09 Jun 2019 · 1.157 dibaca · Kolom
LADUNI.ID - Imam al-Qurthubi dalam pengantar kitab tafsirnya menjelaskan dua corak penafsiran al-Qur’an yang harus dihindari.
Pertama, menafsirkan sesuai dengan keinginannya sendiri.
وإنما النهي يحمل على أحد وجهين: أحدهما أن يكون له في الشيء رأي، وإليه ميل من طبعه وهواه، فيتأول القرآن على وفق رأيه وهواه، ليحتج على تصحيح غرضه، ولو لم يكن له ذلك الرأي والهوى لكان لا يلوح له من القرآن ذلك المعنى.
Sebelum memberi tafsiran, mereka sudah punya opini sendiri. Lantas berdasarkan opini tersebut mereka membuka al-Qur’an dan menafsirkannya sesuai dengan opini yang telah terbentuk sebelumnya. Ini namanya memaksa tafsiran al-Qur’an agar cocok dan sesuai keinginannya sendiri. Ini berbahaya.
Dengan kata lain, bukannya menjadikan al-Qur’an sebagai sumber inspirasi, yang bersangkutan malah mencari-cari justifikasi pemahamannya sendiri lewat ayat al-Qur’an. Lantas kemudian dia mengklaim bahwa pendapatnya itu seolah-olah cocok dengan al-Qur’an.
Ini bisa kita lihat dari gaya ‘cocokologi’ yang m
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+