Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Ternyata Istighatsah adalah Amalan Para Ulama Shalaf dan Khalaf
✓ Terverifikasi Tim Riset

Ternyata Istighatsah adalah Amalan Para Ulama Shalaf dan Khalaf

4.300 kali dibaca · Amaliyah dari Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Ternyata para ulama salaf dan khalaf melakukan istighotsah kepada selain Allah, yakni meminta pertolongan kepada seorang nabi atau wali atau mendatangi makam mereka dengan keyakinan bahwa nabi dan wali hanya sebab, sedangkan pemberi pertolongan sesungguhnya adalah Allah.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

Ternyata para ulama salaf dan khalaf melakukan istighotsah kepada selain Allah, yakni meminta pertolongan kepada seorang nabi atau wali atau mendatangi makam mereka dengan keyakinan bahwa nabi dan wali hanya sebab, sedangkan pemberi pertolongan sesungguhnya adalah Allah. Ini sangat berbeda dengan yang dikesankan oleh sebagian orang bahwa para ulama salaf menganggap istighotsah, tawassul, tabarruk sebagai syirik dan kufur. 

Berikut ini sebagian fakta sejarah bahwa para ulama salaf dan khalaf melakukan istighotsah dengan selain Allah, tetapi tetap dengan keyakinan bahwa nabi dan wali hanya sebab, sedangkan pemberi pertolongan sesungguhnya adalah Allah.

• Ad-Darimi meriwayatkan dalam Sunan-nya dengan sanad yang Laa Ba'sa bihi dari Abu al Jawza’ ia mengatakan: “Suatu ketika penduduk Madinah terkena paceklik yang parah, hingga mereka mengadu kepada ‘Aisyah, maka ‘Aisyah mengatakan: Lihatlah dan datangi kuburan Nabi, lalu buatlah di atasnya celah atau lubang ke arah langit sehingga tidak ada bagian dari atap yang menghalangi antara kuburan dengan langit. Maka mereka melaksanakan petunjuk Ummul Mukminin ‘Aisyah tersebut dan akhirnya turun hujan deras hingga rerumputan tumbuh dan unta-unta kegemukan, hingga tahun tersebut dinamakan “Aam al Fatq”, yakni tahun pada saat binatang-binatang ternak waktu itu gemuk-gemuk dan melimpah gajih dan dagingnya.”

Faedah Atsar: Dalam hadits ini, Ummul Mukminin ‘Aisyah memerintahkan penduduk Madinah agar mendatangi kuburan Nabi dan membuka atapnya sebagai bentuk Mubalaghah dalam beristisyfa’ dan beristighotsah dengan beliau sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ali al Qari dalam Syarh Misykaat al-Mashaabiih. Kisah ini terjadi setelah kisah Umar dan sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani di atas.

• Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (7/90) bahwa di suatu malam di musim paceklik Umar melakukan pengecekan terhadap kondisi rakyat Madinah. Ketika itu beliau tidak menemukan seorang pun tertawa, dan orang-orang tidak ada yang berbincang-bincang di rumah mereka seperti biasa. Beliau tidak melihat pengemis yang meminta, kemudian beliau bertanya tentang sebabnya, dan dikatakan kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, para pengemis meminta tetapi mereka tidak diberi sehingga mereka berhenti meminta-minta, orang-orang juga dalam keadaan sedih dan kekurangan sehingga mereka tidak berbincang-bincang seperti biasanya, mereka juga tidak tertawa. Lalu umar mengirimkan surat kepada Abu Musa di Bashrah: “Tolonglah Ummat Muhammad,” beliau juga menulis kepada ‘Amr bin al ‘Ash di Mesir: “Tolonglah Ummat Muhammad.” Maka masing-masing mengirim rombongan utusan yang membawa gandum dan makanan-makanan. Atsar ini seperti dikatakan oleh Ibnu Katsir sanadnya jayyid (kuat). 

Faedah Atsar: Dalam atsar ini, Umar bin al Khaththab beristighotsah dengan Abu Musa dan ‘Amr ibn al ‘Ash padahal keduanya tidak berada di hadapan Umar (Gha-ib). ini adalah bukti bahwa Umar meyakini beristighotsah dengan seorang yang tidak di hadapan orang yang beristighotsah hukumnya boleh, bukan kufur dan bukan syirik, bahkan tidak haram sama sekali.

• Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat Sayf dari Mubasysyir ibn al Fudlayl dari Jubayr bin Shakhr dan ‘Ashim bin Umar bin Khattab bahwa salah seorang dari kabilah Muzaynah di tahun paceklik di masa Umar diminta oleh keluarganya agar menyembelih seekor kambing untuk mereka, lalu ia menjawab: Kambing-kambing itu tidak ada dagingnya. Namun keluarganya tetap mendesaknya, akhirnya ia-pun menyembelih seekor kambing, dan ternyata tulang-tulangnya berwarna merah, lalu dia mengatakan: “Yaa Muhammadaah (tolonglah kami Wahai Muhammad).”

Faedah Atsar: Dalam atsar ini, orang tersebut beristighotsah dengan Nabi padahal beliau telah meninggal. Ini berarti beris

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+