25 Feb 2019 · 4.149 dibaca · Kepemimpinan
Laduni.ID, Jakarta - Dalam Kitab Syarh As-Sunnah hlm. 116-117, Imam Abu Muhammad Al-Barbahari berkata:
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو عَلَى السُّلْطَانِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى، وَإِذاَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ
"Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan untuk penguasa, maka ketahuilah bahwa ia pengikut hawa nafsu, dan jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan untuk penguasa, maka ketahuilah bahwa ia mengikuti sunnah".
Sementara itu, Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah juga berkata:
لَوْ أَنِّيْ أَعْلَمُ أَنَّ لِي دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً لَصَرَفْتُهَا لِلسُّلْطَانِ
“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”
Pernyataan itu menyiratkan makna bahwa kebaikan penguasa berpengaruh terhadap kebaikan rakyat dan negara. Kebaikan itu menjadi sangat luas. S
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+