Nyai Ai Rahmayanti merupakan perempuan kelahiran Garut, 8 November 1985 yang menjadi perempuan termuda yang duduk sebagai struktur PBNU.
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
3. Karir-Karir
4. Program Program
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 lahir
Nyai Ai Rahmayanti merupakan perempuan kelahiran Garut, yang lahir pada tanggal 8 November 1985 yang menjadi perempuan termuda yang duduk sebagai struktur PBNU.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Pendidikan
Beliau menyelesaikan pendidikan informalnya di:
1. Pondok Pesantren Almardiyatul Islamiyyah Bandung,
2. Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya,
3. Pondok Pesantren As-Saefiyyah Garut.
Pendidikan formalnya:
1. Komunikasi Penyiaran Islam UIN Bandung,
2. Ilmu Dakwah UIN Bandung,
3. Dan saat ini sedang menempuh program doktoral Ilmu Pemerintahan di IPDN Jakarta.
3. Karir-Karir
Selain di bidang akademis, beliau juga aktif dalam berbagai lembaga maupun organisasi. Di antaranya:
1. Menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) masa khidmah 2014-2017,
2. Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU 2015-2021 pada bidang perlindungan perempuan dan anak,
3. Menjadi koordinator demografi. Beliau menjadi Koordinator Departemen Gender dan Budaya di Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) 2017-2022,
4. Menjadi salah satu pengurus di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) yang menangani Pekerja Migran Indonesia (PMI).
5. Ketua Umum PP Rumah Perempuan dan Anak, serta Wakil Sekretaris Bidang Agama Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
4. Program-Program
Program yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan dan problematika keperempuanan:
1. Melakukan konsolidasi organisasi (jam’iyyah), harapannya seluruh pengurus wilayah dan cabang NU terdapat pengurus perempuan, begitu pula lembaga-lembaga agar bisa dipimpin oleh perempuan.
2. Bekerja untuk memperkuat komitmen keberagaman, moderasi beragama berbasis perempuan dan keluarga menjadi bagian dari membangun peradaban.
3. Perdamaian dunia dengan mengekspor Islam Nusantara, yang tentu di dalamnya ada peran perempuan khas Indonesia.
4. Membangun kemandirian jam’iyyah melalui (gerakan) Nahdlatut Tujjar di lingkungan perempuan Nahdliyin, pemberdayaan ekonomi dan pendidikan untuk perempuan.
5. Referensi
Diolah dan dikembangkan dari sumber: jabar.nu.or.id
Artikel ini sebelumnya dibuat 08 Oktober 2023 dan diedit dengan penyelarasan bahasa tanggal 08 November 2024.
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

