KH. Muhammad Kurdi (Mama Kurdi), Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Cimahi, KH. R. Sulaeman Kurnia
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
1.2 Wafat
1.3 Riwayat Keluarga
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
2.2 Guru-Guru
3. Penerus Beliau
3.1 Anak-anak
4. Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1 Mendirikan Pesantren
4.2 Karier Beliau
4.3 Karya Beliau
5. Referensi
1. Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1 Lahir
KH. Muhammad Kurdi merupakan salah satu ulama kharismatik di Bandung, beliau lahir pada tahun 1839. Beliau merupakan anak dari pasangan kyai Abu Hasan Burujul dan Ibu Fatimah. KH. Muhammad Kurdi merupakan keturunan ke-5 dari Syaikh Abdul Manaf yang dinilai sebagai sesepuh ulama Bandung.
1.2 Wafat
KH. Muhammad Kurdi wafat pada tahun 1954 di usia ke-115 tahun.
1.3 Riwayat Keluarga
KH. Muhammad Kurdi menikah dengan seorang wanita sholehah dan dikaruniai beberapa anak.
2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu
Pendidikan agama yang pertama diperolehnya berasal dari lingkungan keluarga. Kemudian menimba ilmu kepada kakeknya, KH. Abdul Qohhar. Kemudian menimba ilmu di pesantren Cibeureum Kidul serta di sebuah Pondok Pesantren di Ujung Berung (Sukamiskin). Dalam perjalanannya,, beliau melanjutkan pendidikan di pesantren KH. Muhammad Alwi Sukapakir Bandung.
Ketika mesantren di Mama Sukapakir, kabarnya KH. Muhammad Kurdi sudah menjadi ulama. Jaringan intelektual kepada Mama Sukapakir merupakan jaringan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Selanjutnya beliau melakukan perjalanan (rihlah) ke Haramain (Mekkah dan Medinah) untuk berhaji. Pada umumnya, mereka yang pergi ke Haramain tidak saja untuk berhaji, akan tetapi untuk thalab al-ilm.
Sebab pada masa itu Makkah menjadi pusat pertukaran pengetahuan dunia serta tak sedikit di antara ulama Jawi yang telah menjadi
pengajar juga pelajar di sana. Momentum haji nampaknya menjadi sarana untuk memperdalam pengetahuan keagamaan KH. Muhammad Kurdi.
Meskipun tak ada catatan waktu mengenai keberangkatan KH. Muhammad Kurdi ke Haramain, tercatat beliau pernah mengunjungi Jabal Abi Qubais. Sebuah tempat di Hijaz yang menjadi pusat pendidikan tarekat. Terdapat beberapa tokoh populer sebagai pemuka agama saat itu. Di antaranya, Maulana Khalid dan Muhammad Amin Al Kurdi yang menjadi guru besar agama.
Tarekat Naqsyabandiyah telah dikenal di Indonesia paling tidak sejak abad ke-17, tapi baru benar-benar menjadi populer pada akhir abad ke-19. Dalam perkembangannya, secara khusus diangkat seorang tokoh yang mampu berbahasa Melayu bernama Abdallah Ar-Zinjani di Jabal Abi Qubais, untuk mengajarkan teknik-teknik tarekat kepada orang-orang yang berasal dari Indonesia.
KH. Muhammad Kurdi mendapatkan ijazah awal dan ijazah akhir di Jabal Abi Qubais Makkah dari Kyai Marzuki dan kyai Muhammad yang merupakan murid dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas ulama tasawuf yang berasal dari Nusantara. Sepulang dari Makkah, beliau berdakwah serta aktif dalam kegiatan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah setidaknya sejak tahun 1920, pengikutnya sudah lebih dari seratus orang.
2.2 Guru-Guru:
- Kyai Abu Hasan Burujul
- KH. Abdul Qohhar
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

