Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Nyai Hj. Nonoh Hasanah, Ulama Perempuan dan Pendiri Pesantren Putri Cintapada
✓ Terverifikasi Tim Riset

Nyai Hj. Nonoh Hasanah, Ulama Perempuan dan Pendiri Pesantren Putri Cintapada

1935 – 1986 M · 4.773 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Biografi Nyai Hj. Nonoh Hasanah, Ulama Perempuan dan Pendiri Pesantren Putri Cintapada

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru-Guru

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Pesantren

4.    Karya-Karya
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga
Nyai Hj. Nonoh Hasanah adalah seorang tokoh perempuan sederhana, cerdas dan pantang menyerah. Hal tersebut tercermin dari usaha beliau dalam merintis pesantren putri selama 27 tahun bersama sang suami, K.H. Ahmad Dimyati.

1.1 Lahir
Nyai Hj. Nonoh Hasanah lahir pada 1935, beliau anak kedua dari lima bersaudara, dari pasangan KH. M. Syamsuddin dan Hj. Qomariyah. Keluarga ini tinggal di kampung Nagrog, Desa Jaya Ratu, kecamatan Leuwi Sari Singaparna Tasikmalaya, Jawa Barat.

Keluarga Nyai Hj. Nonoh adalah keluarga yang taat menjalankan agama dan mempunyai perhatian yang besar terhadap pendidikan agama. Ayah beliau mendorong seluruh putra-putri beliau untuk menuntut ilmu. Karena itu Nyai Hj. Nonoh sejak kecil sudah mendapat pelajaran Al-Qur’an dan dasar-dasar agama dari keluarga beliau.

1.2 Riwayat Keluarga
Nyai Hj. Nonoh menikah dengan KH. Ahmad Dimyati tidak diketahui sebelumnya. Bahkan beliau sendiri tidak hadir dalam akad nikah itu. Seperti banyak berlaku di dalam tradisi Pesantren Salaf, kecuali atas permohonan kedua belah pihak calon mempelai laki-laki dan perempuan, pernikahan seorang santri sering melibatkan kyai beliau.

Kendati sudah menjadi istri sah KH. Ahmad Dimyati, Nyai Hj. Nonoh masih tetap melanjutkan belajar di Pesantren Cipasung, sementara suami beliau nyantri di Banten selama satu tahun. Pada tahun 1959 setelah diadakan sukuran pernikahan, dan atas restu guru beliau, Nyai Hj. Nonoh pindah ke Cintapada, 4 km dari kota Tasikmalaya. 

1.3 Wafat
Nyai. Hj. Nonoh Hasanah wafat pada tanggal 20 November 1986 M.

2.  Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Masa kecil Nyai Hj. Nonoh dilalui dengan kesibukan mencari ilmu. Hampir-hampir beliau tidak mempunyai kesempatan untuk bermain. Pukul 07:00–12:00, beliau menuntut ilmu di Sekolah Rakyat (SR). Setelah Dzuhur sampai Ashar, beliau pergi ke Madrasah Diniyah. Setelah Ashar, bersama adik perempuan beliau ngaji ngalong ke Pesantren yang didirikan oleh kakak kandung beliau.

Nyai Hj. Nonoh termasuk anak yang cerdas, bahkan terbilang yang paling cerdas dibanding dengan teman-teman satu kelas beliau. Kecerdasan beliau ini memotivasi kedua orang tua beliau untuk memberikan perhatian khusus dengan cara memberikan pendidikan yang cukup.

Pendidikan formal (SR) hanya diselesaikan Nyai Hj. Nonoh sampai kelas empat. Setelah itu, ketika itu masa agresi militer Belanda II. Beliau tetap menuntut ilmu dengan mengikuti pengajian di tempat-tempat yang letaknya tidak terlalu jauh, misalnya belajar kepada KH. Khaerudin di Cisaro.

Tidak lama setelah itu, beliau bersama adik lelaki beliau, nyantri ke Pesantren Cipasung yang dipimpin oleh KH. Ruhiyat. Di sinilah untuk pertama kalinya beliau mendalami berbagai ilmu agama secara serius, seperti kitab-k

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+