Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Khazanah · Ulama · Hukum Berdiri Saat Pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW
✓ Terverifikasi Tim Riset

Hukum Berdiri Saat Pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW

13.231 kali dibaca · Amaliyah dari Ulama

🕸 Buka Silsilah
Ringkasan Laduni AI

Menurut Keputusan Muktamar NU ke 5 Tahun 1930 di Pekalongan, berdiri ketika berzanjen atau diba’an hukumnya sunnah, ia termasuk ‘Uruf Syar’i.

Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumber

Riwayat Singkat

LADUNI.ID, Bagaimana hukumnya berdiri pada waktu membaca Maulud Nabi SAW? Apakah hal itu telah menjadi adat kebiasaan yang ditetapkan oleh syara’ (‘uruf syar’i), sehingga pelaksanaannya tidak berbeda-beda di segala tempat atau merupakan adat kebiasaan setempat (‘uruf ‘ahdi), hingga masing-masing tempat mempunyai cara sendiri-sendiri? manakah yang lebih utama, berdiri atau duduk pada waktu membaca maulud Nabi SAW bagi bangsa Indonesia yang mempunyai tradisi duduk sambil menyembah (kedua tangan diletakkan di muka hidung) pada waktu menghormati orang-orang terhormat?

Kalau kita melihat lirik syair maupun prosa yang terdapat di dalam kitab Al-Barzanji, seratus persen isinya memuat biografi, sejarah hidup dan kehidupan Rasulullah SAW. Demikian pula yang ada di dalam kitab Diba’ dan Burdah. Tiga kitab ini yang berlaku di kalangan orang-orang NU dalam melakukan ritual Mauludiyah, atau menyambut kelahiran Rasulullah SAW. Ada juga khusus puji-pujian untuk Sulthanul Auliya’ Syaikh Abdul Qadir al-Jilany, yakni Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany.

Di dalam praktiknya, Al-Barzanji, Al-Diba’i, Kasidah Burdah, dan Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany sering dibaca ketika ada hajat anak lahir, menantu, khitanan, tingkeban, dan lain-lain. Tujuannya tidak lain yakni mohon berkah Rasulullah SAW agar terkabul semua yang dihajatkan. Umumnya acara berzanji, diba’an, burdahan, manaqiban, dilakukan pada malam hari habis shalat Isya’, akan tetapi banyak juga warga NU yang mempunyai tradisi di lakukan di sore hari habis shalat Ashar. Dan bahkan ada di sebagian daerah yang melakukan berjanjen di siang bolong habis Zhuhur.

Sudah ratusan tahun kitab-kitab itu dipakai. Rupanya belum ada yang menggeser lewat keindahan kalimat-kalimat yang disusun pengarangnya sampai sekarang. Bagi yang faham bahasa Arab, tentu untaian kata-katanya sangat memukau. Umumnya mereka terkesima dengan sifat-sifat Rasulullah SAW yang memang sulit ditiru, menarik, dan mengharukan. Mungkin bagi yang tidak faham bahasa Arab, menjadi problem, dan tidak merasakan enaknya lantunan yang didengar. Tak beda bagi yang suka “mocopatan”, dapat memahami bahkan menghayatinya,  tentu sangat-sangat menambatkan hatinya. Ketika dia sedang asyik-asyiknya dipanggil pun tak dengar, malah mungkin dicubit pun tidak terasa, ya kan? Itulah gambaran orang yang “mabuk”, apalagi mabuk cinta kepada Rasulullah. Sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.

Di tengah acara Diba’an atau Berzanjen, ada ritual berdiri. “Srakalan”, orang Jawa menyebutnya, dari kalimat “Asyraqal Badru ‘Alaina” dimana kalau sudah sampai di situ hadirin di mohon berdiri. Berdiri karena kehadiran Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah majelis. Ada yang menyebutnya sebagai “Marhabanan” dari kalimat “Marhaban” yang artinya “Selamat Datang” atas kehadiran Nabi kita.

Menurut Keputusan Muktamar NU ke 5 Tahun 1930 di Pekalongan, berdiri ketika berzanjen atau diba’an hukumnya sunnah, ia termasuk ‘Uruf Syar’i. Dalil yang dipakai, pertama:

قَدْ وُرِدَ فِيْ الْأَثَرِ عَنْ سَيِّدِنَا البَشَرِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ وَرَّخَ مُؤْمِناً فَكَأَنَّماَ اَحْيَاهُ، وَمَنْ قَرَأَ تَارِيْخَهُ فَكَأَنَّماَ زَارَهُ ، فَقَدِ اسْتَوْجَبَ رِضْوَانَ اللهِ فِيْ حُرُوْرِ الْجَنَّةِ

Tersebut dalam sebuah Atsar Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang membuat sejarah orang mukmin (yang sudah meninggal) sama artinya menghidupkan kembali, siapa yang membacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang mengunjunginya. Siapa yang mengunjunginya, Allah akan memberinya surga. (Bughyat Al-Mustarsyidin, hal 97)

Dalil kedua :

قَالَ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فَتَفَرَّقُوا عَنْ غَيْرِ ذِكْرِ اللهِ  إِلَّا كَأَنَّماَ تَفَرَّقُو

Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.

Jadilah anggota Laduni+

Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+