25 Nov 2024 · 644 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta - Hari Guru adalah momen refleksi untuk mengapresiasi perjuangan para pendidik yang menjadi ujung tombak dalam menumbuhkan generasi penerus bangsa. Namun, di balik itu, ada ironi yang menyayat hati: penghormatan terhadap guru seakan mulai terkikis di tengah dinamika sosial yang kompleks. Perhatian pemerintah terhadap “profesi” guru sulit untuk tidak dipertanyakan, terutama ketika banyak kasus menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap guru yang menghadapi masalah disiplin di sekolah.
Kasus-kasus orang tua yang tidak terima anaknya dihukum guru, bahkan membawa perkara ini ke ranah hukum, semakin sering terdengar. Di sisi lain, fenomena murid-murid yang cenderung tidak menghormati gurunya juga menjadi tanda bahwa wibawa guru sedang mengalami krisis.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana seharusnya kita merefleksikan Hari Guru dalam situasi seperti ini?
Tergerusnya Wibawa Guru di Mata Murid dan Orang Tua
Di masa lalu, guru memiliki posisi terhormat di masyarakat. Mereka dianggap sebagai
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+