Laduni.idLaduni.idLayanan Dunia Islam✦ Laduni+Masuk
Beranda · Tuntunan Ibadah · Kolom

Ketika Kebodohan dan Kemiskinan Ditutupi Kepalsuan

13 Jul 2019 · 3.945 dibaca · Kolom

Laduni.ID, Jakarta - Menjadi orang bodoh sebenarnya bukanlah aib. Sama dengan menjadi orang miskin, menjadi orang bodoh kadang kala adalah bagian dari skenario takdir yang tak terhindarkan meskipun sudah berusaha dihindari. Karena itulah, agama melarang mencela atau meremehkan orang miskin dan orang bodoh. Kalau sudah batas kemampuannya di situ, apa mau dikata?

Yang tercela adalah tindakan malas apabila ada. Bila tak malas tetapi sudah takdirnya begitu, maka tak ada masalah sama sekali. Memang ada yang ditakdirkan menjadi guru dan ada yang ditakdirkan jadi murid. Ada yang ditakdirkan jadi juragan dan ada yang ditakdirkan jadi pekerja. Semuanya adalah posisi baik dan tak ada yang tercela, sebab saling melengkapi.

Karena itu, mengaku sebagai orang bodoh atau orang miskin bukanlah tindakan tercela, justru itu tindakan tawadhu yang terpuji. Yang malah tercela apabila sebenarnya bodoh tetapi mengaku pintar atau miskin tetapi mengaku kaya.

Namun, tak semua orang mampu berlapang dada dengan kondisi miskin atau bodohnya. Penyakit riya' (ingin dipuji)

🔒
Lanjutkan membaca dengan Laduni+

Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

Lihat Paket Laduni+
← Kembali ke Tuntunan Baca di situs utama →