04 Jul 2019 ยท 1.793 dibaca · Ringan Riuh
LADUNI.ID - Pertanyaannya adalah apakah dengan menjalani keduanya (hapal dan nalar) akan menghasilkan keunggulan dan kemampuan yang sama?.
Ini pertanyaan yang konon pernah dibahas para ulama zaman klasik. Mungkin menarik pandangan Al-Jahiz, Abu Utsman Amr, (w. 868 M), sastrawan dan teolog Mutazilah terkemuka. Dia menulis dalam bukunya yang terkenal : "Rasail Jahizh" :
ู ุชู ุงุฏุงู ุงูุญูุธ ุงุถุฑ ุฐูู ุจุงูุงุณุชูุจุงุท ูู ุชู ุงุฏุงู ุงูุงุณุชูุจุงุท ุงุถุฑ ุฐูู ุจุงูุญูุธ
"menekankan kebiasaan menghapal bisa mengurangi kemampuan menganalisis, dan kebiasaan menganalisis bisa mengurangi kemampuan menghapal". (Rasail al-Jahizh).
Pernyataan al-Jahizh di atas mungkin dapat berarti bahwa orang yang banyak menghapal atau kuat hapalannya, pada umumnya kurang cerdas atau tidak cukup mampu berpikir rasional. Dan orang yang banyak berpikir atau seorang rasionalis pada umumnya tidak banyak hapalan atau hapalannya lemah.
Tetapi boleh jadi ada orang yang dianugerahi keduanya dalam porsi yang sama: kuat dalam hapalan sekaligus cerdas. Sejumlah ulama dahulu a
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan โ tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+