16 Dec 2024 · 889 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta - Suatu sore di musim panas (Juli 2018), dalam sebuah percakapan ringan di Bonn, seorang teman jurnalis DW (Deutsche-Welle, Suara Jerman) mengungkapkan keheranannya tentang Gus Dur sebagai pejuang kebebasan dan martabat manusia yang menjadi ciri khas peradaban Eropa. “Padahal dulu di masa mudanya ia hanya tinggal setahun di Eropa. Selebihnya, ia adalah orang pesantren. Hidup dan mati di pesantren”, begitu ungkap teman yang sudah lama tinggal di Jerman itu. Kami mengenang Gus Dur, dan sebagian besar orang Indonesia yang tinggal di Eropa menghormati mendiang Gus Dur dan menganggapnya sebagai orang pesantren yang berhasil—tidak saja mengidealisir nilai-nilai kebebasan Eropa—tetapi juga mengimplementasikannya dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Setiap tahun, bangsa ini pantas mengenang kembali sosoknya sebagai “rumah yang teduh” bagi kaum minoritas dan mereka yang tertindas. Andai kini Gus Dur masih hidup, tentu ia sedih melihat intoleransi dan ketidakadilan terhadap kelompok minoritas masih terjadi di ban
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+