 M di Kampung Beuha Mukim Lam Krak pada usia 75 tahun.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
Sejak kecil, Teungku Fakinah belajar ilmu pengetahuan agama, terutama tentang baca-tulis Al-Qur’an dari kedua orang tua beliau. Beliau juga belajar memahami berbagai kitab di Dayah Lam Krak sampai berumur 20 tahun. Hal tersebut membuat  beliau menjadi seorang gadis yang alim. Selain itu, Teungku Fakinah juga belajar menjahit, sulam, membuat kerawang sutra dan benang emas (kasap).

Tidak begitu banyak penjelasan tentang perjalanan intelektual Teungku Fakinah. Namun, dilihat dari latar belakang keluarga beliau yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama, menjadi sebuah petunjuk bahwa pendidikan beliau banyak dihabiskan di lingkungan keluarga beliau sendiri yang berasal dari kalangan ulama. Hal tersebut karena Teungku Fakinah lahir dari pasangan  keluarga yang mempunyai gelar Teungku. Selain itu, dari pernikahan beliau dengan seorang ulama sekaligus panglima perang juga membantu beliau dalam menjadi seorang ulama.

2.1 Guru-guru

  1. Teungku Asahan / Datu Mahmud (ayah),
  2. Teungku Fathimah / Cut Mah (ibu),
  3. Teungku Syekh Muhammad Saad.

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah
Teungku adalah sebutan untuk ulama bagi masyarakat Aceh, dan seseorang dapat disebut teungku ketika telah melewati belajar di dayah atau rangkang yang jauh dari tempat kelahiran. Seseorang tidak menjadi teungku dengan hanya belajar agama di tempat kelahiran saja, namun beliau harus berangkat dari satu dayah ke dayah yang lain untuk memperoleh ilmu dari guru beliau.

Bahkan, kalau memungkinkan, beliau juga berangkat ke Tanah Suci Makkah dalam rangka mendalami ilmu agama. Hal tersebut dikarenakan dalam praktik sosio-kultural yang ada di Aceh, secara tradisional memang menuntut laki-laki untuk belajar yang dikenal dengan tradisi merantau atau jak u timo (pergi ke timur), yang berarti meninggalkan desa untuk belajar atau bekerja di tempat lain. Untuk menjadi seorang ulama, belajar di dayah yang jauh dari rumah merupakan sebuah proses yang harus dilewati, baik oleh l

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+