Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Rekam Jejak Hubungan Nahdlatul Ulama dan Rabithah Alawiyah
✓ Terverifikasi Tim Riset

Rekam Jejak Hubungan Nahdlatul Ulama dan Rabithah Alawiyah

1.516 kali dibaca · Profil Nahdlatul Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kemasyarakatan menjalin hubungan dengan berbagai organisasi keislaman lainnya. Salah satunya dengan Rabithah Alawiyah. Hubungan ini, didorong oleh persamaan visi untuk mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Laduni.ID, Jakarta - Saat saya masih di Zawiyah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari di perpustakaan KH. Wahid Hasyim, di sana saya menemukan Majalah Suara Nahdlatul Ulama, berbahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon. Pada edisi tahun 1347 H, Majalah tersebut merekam pertemuan antara Rabithah Alawiyah dengan Nahdlatul Ulama. Diberi judul, "Pepanggehan Ingkang Mulya Antawis Rabithah Alawiyah kaliyan Nahdlatul Ulama". Bagaimana Isi pertemuannya?

Berikut tulisan dari Dzikir Terapi Sukma yang sedikit saya edit dan sesuaikan.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kemasyarakatan menjalin hubungan dengan berbagai organisasi keislaman lainnya. Salah satunya dengan Rabithah Alawiyah. Hubungan ini, didorong oleh persamaan visi untuk mensyiarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.

NU sebagai organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926, merupakan saudara tua dari Rabithah Alawiyah. Perkumpulan yang awalnya bernama "Arrabitatoel Alawijah”, itu baru muncul pada penghujung 1927. Kemudian mendapatkan legalitas "rechtspersoon" dari Pemerintah Hindia Belanda pada 27 Desember 1928 dengan nama Rabithah Alawiyah.

Sebagai saudara muda, Rabithah Alawiyah tentu berkepentingan untuk menjalin silaturahmi dengan NU. Begitu pula dengan NU yang sangat menjunjung tinggi dzuriyah Nabi Muhammad, keberadaan Rabithah Alawiyah menjadi representasi organisatoris untuk menunjukkan penghormatan pada Ahlul Bait. Rasa inilah yang kemudian terekam dalam perjumpaan penting antara kedua organisasi tersebut, pada Jumat 13 Rabiul Tsani 1347 H atau sekitar September 1928 M. Sebagaimana terekam pada Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) edisi No.2 1347 H

Tahun kedua, pertemuan tersebut dilakukan di Kantor PBNU (dulu disebut Hoofdbestuur NO/ HBNO) di Bubutan, Surabaya. Hadir belasan habaib yang menjadi pengurus Rabithah Alawiyah pada pertemuan tersebut. Di antaranya adalah:

1. Sayyid Alwi bin Thohir al-Haddad dari Bogor
2. Syekh Abdurrahman bin Umar Jawaz dari Betawi
3. Sayyid Alwi bin Muhammad al-Mukhdar dari Bondowoso, serta beserta belasan habaib lainnya dari Surabaya.

Sementara itu, dari pengurus NU sendiri ada 18 kyai yang menyambutnya. Di antaranya adalah:

1. KH. Abdul Wahab Chasbullah
2. KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz
3. Kiai Abdul Shiddiq dari Surabaya.

Kyai Wahab selaku tuan rumah menyambut gembira atas kedatangan para pengurus Rabithah Alawiyah tersebut. Kedatangan para "sadatunal alawiyin" merupakan anugerah dari Allah yang patut disyukuri. Pada kesempatan itu pula, Kyai Wahab memaparkan tentang tujuan dan kiprah yang dilakukan oleh NU secara panjang lebar.

Hal yang sama juga dilakukan oleh perwakilan Rabithah Alawiyah, Sayyid Alwi bin Thohir mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh NU seraya memaparkan maksud dan tujuan dari rabithah tersebut didirikan.

Seusai sambutan pembukaan resmi tersebut, dilanjutkan dengan musyawarah kedua belah pihak. Membincang berbagai kesepakatan antara NU dan Rabithah Alawiyah. Sayangnya, dalam pemberitaan SNO tersebut, tak dikupas secara detail apa pembicaraan dua organisasi Islam asli Nusantara itu. Hanya ada headline saja yang dimuat.

...كدادوسان ايجاب قبول باب ڤرسامبوڠان ايڤون ر.ع (رابطة العلوية) كليان ن.ع (نهضة العلماء) اڠدالم حال تولوڠ تينولوڠ إڠدالم ڠوڤادوس كالرسان واه هامبوجالي كاڤفاتن كڠ سارانا ممبيلا مذهب....

[...kedadusan ijab qabul bab persambunganipun R.A (Rabithah Alawiyah - pen) kaliyan N.U (Nahdlatul Ulama - pen) ing dalem hal tulung tinulung ing dalem ngupadus kaleresan wah hambucali kalepatan kang sarana membela madzhab....]

Demikian tertulis di SNO dengan aksara Pegon dan berbahasa Jawa. Adapun artinya kurang lebih demikian:

"...telah terjadi kesepakatan (ijab qabul) tentang persamb

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+