20 May 2025 · 1.056 dibaca · Hikmah
Laduni.ID, Jakarta - Suatu ketika, sejumlah santri Pondok Pesantren Sarang, Rembang, yang berangkat haji bersama Gus Baha, meminta didoakan oleh Gus Baha saat berada di Multazam—sebuah tempat yang diyakini sangat mustajab untuk memanjatkan doa.
Tapi respons Gus Baha’ justru tak terduga. Dengan santai dan tegas, beliau menolak, “Moh (nggak mau)!”
Bukan karena pelit doa, apalagi tak peduli. Tapi, seperti biasa, Gus Baha ingin mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mengangkat tangan dan berharap terkabul. Beliau malah balik menantang para santri itu.
“Ngaji dulu. Setelah ngaji, saya doakan kalau ingat. Kalau nggak ya sudah,” ujar Gus Baha.
Akhirnya, para santri itu pun menyanggupi. Mereka mengaji kitab Shahih Bukhari bersama Gus Baha. Adapun momennya bukan di waktu santai atau di siang bolong, tapi di lantai 3 Masjidil Haram, jam 2 dini hari sampai Subuh. Bukan main. Walhasil, mereka sendiko dawuh atas instruksi Gus Baha.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+