05 Mar 2019 ยท 2.554 dibaca · Islam Nusantara
LADUNI.ID, Jakarta - Saya kira kalau menganalogikan Ketum PBNU dengan orang mabok itu sudah melewati batas. Sudah keluar dari adabul ikhtilaf, ุฃุฏุงุจ ุงูุงุฎุชูุงู. Etika berbeda pendapat.
Tidak pantas dikatakan, ditulis, dinyatakan oleh siapapun, apalagi seorang da'i. Tidak perlu cerdas untuk berani menyatakan keberatan atas pernyataan seperti itu.
Apalagi Ketum PBNU memiliki nasab yang jelas, riwayat pendidikan panjang, kiprah di NU juga bukan setahun dua tahun. Jika dihitung sejak 1994, tidak kurang 25 tahun beliau telah berkiprah di NU.
Pemikiran beliau juga tidak ada yang menyimpang, tidak dipahami mungkin ia, yang jelas, mereka yang menuduhnya sesat tidak memiliki pengalaman baca seluas beliau.
Bagi saya, andai orang-orang yang mengkritik itu pemahaman agamanya dijadikan satu, masih jauh dari kelayakan menjadi lawan setanding dengan kealiman ketum PBNU. Mungkin subjektif, tapi Anda bisa mengukur akurasi anggapan saya ini dengan melihat karir intelektual beliau.
Prof Dr. KH. Said Aqil Siradj itu kepakaran dalam
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan โ tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+