08 Jul 2019 · 2.495 dibaca · Tekno & Disruption
LADUNI.ID, Jakarta - Open source sebetulnya bukan hal asing di Indonesia. Sudah ada jauh sebelum penulis mengenalnya sekitar 2002 saat bergabung sebagai seorang technical support di departemen IT sebuah perusahaan swasta nasional. Saat itu penulis mengenalnya dari sebuah majalah yang khusus membahas Linux, sebuah operating system selain Microsoft Windows ataupun Mac. Tak lama kemudian, penulis mencicipi open source dengan menginstal Linux Mandrake, sebuah distribusi Linux turunan dari Linux Redhat. Mencicipi kuliner distro Linux menjadi kebiasaan yang terus berlanjut hingga saat ini, meskipun ada dua distro yang tetap digunakan, Linux Redhat dan Debian yang digunakan sebagai server di kantor.
Open source makin populer dan jadi topik perbincangan hangat diantara pengguna komputer pribadi, perusahaan sampai pemerintahan saat Microsoft dengan Business Software Alliance (BSA) –nya menekan pengguna komputer yang menggunakan Windows dan software berbayar bajakan untuk membeli secara leg
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+