Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · KH. Muhtadi Temanggung
✓ Terverifikasi Tim Riset

KH. Muhtadi Temanggung

1933 – 2010 M · 2.748 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Kyai Muhtadi lahir sekitar 1933 di Grogal, Kutoanyar, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Beliau merupakan putra dari Bapak Surodikromo.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi:

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga
1.3  Wafat

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Pendidikan
2.2  Guru Beliau

3.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
3.1  Mendirikan Madrasah
3.2  Pengajian Bukhoren

4.    Karomah
5.    Referensi

1. Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Kyai Muhtadi lahir sekitar 1933 di Grogal, Kutoanyar, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Beliau merupakan putra dari Bapak Surodikromo.

1.2 Riwayat Keluarga
Kyai Muhtadi menikah dengan seorang putri tokoh masyarakat di Bentisan Sukomarto Jumo masih tetangga kecamatan di Temanggung​.

1.3 Wafat
Kyai Muhtadi wafat pada usia 77 tahun pada tahun 2010. Dimakamkan di Bentisan Sukomarto Jumo Temanggung

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan

2.1 Pendidikan
Kyai Muhtadi kecil mengaji di desanya, setelah masa remaja mulai masuk ke Pesantren. Beliau pernah nyantri di Senori, juga di Pacul Gowang, dan paling lama di pesantren Kalipahing Temanggung. Di Pesantren Kalipahing yang diasuh Kyai ilyas ini, bahkan setelah menikah masih mondok lagi, karena sebagai santri senior juga harus mengajar.

2.2 Guru Beliau
Kyai ilyas

3. Perjalanan Hidup dan Dakwah

3.1 Mendirikan Madrasah
Setelah menikah, beliau tinggal di tempat mertuanya dan bersama masyarakat mulai merintis pengajian di rumahnya, sekitar 1960-an beliau merintis Madrasah Diniyah dan dilanjutkan menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB) yang semula menempati rumahnya dan rumah penduduk. Respons masyarakat ternyata sangat positif dan akhirnya MWB ditingkatkan menjadi Madrasah Ibtidaiyah Sukomarto.

3.2 Pengajian Bukhoren
Bagi Kyai Muhtadi belajar itu tidak mengenal batas. Maka diadakan pengajian selapanan di berbagai tempat, di Desa Karangtejo tetangga desa, di Desa Kalipang Gondang Wayang Kedu, juga mengajar di Kerokan Kedu, di samping di tempat kelahiran.

Ada Majelis taklim yang diikuti khusus oleh para ustadz dan Kyai se-Kecamatan Jumo. Pada suatu saat terjadi paceklik dan banyak hama tanaman pertanian. Sehingga para petani mengalami kurang makanan. Keprihatinan ini memunculkan inisiatif para Kyai mengadakan pengajian khusus.

Hasil konsultasi dengan para Kyai sepuh, konon pernah sowan kepada Kyai Siraj Payaman dan Kyai Ilyas harus mengadakan pengajian kitab Sohih Bukhori. Maka semua Kyai dari seluruh Desa dan Kecamatan berembuk seperti KH. Tohan, KH. Mahudi Soleh dan lain-lain, dan jadilah pengajian kitab Sohih Bukhori yang kemudian dikenal sebagai pengajian Bukhoren.

Setiap Ahad Pahing harus khatam seluruh kitab Sohih Bukhori, dan setelah itu ada mauidzah yang mengupas beberapa hadits dari kitab tersebut. Pengajian ini sangat banyak Kyai datang dari berbagai desa dan kampung di Kecamatan Jumo. Dan tampaknya dari jamaah ini juga, muncul ide untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah Ma'arif yang kini berkembang baik di Desa Padureso, Jumo, Te

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+