10 Jun 2025 · 783 dibaca · Islam Nusantara
Laduni.ID, Jakarta – Di tengah bara Perang Dunia II, ketika tentara Jepang menggantikan kekuasaan Belanda di Tanah Air Nusantara pada 1942, banyak orang mencemaskan nasib umat Islam. Akan tetapi sejarah justru mencatat sesuatu yang tak terduga, dalam waktu yang singkat hanya 3,5 tahun pemerintahan militer Jepang memberi ruang baru bagi Islam di Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan dan organisasi sosial-keagamaan. Namun, di balik semua itu, ada manuver cerdas dari para ulama, termasuk KH. M. Hasyim Asy’ari dan putranya, KH. A.Wahid Hasyim, yang menjadikan kesempatan itu sebagai ladang perjuangan.
Jepang memang punya agenda sendiri. Mereka butuh simpati umat Islam untuk melanggengkan pendudukan dan memenangkan perang. Untuk itu, mereka mencabut beberapa kebijakan represif peninggalan Belanda di antaranya, larangan penggunaan bahasa Arab dihapuskan pada akhir 1942. Syaratnya, sekolah-sekolah Islam wajib mengajarkan bahasa Jepang dan menerima kurikulum baru. Namun bagi para ulama, ini adalah celah. Di balik syarat itu, pesantren dan madras
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+