Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Tuntunan Ibadah · Artikel

Penyair Salon

19 Jan 2019 · 4.637 dibaca · Artikel

LADUNI.ID - Menulis sajak itu tidak harus menggunakan bahasa yang berbusa-busa diindah-indahkan, dipuitis-puitiskan. Akan tetapi, menulis sajak itu cukuplah menggunakan bahasa yang sederhana, sebab yang puisi bukan cuma bahasanya, melainkan yang puisi itu pengalaman hidup yang dipotret oleh sang penyair. Boleh jadi itu sederhana tetapi berkarakterm unik, sekaligus estetik yang memiliki etik 

Saya tertarik dengan status yang ditulis pak Abdul Wachid Bs di atas, kata-kata yang sederhana tapi mampu memberikan cercahan makna yang mendalam. Mengapa banyak sekali para penyair, baik pemula atau pun yang sudah malang melintang, mereka dengan gagahnya membuat kata-kata yang biasa menjadi kata-kata yang jelimet, yang kemudian mengaganggap kata-kata itu indah dan sulit dicerna, menurutnya, semakin kata-kata sulit dicerna, maka semakin tanpak nilai puitis itu, atau semakin jelas, bahwa ia puisi indah.

Pemahaman keindahan, sering kali hanya dilihat dari diksi saja, tanpa melihat makna yang termaktub di dalamnya, kadang kata-katanya bermutiara, namun tak memiliki makna

🔒
Lanjutkan membaca dengan Laduni+

Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+
← Kembali ke Tuntunan Baca di situs utama →