31 May 2019 ยท 2.589 dibaca · Kafarat
LADUNI.ID - Syekh Ibnu Hajar al-Haitami yang menjadi pentarjih dari generasi akhir Madzhab Syafi'i berkata:
ูุฃูุจุญ ู ู ุฐูู ู ุง ุงุนุชูุฏ ูู ุจุนุถ ุงูุจูุงุฏ ู ู ุตูุงุฉ ุงูุฎู ุณ ูู ูุฐู ุงูุฌู ุนุฉ ุนูุจ ุตูุงุชูุง ุฒุงุนู ูู ุฃููุง ุชููุฑ ุตููุงุช ุงูุนุงู ุฃู ุงูุนู ุฑ ุงูู ุชุฑููุฉ ูุฐูู ุญุฑุงู ุฃู ููุฑ ููุฌูู ูุง ุชุฎูู
“Yang lebih buruk dari itu adalah tradisi di sebagian daerah berupa shalat 5 waktu di jumat ini (jumat akhir Ramadhan) selepas menjalankan shalat jumat, mereka meyakini shalat tersebut dapat melebur dosa shalat-shalat yang ditinggalkan selama setahun atau bahkan semasa hidup, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz.2, halaman 457)
Namun saya tidak pernah menyalahkan para ulama dari kalangan Habaib yang melakukan shalat tersebut dan terhindar dari niat yang dilarang oleh Imam Ibnu Hajar.