Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Abuya H. Ibrahim, Pendiri Pesantren Maulana Yusuf Lebak
✓ Terverifikasi Tim Riset

Abuya H. Ibrahim, Pendiri Pesantren Maulana Yusuf Lebak

1890 – 1990 M · 3.749 kali dibaca · Profil Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Abuya H. Ibrahim, lahir di Sawarna sekitar tahun 1890, beliau merupakan putera dari KH. Ahmad (Sawarna) dan Hj. Zahroh (Bayah).

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Daftar Isi

1.    Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1  Lahir
1.2  Wafat
1.3  Riwayat Keluarga

2.    Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1  Mengembara Menuntut Ilmu
2.2  Guru-Guru

3.    Penerus
3.1  Anak-anak

4.    Perjalanan Hidup dan Dakwah
4.1  Mendirikan Pesantren
4.2  Karier

5.   Referensi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir
Abuya H. Ibrahim, lahir di Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten, sekitar tahun 1890, beliau merupakan putera dari KH. Ahmad (Sawarna) dan Hj. Zahroh (Bayah).

1.2 Wafat
Beliau berpulang ke Rahmatullahi pada tahun 1990, di Kampung Pagelaran.

1.3 Riwayat Keluarga
Beliau menikah dengan wanita sholehah bernama Hj. Ruqoyah yang merupakan Putri Abuya Dulkarim, dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai keturunan, yaitu Hj. Sodiah (Almarhum), Umi Hj. Hindun (Almarhum), Ismail, Hj. Rodiah (Almarhum), KH. Ali Ibrahim (Almarhum), KH. Badrudin, Nawawi (almarhum), Hj. Fatimah, Rihanah, dan anak kembar Abdul Rahman dan Abdul Rahim.

2. Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1 Mengembara Menuntut Ilmu

Abuya H. Ibrahim mengembara menuntut ilmu di beberapa pondok pesantren, di antaranya di Pondok Pesantren Pagelaran (Abuya Dulkarim), Cirendeu Rangkas Bitung (KH. Sobirin), di Kadupesing (Abuya Abdul Halim), di Kebagusan Jasinga (Abuya Hasan) di Makkah (Abuya Jasir) dan almarhum tinggal di Makkah selama 7 tahun. Pulang dari Makkah, Almarhum melanjutkan Pesantren Abuya Dulkarim dan terus mengembangkan pesantren.

2.2 Guru-Guru:

  1. Abuya Dulkarim
  2. KH. Sobirin
  3. Abuya Abdul Halim
  4. Abuya Hasan
  5. Abuya Jasir

3. Penerus Perjuangan

3.1 Anak-anak

  1. Hj. Sodiah (Almarhum)
  2. Umi Hj. Hindun (Almarhum)
  3. Ismail
  4. Hj. Rodiah (Almarhum)
  5. KH. Ali Ibrahim (Almarhum)
  6. KH. Badrudin, Nawawi (almarhum)
  7. Hj. Fatimah
  8. Rihanah
  9. Anak kembar Abdul Rahman dan Abdul Rahim

4. Perjalanan Hidup dan Dakwah

Abuya H. Ibrahim bin H. Ahmad bin Rakam adalah seorang ulama termasyhur, pada zamannya. Almarhum pernah menjadi Wedana Cilangkahan yang pertama, setelah Indonesia merdeka. Sebelumnya, Cilangkahan, adalah ibu Kota Kabupaten Banten Kidul yang dibubarkan pada tahun 1828 dan dibentuk Kabupaten Lebak Parahiyang pada tanggal 28 Desember 1828, yang berpusat di Lebak Parahyang, Kecamatan Leuwidamar.

Abuya H. Ibrahim ditugaskan oleh gurunya yaitu Tubagus Ahmad Chotib selaku Keresidenan Banten untuk menjadi Wadana Cilangkahan setelah kemerdekaan, sekitar tahun 1949, menjabat selama 4 tahun dan lalu mengundurkan diri karena ingin fokus di pesantren.

Selama beliau menjabat Wedana (demang), tidak mau menerima gaji. Begitupun, hak pensiunan maupun pesangon, tidak diterima. Alasan pengunduran diri Abuya Ibrahim dari jabatan strategis pada saat itu, karena kondisi negara dianggap sudah mulai kondusif dan ingin membuka pes

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+