Nama lengkapnya Tgk. H. Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad, di lahirkan di desa Tanjong Bungong, Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya (sebelumnya Kabupaten Pidie) pada 7 Muharram 1359 H. atau akhir tahun 1940 M. Ulama ahli ilmu falak (astronomi) ini menceritakan, orang tuanya berasal dari Panteue Brueh, Tanah Luas Aceh Utara,
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Tgk. H. Abdullah Tanjong Bungong
Kelahiran
Tgk. H. Abdullah atau yang kerap disapa dengan Tgk. H. Abdullah Tanjong Bungong lahir pada 7 Muharram 1359 H. atau akhir tahun 1940 M, di Desa Tanjong Bungong, Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya (sebelumnya Kabupaten Pidie). Beliau merupakan putra Tgk. H. Ibrahim bin Muhammad
Orang tuanya berasal dari Panteue Brueh, Tanah Luas Aceh Utara, yang kemudian kawin ke Ulee Gle dan mendirikan dayah Tanjong Bungong di Ulee Gle Kecamatan Bandar Dua.
Pendidikan
Tgk. H. Abdullah memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada orang tuanya di dayah Tanjong Bungong pimpinan ayahnya. Tahun 1946, beliau masuk pendidikan formal pada sekolah SRI. Mejelang tahun 1950 masuk sekolah SR di Ulee Gle, dan lulus tahun 1953.
Kemudian melanjutkan pendidikan agamanya ke dayah Gampong Muelum Samalanga. Dua tahun belajar di dayah ini, orang tuanya Tgk. Ibrahim meninggal dunia tahun 1955. Tak lama setelah itu, Tgk. Abdullah meneruskan pendidikannya ke pesantren Madinatul Ma’arif Aron Lhokseumawe pimpinan seorang ulama besar Tgk. Syafi’i. Tgk. Syafi’i ini adalah menantu dari Tgk. Hasan Kumbang (kakek dari Tgk. Muhammad Dewi) salah seorang ulama kharismatik Aceh ketika itu.
Kurang lebih satu tahun di pesantren Madinatul Ma’arifkarena situasi kurang memungkinkan maka Tgk. Abdullah pidah belajar ke Panteue Brueh pada dayah Bustanul Huda pimpinan Abdul Rani yang lebih dikenal dengan sebutan Tgk. Di Aceh.
Selama dua tahun di dayah ini, juga karena situasi keamaan di Aceh masih belum stabil, maka Tgk. Abdullah yang haus ilmu ini meninggalkan dayah Bustanul Huda Panteue Brueh pidah ke dayah Tgk. Abdullah Hanafi Tanoh Mirah, yang waktu itu dayah tersebut baru dibuka.
Mengasuh Dayah Tanjong Bungong
Menjelang akhir tahun 1959 Tgk. Abdullah kembali ke Ulee Gle dan membantu pengajian pada dayah yang ditinggalkan orang tuanya yaitu dayah Tanjong Bungong, hingga tahun 1971 dayah tersebut diteruskan pimpinannya oleh Tgk. Abdullah hingga sekarang ini.
Selain mengurus dayah Tanjong Bungong, Tgk. Abdullah juga aktif dalam organisasi Alwasliyah (sebuah organisasi Islam beraliran Syafi’iyah) yang didirikan oleh Tgk. Abulhamid (Abu Uteun Bayu) di Kecamatan Bandar Dua Pidie pada awal tahun 1970-an.
Alwasliah ini termasuk organisasi Islam yang sangat berperan di Pidie, khususnya di Kecamatan Banda Dua mendidik kader-kader ulama Syafi’iyah dalam memantapkan Islam Ahlusunnah Waljamaah dalam masyarakat Bandar Dua. Tgk. H. Abdullah termasuk salah satu dari pengurus Alwasliyah ini serkaligus sebagai guru dalam Alwasliyah ini.
Sedangkan dalam Partai Politik, Tgk. Abdullah juga mengaku keterlibatannya, tapi tidak dalam bentuk praktis. Kerana beliau lebih banyak menghabiskan waktunya dalam persoalan ummat. Karena itu, Tgk. Abdullah sempat penjadi pengurus Majlis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Pidie selama 2 periode, yang kemudian dialihkan menjadi anggota pengurus MPU Pidie Jaya. Dan kemudian menjadi salah seorang anggota pengurus MPU Provinsi Aceh.
Ahli Falak
Diantara ulama lainnya di Aceh saat ini, Tgk. H. Abdullah termasuk satu-satunya ulama yang menguasai ilmu falak (astronomi) secara mendalam. Sehingga banyak ulama lain di Aceh harus merujuk pada Tgk. Abdullah Tanjong Bungong ini. Baik dalam menentukan arah kiblat maupun dalam hal menentu
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

